Mereka Bicara

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Hardiknas dalam Pusaran Sejarah

Siapa sebenarnya tokoh dibalik Hardiknas di tanah air, terlepas dari penetapan yang secara administratif sudah dilakukan pemerintah.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Hardiknas dalam Pusaran Sejarah
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Gebyar Hardiknas dihadiri Irjen Kemendikbud 

Taman Siswa didirikan untuk mengenalkan pendidikan kepada masyarakat Indonesia agar menjadi bangsa yang melek pendidikan dan bisa segera merdeka. Perguruan Taman Siswa berkembang hingga terbentuk Taman Indriya sebagai sekolah untuk Taman Kanak kanak dan Perguruan Tinggi Sarjanawiyata Taman Siswa.

Banyak sekolah ini yang sampai sekarang secara formal masih berdiri namun seolah mati suri karena kalah dengan pendidikan yang dikelola dengan berbagai fasilitas mutakhir. Ki Hadjar Dewantara termasuk pelopor atau pendirinya, bersama dengan teman temannya mengadakan pertemuan di halaman rumahnya. Halaman rumah itu kini menjadi pendopo Taman Siswa di Yogyakarta.

Ada tiga filosofi yang menjadi dasar dunia pendidikan hingga saat ini. Ketiganya yaitu, pertama; ing ngarso sung tulodo (di depan menjadi contoh) kedua; ing madyo mangun karso (di tengah memberi motivasi) dan ketiga, adalah “Tut Wuri Hadayani” yang memiliki arti “di Belakang Memberikan Dorongan”. Makna dari kalimat ini dijadikan motto dan slogan pendidikan serta menjadi landasan dalam rangka memajukan pendidikan di tanah air hingga saat ini.

Ki Hadjar Dewantara wafat pada usia 70 tahun, tepatnya pada tanggal 26 April 1959. Dengan jasa yang dinilai sedemikian besar beserta usaha kerja keras dan jasanya dalam rangka merintis pendidikan di tanah air dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Secara administratif penetapan ini didasarkan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, pada Tanggal 28 November 1959, dan hari kelahirannya ditetapkan dan dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia.

Guru, yang Digugu dan Ditiru
Makna dibalik penetapan hari Pendidikan Nasional ini adalah sebuah motivasi agung untuk generasi bangsa Indonesia. Agar setiap insan Indonesia menempuh pendidikan dan mengenyam berbagai fasilitas yang ada untuk menempuh pendidikan setinggi tingginya. Mengutip pidato presiden Soekarno saat itu, dengan mottonya; “gantungkan cita citamu setinggi langit”.

Ilmu yang secara fisik saat itu dan juga sampai saat ini direfleksikan dengan membaca, difilosofikan dengan adagium bahwa ilmu, membaca, dan yang dibaca adalah buku merupakan jendela dunia. Dengan ilmu manusia bisa menguasai dunia dan mengalahkan diri sendiri. Dengan ilmu, manusia bisa meningkatkan kualitas diri dan mempunyai derajat yang lebih tinggi dalam kehidupan dunia fana ini.

Meskipun untuk itu Guru khususnya (selain Dosen) harus ekstra kerja keras sebagai Profesional mendidik peserta didiknya, agar dalam perjalanan hidupnya dapat menjadi manusia yang sesungguhnya; berhasil menggapai cita citanya. Cita cita yang melampaui profesi Gurunya, hingga berguna bagi agama, keluarga, bangsa dan negaranya. Bukankah pepatah lama yang telah surut dan sarat makna berkata; kalau guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Dengan memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei ini, yang tahun ini kali ke 60, terus digelorakan semangat untuk terus menggali (bukan menuntut) ilmu semampu dan sekuat tenaga. Menggali ilmu tak kenal waktu dan tak pandang usia. Filosofinya adalah bahwa semua orang di luar diri kita adalah guru, dan semua tempat di luar tempat kita adalah sekolahan. Sekolah tempat manusia berguru dalam kehidupannya. Selamat memperingati Hardiknas. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved