Jendela

Semua Ingin Damai

Wacana para pendukungnya di ruang publik terus panas, dari soal tuduhan kecurangan hingga ancaman people power.

Semua Ingin Damai
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - TINGGAL dua hari lagi, KPU akan mengumumkan hasil penghitungan manual suara Pemilu 2019. Sebelum diumumkan, minggu lalu Tim Prabowo-Sandi sudah menyatakan menolak. Wacana para pendukungnya di ruang publik terus panas, dari soal tuduhan kecurangan hingga ancaman people power.

Sementara itu, menurut polisi, sejumlah orang telah ditangkap karena merencanakan teror bom pada 22 Mei nanti.

Akankah Pemilu 2019 membuat bangsa kita hancur berkeping-keping? Saya yakin tidak! Dalam berbagai kesempatan berbicara di forum internasional, saya cukup sering mendapat pertanyaan, mengapa Indonesia yang besar dan sangat beragam ini bisa terus bertahan, tidak terpecah belah? Jawaban saya: Karena masing-masing pihak mampu menahan diri. Jika tidak, Indonesia sejak dulu tidak pernah ada!

Bukanlah kebetulan jika slogan negara Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya keragaman dalam kesatuan. Di sini, titik tekan ada pada keragaman, baru kesatuan, bukan sebaliknya. Dalam situasi yang penuh keragaman, kesatuan hanya dapat diperoleh jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan berkompromi. Kalau main paksa, mau menang sendiri dan ekstrem, kesatuan itu mustahil terwujud.

Siapapun yang berpikir waras, tentu tidak ingin bangsa ini kacau balau dilanda perang saudara seperti di Suriah, Irak, Afghanistan dan lain-lain. Kita melaksanakan pemilu dalam sistem demokrasi karena ingin memilih pemimpin melalui proses yang damai tanpa kekerasan. Karena itu, sungguh aneh jika pemilu justru membuat kita terjerumus ke jurang konflik yang tajam dan membuka pintu bagi militerisme.

Saya teringat dengan Agustinus (354-430 M) dalam karyanya The City of God yang menyatakan bahwa damai adalah impian seluruh semesta. Damai lahir dari keteraturan, keseimbangan dan keadilan. Tubuh kita tidak akan damai jika kebutuhannya tidak terpenuhi seperti makan, minum, bergerak dan istirahat. Bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang, takkan ‘damai’ jika tidak bergerak sesuai jalurnya.

Setiap manusia dan bangsa, kata Agustinus, mengimpikan damai. Pada dasarnya, tidak ada manusia yang di hati nuraninya terdalam menginginkan perang. Bahkan, manusia berperang justru karena ingin mendapatkan damai. Ia ingin menaklukkan musuhnya agar setelah itu tercipta damai. “Mungkin saja ada damai tanpa perang, tetapi tidak akan ada perang tanpa damai dalam kadar tertentu,” katanya.

Dua abad setelah Agustinus, Islam juga menegaskan pentingnya damai bagi manusia dan alam semesta. Kata ‘Islâm’ sendiri, selain tunduk juga berarti menyelamatkan dan mendamaikan. Alam semesta ber-islam (tunduk) kepada Allah sehingga terciptalah keteraturan dan kedamaian. Surga disebut Alqur’an sebagai ‘rumah kedamaian’ (dâr al-salâm). Salah satu nama Allah adalah al-Salâm (Yang Maha Damai).

Dengan demikian, damai adalah prinsip, sedangkan perang adalah penyimpangan. Damai lahir dari keadilan, sedangkan kekacauan lahir dari kezaliman. Manusia pada dasarnya baik dan adil, sementara kejahatan dan kezaliman adalah penyimpangan dari dirinya yang suci. Karena itu, kedamaian yang lahir dari kezaliman adalah semu. Keadilan semu akan melahirkan kegalauan dan penderitaan lahir-batin.

Lantas, adakah kiranya keadilan yang sempurna di muka bumi ini? Para pemikir dunia dari abad ke abad mengatakan, tidak ada keadilan semacam itu karena kita hidup di dunia, bukan di surga. Karena itu pula, tidak ada damai sempurna di muka bumi. Sedamai apapun suatu bangsa, tentulah ada riak-riak konflik. Karena konflik tak bisa dihindari, maka tugas kita adalah menangani konflik itu dengan sebaik-baiknya.

Konflik menjadi masalah ketika kita menyikapinya secara berlebihan. Inilah yang disebut zalim. Lawan zalim adalah adil. Adil artinya meletakkan sesuatu sesuai tempat dan porsinya, memberikan hak sesuai haknya. Adil juga berarti di tengah, tidak berat ke kiri atau ke kanan. Adil itu sulit. Tetapi karena setiap orang merindukan damai, dan damai lahir dari adil, maka seharusnya yang sulit itu menjadi mudah.

Alhasil, karena semua kita ingin damai dan adil, maka perjuangkanlah damai dan adil itu secara damai dan adil pula! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved