Mereka Bicara

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Hardiknas dalam Pusaran Sejarah

Siapa sebenarnya tokoh dibalik Hardiknas di tanah air, terlepas dari penetapan yang secara administratif sudah dilakukan pemerintah.

Editor: Didik Triomarsidi
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Gebyar Hardiknas dihadiri Irjen Kemendikbud 

Ilmu yang secara fisik saat itu dan juga sampai saat ini direfleksikan dengan membaca, difilosofikan dengan adagium bahwa ilmu, membaca, dan yang dibaca adalah buku merupakan jendela dunia. Dengan ilmu manusia bisa menguasai dunia dan mengalahkan diri sendiri. Dengan ilmu, manusia bisa meningkatkan kualitas diri dan mempunyai derajat yang lebih tinggi dalam kehidupan dunia fana ini.

Meskipun untuk itu Guru khususnya (selain Dosen) harus ekstra kerja keras sebagai Profesional mendidik peserta didiknya, agar dalam perjalanan hidupnya dapat menjadi manusia yang sesungguhnya; berhasil menggapai cita citanya. Cita cita yang melampaui profesi Gurunya, hingga berguna bagi agama, keluarga, bangsa dan negaranya. Bukankah pepatah lama yang telah surut dan sarat makna berkata; kalau guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Dengan memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei ini, yang tahun ini kali ke 60, terus digelorakan semangat untuk terus menggali (bukan menuntut) ilmu semampu dan sekuat tenaga. Menggali ilmu tak kenal waktu dan tak pandang usia. Filosofinya adalah bahwa semua orang di luar diri kita adalah guru, dan semua tempat di luar tempat kita adalah sekolahan. Sekolah tempat manusia berguru dalam kehidupannya. Selamat memperingati Hardiknas. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved