Jendela

Puasa dan Keserakahan

Puasa bisa membuat kita terlatih mengendalikan keserakahan, tetapi bisa pula hanya menunda kesenangan sesaat untuk kelak ‘balas dendam’.

Puasa dan Keserakahan
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri(UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBUAH gambar beredar di medsos berjudul “Minuman Paling Disukai Selama Ramadhan” yaitu Teh Panas: 10 persen; Teh Manis: 10 persen; Te H R: 80 persen.

Meski bercanda, pesan yang disampaikan gambar ini mengingatkan kita pada paradoks Ramadan: puasa melatih kita menahan nafsu, tetapi pada saat yang sama, justru di bulan Ramadan ini konsumsi kita meningkat tajam.

Hari ini kita telah memasuki hari ke-22 Ramadan. Menurut para ulama, malam agung yang disebut “lailatul qadar”, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, biasanya terjadi di sepertiga terakhir ini. Karena itu, kaum Muslim dianjurkan untuk lebih banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Beribadah dalam arti memperbanyak salat, zikir, istighfar dan doa serta berbuat baik pada sesama.

Namun, dalam kenyataan, justru di sepuluh terakhir ini kecenderungannya terbalik. Jumlah jemaah salat tarawih semakin berkurang dan masjid makin lengang. Yang makin penuh adalah pasar dan mal, di mana orang sibuk membeli rupa-rupa ‘keperluan’ puasa dan lebaran. Begitu pula, restoran-restoran penuh dan harus dipesan terlebih dahulu, karena saking banyaknya orang yang ingin berbuka puasa di situ.

Apakah puasa kita sia-sia? Bisa ‘ya’, bisa ‘tidak’. Puasa adalah latihan mengendalikan nafsu, keinginan-keinginan rendah, agar bisa mencapai nilai hidup yang lebih tinggi. Makan-minum dan seks adalah kebutuhan manusia yang ditahan pemenuhannya dalam jangka waktu tertentu selama puasa. Puasa juga melatih kita menahan diri dari perbuatan dosa sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagai latihan, bekas atau pengaruh puasa pada tiap-tiap orang akan berbeda, tergantung niat dan kesungguhan masing-masing. Niat adalah pendorong dan arah dari suatu perbuatan. Tiap malam kita berniat puasa. Secara normatif, kita berpuasa karena Allah. Artinya karena menjalankan perintah-Nya, karena takut pada azab-Nya,karena mengharap ganjaran-Nya, atau mengharap reda dan cinta-Nya.

Puasa adalah latihan menderita sesaat demi kebaikan yang lebih besar. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Siapa pun yang berhasil menahan lapar-haus-seks hingga berbuka, berarti dia telah menjalani latihan menunda kesenangan. Kesenangan itu akan terasa berlipat ganda saat penundaan itu berakhir, yakni ketika waktu berbuka tiba.

Namun, jika penundaan kesenangan itu dipahami hanya dalam beberapa jam puasa, maka pengaruhnya atas diri seseorang sangatlah terbatas. Tujuan utama puasa bukan sekadar memberikan kepuasan hati saat berbuka dan kegembiraan saat lebaran, melainkan kebahagiaan sepanjang hayat. Dengan puasa kita diharapkan menjadi orang yang selalu dapat mengendalikan nafsu dan hidup dalam kebaikan.

Pada dasarnya, tidak ada keberhasilan yang dapat diraih manusia tanpa adanya sejenis asketisme. Jika Anda ingin lulus ujian, maka Anda harus belajar sungguh-sungguh. Anda tidak bisa santai dan main saja. Anda harus menunda kesenangan sesaat. Jika Anda seorang politisi dan ingin terpilih dalam pemilu, Anda harus mau bertemu masyarakat secara langsung meskipun menguras banyak tenaga dan biaya.

Namun, hidup di era ketika tingkat konsumsi menjadi ukuran kesejahteraan dan nafsu ingin memiliki betul-betul dimanjakan, sungguh berat kiranya melanjutkan kebiasaan menunda kesenangan itu untuk kebaikan yang lebih besar.

“Seandainya anak Adam diberi satu lembah dari emas, pastilah dia ingin lembah kedua, dan tak ada yang bisa menutup mulutnya kecuali tanah,” kata Nabi SAW.

Ya, keserakahan membuat hidup manusia amburadul. Keserakahan adalah wujud ketundukan manusia pada nafsu memiliki dan menguasai yang nyaris tanpa batas sehingga dapat menghancurkan dirinya dan orang lain.

Di sisi lain, keserakahan juga merupakan isyarat bahwa manusia tidak akan bisa puas dengan dunia yang terbatas ini. Manusia hanya akan damai dan puas dengan Dia Yang Maha Tak Terbatas.

Alhasil, puasa ternyata bukan sekadar Ramadan, melainkan pergumulan sepanjang hayat. Puasa bisa membuat kita terlatih mengendalikan keserakahan, tetapi bisa pula hanya menunda kesenangan sesaat untuk kelak ‘balas dendam’. Kita puasa dari sifat serakah atau justru membuat kita makin serakah? (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved