Suara Rekan

Awas Teroris

DI tengah suasana yang panas ini Polri menangkap sejumlah terduga teroris yang akan melakukan aksinya pada saat pengumuman hasil penghitungan suara

Awas Teroris
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI tengah suasana yang panas ini Polri menangkap sejumlah terduga teroris yang akan melakukan aksinya pada saat pengumuman hasil penghitungan suara pemilu/pilpres 22 Mei 2019. Penangkapan ini terjadi di tengah suasana hiruk pikuk politik yang makin memanas.

Baru saja calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menegaskan sikapnya, tidak akan mengakui hasil penghitungan KPU. Alasannya sudah sering diucapkan baik oleh Prabowo maupun pendukungnya, terdapat kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif. Bahkan sudah sering dimintakan ke KPU agar sistem informasi penghitungan suara (situng) yang selama ini dibuka untuk umum dihentikan karena bisa memengaruhi pendapat masyarakat.

Padahal situng tidak punya kekuatan apa pun untuk menetapkan pemenangnya. Situng justru memberi akses kepada masyarakat agar ikut mengawal penghitungan manual berjanjang yang menjadi acuan resmi KPU. Jadi rakyat diberi kesempatan mengawasi. Kesalahan di situng tidak berpengaruh terhadap hasil hitung manual.

Toh kelompok Prabowo tetap minta situng dihentikan. Hasil situng memang menunjukkan keunggulan Jokowi/Ma’ruf, sehingga lebih berpengraruh secara psikologis terhadap pasangan 02 yang kelihatan sudah demikian yakin aka menjadi presiden.

Tidak hanya Prabowo, mantan istrinya, Titiek Hediati Soeharto juga menyatakan akan mengajukan keberatan terhadap hasil penghitungan KPU melalui jalur hukum seperti Mahkamah Konstitusi. Tapi akan melalui jalanan. Apakah dia terinspirasi dengan jatuhnya sang ayah Presiden Soeharto yang didesak mundur mahasiswa, atau menganggap lewat jalanan itu lebih mudah, entahlah.

Adalah Amien Rais yang saat kejatuhan Soeharto berperan besar sehingga dijuluki tokoh reformasi. Sekarang dia ganti berperan besar untuk memenangkan menantu Soeharto, bahkan akan menggerakkan masyarakat jika KPU curang. Apa arti curang? Apa kalau nanti ternyata Prabowo yang menang juga akan turun ke jalan (people power). Sekarang Amien Rais mengganti istilah people power dengan kedaulatan rakyat.

Tentu saja berbeda dengan tahun 1998. Saat itu rakyat dan mahasiswa bahu membahu untuk menurunkan Soeharto. Seluruh rakyat ibarat membara semangatnya untuk melngserkan Presiden saat itu. Tapi betapapun lengsernya tetap secara konstitusional, bukan seperti lengesernya Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang diturunkan lewat people power kemudian diasingkan ke luar negeri.

Sekarang mau melengserkan siapa? Sasarannya sekarang mungkin bukan melengserkan Jokowi sebagai presiden yang sah tapi menyingkirkan Jokowi sebagai capres yang hampir pasti memenangkan pilpres lagi. Tapi kedaulatan rakyat itu tetap dalam koridor hukum, sehingga tidak seharusnya menggunakan rakyat untuk melawan kedaulatan itu sendiri.

Pemerintah sudah berhitung matang untuk mengantisipasi perkembangan terakhir ini, khususnya bidang hukum agar tidak sampai keliru. Menter Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto merekrut 24 ahli hukum termasuk mantan Menteri Kehakiman Prof Muladi dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Tentunya pemerintah tak akan membiarkan semua tindakan di luyar hukum.

Kita harus bersyukur bahwa rayat di bawah tidak terpengaruh oleh teriakan-teriakan yang menentang hasil pilpres lewat KPU. Rakyat masih tenang saja, mereka sudah semakin dewasa. Yang ribut itu hanya di atas, itu pun ibarat pertandingan bola hanya dari tribun sebelah saja yang sudah ketinggalan gol.

Tapi memang harus diwaspadai karena suasana seperti ini sangat mudah disusupi oleh kepentingan lain. Contohnya Polri menggulung sejumlah terduga teroris yang akan mengacaukan suasana 22 Mei mendatang. Bayangkan seandainya mereka tidak terdeteks, situasi ini bisa saja menimbulkan banyak korban. Mungkin benar seruan Menko Polhukam Wiranto agar masyarakat menjauhi kantor KPU tanggal 22 Mei mendatang baik yang di Jakarta maupun daerah. Sisa-sisa teroris bisa saja membonceng situasi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved