Jendela

Wajah Ganda Kebersamaan

Fenomena suka bersama-sama dan bareng ini sungguh menarik jika dikaitkan kehidupan modern yang semakin individualis dan politik yang makin liberal.

Wajah Ganda Kebersamaan
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

BANJARMASINPOST.CO,.ID - Orang Indonesia memang punya banyak acara. Selama Ramadan, selain puasa, tarawih dan tadarus, ada pula acara buka bersama dan pasar Ramadan. Menjelang akhir Ramadan, hingga beberapa hari setelah Idulfitri, acaranya adalah mudik. Setelah lebaran usai dan kembali bekerja, masih juga ada acara lain, yang disebut ‘Halal Bihalal’, sebuah istilah ‘Arab-Indonesia’ yang konon dibuat oleh Presiden Soekarno.

Kalau kita perhatikan berbagai kegiatan Ramadan hingga lebaran di atas, tampaklah betapa masyarakat Indonesia itu suka ngumpul-ngumpul, guyub dan mengelompok, yang secara teknis oleh para siosiolog disebut ‘kolektivis’. Fenomena suka bersama-sama dan bareng ini sungguh menarik jika dikaitkan dengan kehidupan modern yang semakin individualis dan politik kita yang makin liberal.

Secara hakiki, manusia itu seorang pribadi sekaligus anggota masyarakat. Tidak ada manusia yang lahir dan tumbuh sendirian. Manusia lahir dan tumbuh dalam keluarga dan masyarakat. Bahkan tokoh fiktif bernama Hayy Ibn Yaqzhan dalam roman filsafat Ibnu Thufail, adalah seorang bayi yang dibuang ke sungai oleh orangtuanya, kemudian ditemukan dan ‘diasuh’ oleh seekor rusa betina hingga dewasa.

Keluarga merupakan kelompok sosial paling asal bagi manusia. Ada keluarga kecil atau inti, yang terdiri dari anak, saudara-saudari, ayah-ibu dan nenek-kakek. Ada lagi keluarga besar mencakup paman, bibi, sepupu bahkan seluruh jaringan ke atas, ke samping dan ke bawah dalam suku, qabilah, klan atau marga. Kelompok kemudian menjadi identitas, penanda yang membedakannya dengan kelompok lain.

Manusia merasa aman dan terlindungi dalam kelompok itu. Asas kehidupan kelompok adalah solidaritas dan kepedulian pada sesama. Kelompok melindungi anggota- anggotanya dari gangguan pihak luar. Kelompok juga membangun kepentingan bersama untuk kesejahteraan bersama. Keluarga sebagai ikatan terkuat, akhirnya membangun dinasti. Pada masa modern, orang menyebutnya ‘nepotisme’.

Di sisi lain, orang modern lebih menekankan kualitas pribadi ketimbang asal-usul keluarga. Kemampuan Anda lebih penting daripada siapa keluarga Anda. Dalam masyarakat tradisional, jika orangtua Anda dukun, kemungkinan besar Anda bisa menjadi dukun. Tetapi dalam masyarakat modern, jika orangtua Anda dokter, Anda tidak otomatis menjadi dokter kecuali telah tamat mengikuti pendidikan dokter.

Namun, bukan berarti masyarakat modern tidak berkelompok. Mereka berorganisasi bukan berdasarkan ikatan darah, melainkan berdasarkan kesamaan cita-cita atau profesi. Mereka mendirikan partai politik, yang anggotanya boleh siapa saja, dari keluarga mana saja, asal cocok dengan ideologi partai tersebut. Mereka mendirikan organisasi sosial dan profesi untuk semua orang yang bercita-cita sama.

Tetapi, perbedaan masyarakat tradisional dan modern di atas tidaklah hitam-putih. Faktanya, kini ikatan keluarga tetap ada dan kuat. Organisasi berbasis kekeluargaan dan asal-usul juga masih banyak. Orang yang sangat fanatik dengan keluarga dan sukunya juga tidak sedikit. Di sisi lain, bagi sebagian orang, fanatisme keluarga itu berubah bentuk menjadi fanatisme organisasi yang tidak kalah kerasnya.

Fanatisme pada gilirannya melahirkan konflik, terutama disebabkan oleh perebutan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Demi jabatan dan uang, tidak sedikit orang yang mau melakukan apa saja, termasuk mengatasnamakan organisasi dan kelompok. Mereka ini juga tidak segan-segan menebar dan menanamkan kebencian pada kelompok lain yang menjadi pesaing dalam merebut harta dan kuasa itu.

Di era digital dan teknologi ponsel pintar ini, ikatan kelompok itu dapat dibangun secara massif melalui dunia maya. Media sosial merupakan sarana bagi individu untuk masuk dalam jaringan kelompok tertentu. Ketika muncul kepentingan politik dan ekonomi, media sosial itupun berubah menjadi sarana penggalangan kekuatan pihak tertentu, atau medan pertempuran antar pihak-pihak yang bersaing.

Alhasil, kebersamaan manusia itu berwajah ganda. Ketika nafsu kuasa dan harta merajalela, maka kebersamaan itu menyempit dan menghancurkan yang lain. Sebaliknya, ketika kebersamaan itu berlandaskan keadilan dan kebaikan, maka ia menjadi meluas dan merangkul. Nah, bagaimanakah kebersamaan kita selama Ramadan, Lebaran hingga Halal Bihalal ini: Sempit atau luas, tulus atau palsu? (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved