Kronika
Minggu Tenang
Minggu tenang harus diwarnai dengan suasana yang damai, mawas diri dan berfikir panjang agar tak salah dalam melaksanakan kewajiban 17 April mendatang
Oleh: Pramono BS
BANJARMASINPOST.CO.ID - HIRUK pikuk kampanye sudah selesai. Mulai dari capres, cawapres sampai caleg semua sudah menunjukkan jati dirinya. Harus diakui kampanya capres/cawapres adalah yang paling heboh, menarik perhatian massa sampai pembuat hoaks.
Baik pasangan capres/cawapres nomor urut 01 maupun 02 sudah menjelajah negeri, menyampaikan program. Prabowo berapi-api mengritik pemerintah, Jokowi dengan kalem membalas lewat hasil karya selama menjabat. Prabowo selalu tampil dengan nada tinggi, sampai menggebrak-gebrak podium, Jokowi membalas dengan datar saja.
Kalau dikalkulasi cukup seimbang, pengerahan massa hari terakhir kampanye Jokowi yang memutihkan Stadion Utama Gelora Bung Karno, seolah menjawab tantangan Prabowo pada beberapa hari sebelumnya di tempat yang sama yang menampakkan pemandangan serbaputih oleh sorban para pendukungnya.
Bedanya, Prabowo melakukannya sejak subuh dan Jokowi bakda dhuhur.
Pendeknya cukup seimbang, panitia cukup adil memberi kesempatan yang sama pada ke dua pihak.
Lantas siapa kira-kra yang bakal menang. Kalau hasil survei masih memenangkan Jokowi/Ma'ruf tapi ini bukan ukuran. Yang bakal jadi tentunya yang memang pantas menjadi pemimpin. Dari kedua calon sudah bisa dibayangkan bakal seperti apa mereka mengendalikan republik ini seandainya menang.
Kecuali dari sikap yang bersangkutan, para pendukung seperti parpol maupun ormas tentunya akan ikut mewarnai dalam pengambilan keputusan. Jadi apa warna pemerintahannya bisa dibayangkan. Sebagai bangsa kita harus menjaga keutuhan NKRI dengan Pancasilanya. Ideologi di luar itu harus dibuang jauh-jauh.
Kalau Jokowi yang menang sepertinya tidak akan banyak perubahan kecuali pada penekanan program setelah pada periode sebelumnya menggenjot infrastruktur habis-habisan. Kalau Prabowo yang menang, sesuai dengan kampanyenya, dia menjanjikan banyak perubahan. Seperti akan menurunkan harga barang kebutuhan pokok dalam 100 hari pertama khususnya daging. Tarif listrik bahkan akan turun 20 persen sebelum 100 hari kerja.
Masih banyak lagi, seperti Indonesia tidak akan impor pangan lagi, bakal adil makmur, tidak ada korupsi dan lain-lain janji manis. Calon-calon menterinya juga sudah disiapkan.
***
Rakyat sudah cukup mendapat gambaran. Terakhir lewat debat ke lima semalam. Bagi mereka yang merindukan ketegasan, pilihannya tentu Prabowo. Ia bisa mewarisi ketegasan mertuanya, Soeharto, selama memimpin negeri ini yang selalu bertindak tegas. Bagi mereka yang menginginkan suasana adem yah... tentu Jokowi pilihannya. Yang tegas atau kalem sama-sama punya keunggulan. Yang penting kendati kalem tapi tegas dalam mengambil keputusan. Buktinya infrastruktur yang masif selama 4 tahun ini lahir dari instruksi yang dingin.
Kendati kampanye sudah selesai bukan berarti kegiatan "kampanye" sudah berakhir. Media sosial akan menjadi alat terbaik untuk memengaruhi calon pemilih. Belum lagi serangan dari pintu ke pintu yang sering disebut serangan fajar, yaitu praktek politik uang kepada calon pemilih. Ini masih akan masif, terbukti ada seorang caleg yang tertangkap tangan KPK menyiapkan 400.000 amplop berisi uang untuk disebar. Padahal ada ribuan caleg.
Pemilu 2019 ini lain dari yang lalu-lalu. Kekerasan selalu membayangi, ini tercermin dari sikap keras salah satu capres yang sering tidak bisa meguasai diri. Banyaknya hoax juga membuktikan adanya upaya untuk memenangkan salah satu calon.
Tahun ini antusiasme rakyat untuk memilih juga tinggi, buktinya banyak pelajar, pegawai, pedagang dan rakyat biasa yang pulang kampung untuk nyoblos karena KPU sudah menutup kesempatan untuk pindah nyoblos bagi pendatang terlambat mengurus. Mereka seperti tidak ingin suaranya hilang begitu saja.
Rakyat bependidikan di kampung-kampung harus siap untuk mendampingi rakyat buta hukum agar terhindar dari serangan fajar yang membabi buta itu. Ini juga bagian dari pendidikan politik.
Minggu tenang harus diwarnai dengan suasana yang damai, mawas diri dan berfikir panjang agar tidak salah dalam melaksanakan kewajiban 17 April mendatang. Lima tahun ke depan akan ditentukan dari bilik suara tanggal 17 April mendatang.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/video-live-streaming-debat-kelima.jpg)