Tajuk

Rasio Mudik

IDULFITRI 1440 H segera tiba. Insya Allah umat Islam khususnya di Indonesia merayakannya secara berbarengan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rasio Mudik
Banjarmasinpost.co.id/nurholis huda
Wagub Kalsel Rudy Resnawan menyapa penumpang mudik gratis Paman Birin Peduli ke Kabupaten kota, dari halaman BKD Kalsel, Kamis (30/5/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - IDULFITRI 1440 H segera tiba. Insya Allah umat Islam khususnya di Indonesia merayakannya secara berbarengan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah memutuskan Lebaran 2019 jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019 lusa.

Sementara pemerintah, juga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, akan mendasarkan pada hasil rukyatul hilal yang dilanjutkan Sidang Itsbat oleh Kementerian Agama pada hari ini. Awal Ramadan sudah dijalani secara bersamaan, harapannya “Hari Kemenangan” dapat pula dirayakan secara berbarengan.

Di Indonesia ada tradisi yang mengiringi tibanya Idulfitri. Ritual yang terus berlangsung, tak lekang oleh waktu dan tidak pula tersingkirkan oleh majunya peradaban. Mudik. Ya, tradisi pulang kampung menjadi warna yang selalu menghiasi dan memperindah Lebaran di negeri ini.

Kuatnya tradisi mudik juga dikarenakan kentalnya hubungan dengan ajaran agama.

Tujuan utama mudik adalah bersilaturahmi yang bukan sekadar bertemu, bertamu atau berkumpul. Silatu al rahim (silaturahim atau silaturahmi) mencakup banyak aspek hubungan yang dijiwai dan disemangati konsep rahim atau kasih sayang.

Pada era digital, silaturahmi bisa tanpa pertemuan fisik dan dilakukan dengan sangat mudah. Tinggal buka smartphone, aktifkan fitur voice call lalu saling bermaafan. Selesai.

Secara rasio dan situasi kondisi saat ini, mudik memang bisa dinilai sebagai aktivitas yang serba bahkan sangat merepotkan. Tak heran ada pula yang secara sinis, nyinyir, menyebut perjalanan mudik tidaklah selaras dengan akal sehat manusia.

Menurut mereka, memupus kerinduan dan silaturahmi tak perlu sampai mengorbankan waktu dan biaya besar.

Sah-sah saja ada yang berpendapat seperti itu. Akan tetapi di tengah canggihnya perangkat digital, bertemu secara fisik dan komunikasi secara langsung tetap memiliki kelebihan secara makna dan emosi.

Sebenarnya pula, selain faktor emosi, sebagian pemudik saat ini juga sudah memperhatikan faktor rasio. Mereka tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi.

Akhir-akhir ini kita melihat pula makin seriusnya pemerintah menyiapkan infrastruktur seperti fasilitas jalan dan sarana angkutan umum yang lebih baik, layak serta memadai.

Tradisi mudik bisa pula memberi efek ganda yang positif di usaha pelayanan jasa dan penjualan barang. Lapangan kerja yang sejenak ditinggalkan pemudik dapat dimaknai sebagai terbukanya peluang kerja bagi warga yang ditinggalkan.

Jadi, mari kita hargai, hormati, dan doakan siapapun yang tetap memilih mudik untuk bersilaturahmi secara langsung di hari raya. Sikap serupa juga kita lakukan pada siapapun yang memilih tidak bermudik karena berbagai alasan. Tentu, baik yang mudik maupun sebaliknya sudah memikirkannya secara matang.

Yang utama, selalulah berbahagia menyambut tibanya “Hari Kemenangan” serta silaturahmi dalam kebersamaan, kedamaian, dan kerukunan kita tetap terajut kuat. Tidak boleh tercabik oleh waktu, jarak dan perbedaan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved