Mereka Bicara

Memudikkan Kesucian

SECARA normatif Idulfitri merupakan rangkaian penutup dari ibadah puasa Ramadhan yang dilakukan kaum muslim selama satu bulan.

Memudikkan Kesucian
Instagram by_chantily
Idul Fitri 1440 H 

Oleh: DR Mutohharun Jinan Mag, Dosen Pascasarjana UMS Solo

BANJARMASINPOST.CO.ID - SECARA normatif Idulfitri merupakan rangkaian penutup dari ibadah puasa Ramadhan yang dilakukan kaum muslim selama satu bulan. Namun secara budaya rangkaian ibadah Ramadan masih akan berlanjut hingga bulan Syawal dengan beragam tradisi yang hidup.

Hal ini juga terkait dengan mudik, kebiasaan tahunan yang menjadi penciri khas Ramadan di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Sebagai rangkaian dari ibadah puasa, Idulfitri bukan saja kembali dibolehkannya makan dan minum, namun lebih dari itu adalah upaya pemaknaan dan pembuktian konsekuensial atas nilai puasa yang baru selesai ditunaikan.

Ibadah puasa dimaksudkan agar manusia mampu mengangkat harkat kemuliaannya yang azali, primordial, yakni berada dalam kesucian. Sesungguhnya, puasa merupakan sebuah proses ke arah tercapainya tujuan kesucian tersebut.

Hal yang mengindikasikan itu di antaranya adalah anjuran mengeluarkan zakat fitrah atau zakat individu bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Kewajiban membayar zakat fitrah dibagikan kepada fakir miskin.

Zakat fitrah, bagi pelakunya, menyucikan dan menyempurnakan ibadah puasanya yang mungkin saja ada kealpaan melakukan perbuatan sia-sia. Zakat fitrah yang harus dikerjakan sebelum Salat Id mengindikasikan ibadah puasa sebagai ibadah pribadi juga pada kenyataannya tidak bisa dipisahkan dari dimensi sosial, yakni menyantuni warga tidak berpunya dan tidak beruntung sebagai wujud kepedulian.

Idulfitri juga dapat dimaknai sebagai kembalinya semangat kepedulian dan kebersamaan. Seperti kepekaan sosial, empati terhadap penderitaan orang lain, keterlibatan aktif dalam aksi-aksi solidaritas meningkat.

Solidaritas sosial mustahil terbangun tanpa dilandasi sikap kerelaan untuk saling menghapus dendam dan menatap masa depan yang lebih positif. Inilah solidaritas organik, yakni suatu anyaman hidup bermasyarakat di mana hubungan antarindividu saling kenal, saling terkait, dan saling menyapa, serta penuh empati.

Suasana batin yang fitri terus dijaga dan dimanfaatkan secara maksimal, antara lain dengan mentradisikan saling bersilaturahmi dan bermaafan. Terkait tradisi silaturahmi, muncul gejala sosial yang amat mudah diamati beriringan Idulfitri, yaitu arus mudik.

Transportasi menjadi masalah utama menjelang dan sesudah Idulfitri. Berkenaan dengan fenomena mudik, sebenarnya untuk kembali menguatkan pertalian tradisional, dengan akar budayanya di kampung.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved