Jendela

Mudik Kemanusiaan

TAHUN 1998-2000, saya kuliah S-2 di McGill University, Kanada. Saya berpisah dengan anak isteri. Ketika lebaran tiba, ada sesuatu yang terasa kosong

Mudik Kemanusiaan
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - TAHUN 1998-2000, saya kuliah S-2 di McGill University, Kanada. Saya berpisah dengan anak isteri. Ketika lebaran tiba, ada sesuatu yang terasa kosong. Apalagi, kampus tidak libur. Pernah sekali kami salat Idul Fitri di aula kampus, yang diorganisir oleh Muslim Students Association. Entah mengapa, pelantun takbirannya hambar dan datar tanpa cengkok sedikit pun, membuat hati yang sepi tambah sepi.

Ketika saya kuliah S-3 di Belanda, 2001-2005, kerinduan pada keluarga itu tetap ada, meskipun anak dan isteri hadir menemani saya. Kami tetap rindu ayah-bunda dan saudara-saudara. Salat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah yang dikelola orang Indonesia, dan ramah tamah di rumah Dubes, membuat suasana lebih gembira. Tetapi, setelah pulang, kami tetap saja rindu kampung halaman. Kami pun segera menelpon!

Kadang-kadang, rindu pada kampung halaman itu terasa tidak hanya saat lebaran, melainkan di hari-hari biasa. Di tengah perjuangan menuntut ilmu dengan serbaneka suka-dukanya, muncul kerinduan akan kampung halaman. Maka sebagai pengobat rindu, kami pun menyanyikan lagu-lagu ‘kebangsaan’ yang dulu dihafal waktu di Sekolah Dasar seperti “Desaku yang Kucinta” dan “Indonesia Tanah Air Beta”.

Barangkali sikap saya di atas terlampau melankolis. Namun boleh jadi pula, apa yang saya rasakan itu juga dirasakan oleh jutaan manusia Indonesia yang rela bersusah-payah, menguras tenaga dan biaya, menempuh perjalanan jauh melalui angkasa, daratan hingga lautan. Ketika harga tiket pesawat kini makin melambung-melangit, orang pun rela memilih jalur darat atau laut saja. Yang penting mudik, titik!

Namun, apakah mudik sekadar wujud dari kerinduan pada keluarga? Tidak juga. Mungkin saja ada alasan ekonomi, sosial, budaya bahkan politik. Bagi kaum Sufi, yang suka menyelami samudera hati, mudik yang tampak sebagai rindu kepada keluarga itu sebenarnya merupakan pantulan dari kerinduan yang lebih dalam, yaitu kerinduan kepada asal-usul diri kita yang sejati. Kita rindu kembali pada Tuhan.

Hidup manusia memang berada dalam jaringan identitas sosial, budaya dan politik yang membuatnya terikat. Saya orang Banjar, warganegara Indonesia, beragama Islam, dari keluarga tertentu. Identitas adalah penanda lingkungan sosial dari mana kita berasal dan tempat kita berteduh serta melindungi diri. Karena setiap kita memiliki identitas berbeda, maka identitas adalah wujud nyata dari keragaman.

Keragaman membuat hidup kita bergairah, tetapi bisa pula memantik konflik. Karena itu, orang harus mampu keluar dari keragaman menuju titik temu. Wajar jika saya mencintai keluarga saya, tetapi saya tidak boleh berlaku zalim pada orang lain yang bukan keluarga saya. Jika saya berkuasa, saya tidak boleh nepotis, mengangkat seseorang menjadi pegawai atau pejabat semata karena dia keluarga saya.

Demikianlah, keragaman harus ditautkan dalam kesatuan yang lebih tinggi. Kaum Sufi menyebutnya sebagai hubungan antara Yang Satu (wahdah) dengan Yang Banyak (katsrah). Dalam terminologi Islam, kesatuan itu disebut ukhuwwah, persaudaraan. Ulama NU membaginya menjadi tiga: persaudaraan sesama Muslim, persaudaraan sesama warga negara, dan persaudaraan sesama umat manusia.

Bagi kaum Sufi, pada akhirnya, segala keragaman dan kebhinnekaan hidup ini kembali kepada satu Tuhan dan satu kemanusiaan. Seperti bagian terakhir puisi Prof. Jujun S. Suriasumanti yang berjudul “Harvard Square”: Sebab di mana pun kita betah, Di sanalah rumah kita. Di mana pun kita berumah, Kita tetap meminjak bumi yang sama. Dan di mana langit dijunjung. Di situ pulalah Tuhan berada.

Kita rindu ayah-bunda, sanak famili dan kampung halaman. Kita pulang, mudik dan bertemu mereka. Namun sesungguhnya kita tidak hanya bertemu mereka, melainkan juga menemukan kemanusiaan di dalam diri kita, dan kasih sayang Tuhan yang disalurkan-Nya melalui pertalian hati kita. Jika pun kita tak bisa pulang, kita tetap harus pulang menyelami diri kita, di mana Dia selalu hadir bersama kita.
Selamat Idul Fitri 1440 H, Maaf Lahir Batin! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved