Jendela
Bulan Harapan
Akankah Ramadan kali ini membuat kita kembali ke jalur yang benar, di mana nafsu dikendalikan oleh ruh dalam cahaya iman dan amal kebaikan?
BANJARMASINPOST.CO.ID - BULAN Ramadan kembali menyapa kita, seiring usia yang menua. Tidak sedikit teman, saudara dan tetangga kita yang tahun lalu sama-sama berpuasa, kini telah meninggalkan kita.
Dilihat dari bumi, bulan itu bundar dan berubah, dari tiada, lalu berbentuk sabit, kemudian purnama, akhirnya lenyap, kemudian muncul lagi bulan sabit. Bulan adalah cermin kehidupan.
Kita hidup dalam kekang waktu. Waktu ditentukan berdasarkan gerak bumi, bulan dan matahari. Waktu itu memanjang dan melingkar. Waktu itu melingkar dalam arti ada perputaran dan pengulangan. Hari ini Senin, minggu depan Senin lagi. Bulan ini Ramadan, tahun depan Ramadan lagi.
Tetapi waktu juga memanjang. Hari ini bayi, tahun depan balita, terus menjadi anak-anak, remaja, dewasa hingga manula.
Bulan yang menjadi acuan penanggalan adalah simbol bagi perubahan dan harapan. Hidup selalu ditandai oleh perubahan. Tidak semua perubahan menyenangkan. Dari ada menjadi tiada akan menimbulkan rasa kehilangan.
Tetapi kesadaran bahwa setelah tiada akan disusul ada, setelah langit gelap tiga malam tanpa bulan akan muncul bulan sabit, membuat orang kembali berpengharapan.
Harapan itu ada karena adanya keteraturan. Orang Yunani menyebut alam ini cosmos, suatu keteraturan dan lawannya adalah chaos, kekacauan. Dalam bahasa Arab, kata alam tidak hanya berarti semua yang ada, melainkan juga seakar dengan kata ‘alâmah yang berarti alamat, tanda dan bukti. Keteraturan dan keindahan alam adalah alamat, tanda dan bukti keagungan serta kehadiran Sang Pencipta.
Kesadaran tentang keteraturan itulah yang harus menjadi penuntun hidup manusia. Setiap yang lahir dan hidup, suatu hari nanti pasti akan mati.
Seperti lingkaran, ketika dimulai dari satu titik, kita akan kembali ke titik semula. Namun, kita tidak akan kembali ke titik awal tanpa proses perjalanan. Garis perjalanan itulah waktu hidup kita yang memanjang, yang harus kita isi dan jalani sebaik-baiknya.
Berbeda dengan alam, manusia diberi kebebasan memilih untuk mengikuti atau melawan keteraturan. Manusia bisa melawan hukum alam hingga membunuh dirinya sendiri. Manusia bisa melawan hukum moral hingga membuatnya menderita lahir-batin. Manusia yang melawan keteraturan adalah manusia yang melampaui batas. Seolah dia bisa keluar dari batas lingkaran dan tidak akan kembali ke titik awal.
Ramadan kembali datang, mengingatkan kita akan lingkaran itu dan titik pusat lingkaran. Hawa nafsu sering membuat manusia melampaui batas. Seolah dia akan hidup selamanya. Seolah kekuasaan dan kekayaan akan terus dalam genggamannya.
Tidak! Hari ini Ramadan datang, sebagaimana dulu dia datang. Suatu hari kelak dia takkan lagi menyapamu karena lingkaran hidupmu telah berakhir.
Siapakah yang mengawali dan mengakhiri lingkaran hidupmu? Dia-lah Sang Pencipta, yang seharusnya menjadi pusat, arah dan tujuan hidup kita. Dia-lah titik tengah lingkaran, seperti Ka’bah yang dikelilingi orang tawaf. Ketika kita lupa akan pusat hidup itu, kita akan semakin menjauh di pinggiran.
Kita akhirnya melampaui batas. Hidup sekadar memuaskan nafsu belaka. Kita hanya senang tetapi tidak bahagia.
Ramadan kembali datang, setelah 11 bulan meninggalkan kita. Inilah kesempatan emas untuk membina diri dalam keteraturan yang membahagiakan. Kita hidup di era serba berlebihan. Konsumsi berlebihan serta nafsu kuasa dan harta yang tak terkendali.
Akankah Ramadan kali ini membuat kita kembali ke jalur yang benar, di mana nafsu dikendalikan oleh ruh dalam cahaya iman dan amal kebaikan?
Alhasil, penampakan bulan yang berubah secara teratur adalah pelajaran tentang kegagalan dan keberhasilan, perjuangan dan harapan. Ramadan adalah harapan besar bagi kaum beriman untuk meraih pengampunan dan kedekatan kepada-Nya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/profesor-dr-h-mujiburrahman-ma-rektor-uin-antasari.jpg)