Jendela

Godaan Hoaks

Seorang kawan yang telah lama tinggal di Yogyakarta pulang ke Banjarmasin dan menghubungi saya untuk bertemu. Sesuai kesepakatan, kami bertemu

Godaan Hoaks
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang kawan yang telah lama tinggal di Yogyakarta pulang ke Banjarmasin dan menghubungi saya untuk bertemu. Sesuai kesepakatan, kami bertemu di sebuah kafe. Setelah berbincang kesana-kemari, dia berbicara serius.

“Saya sungguh prihatin dengan grup WhatsApp teman-teman kita yang banyak termakan hoaks. Lebih-lebih selama pilpres. Kita harus mencari cara menyadarkan mereka,” katanya.

Dia pun bercerita. Suatu hari, seorang teman lama menelponnya. Teman itu mengatakan, ada cetakan Alqur’an yang sengaja disalahkan, dan perusahaan pencetak Alqur’an itu berdomisili di Yogyakarta.

“Saya sebenarnya curiga, berita yang didapat kawan kita itu hoaks. Tetapi untuk mengujinya, saya pura-pura mempercayainya. Pelan-pelan, saya ajak teman kita itu berpikir kritis,” katanya.

“Itu berbahaya. Kita harus menjaga keaslian Alqur’an. Ini masalah serius. Kamu segera terbang ke Yogyakarta. Semua biaya akan saya tanggung. Bawa cetakan Alqur’an yang diselewengkan itu. Kita cari perusahaan percetakannya. Kalau di Yogyakarta, saya yakin akan ketemu,” katanya kepada teman itu.

Setelah berhari-hari ditunggu, teman tadi tak kunjung datang. Alqur’an palsu itu ternyata tak ada!

Mengapa orang mudah terjebak berita palsu? Mungkin karena dia tidak kritis sehingga tidak memeriksa dengan teliti dan hati-hati setiap berita yang diterima. Padahal, kabar artinya adalah informasi yang bisa benar, bisa pula tidak. Karena itu, ketika ada berita, apalagi yang menyangkut isu sensitif atau masalah besar, perlu dicek dan ditelaah, sumbernya dari mana dan siapa atau media apa yang menyiarkannya.

Mungkin pula, orang mau menelan mentah-mentah berita palsu karena sudah termakan berita palsu sebelumnya yang sejalan dengan berita yang baru diterimanya. Sebagaimana orang yang berdusta harus menciptakan berbagai dusta lanjutan, maka orang yang menerima dusta pertama cenderung menerima dusta-dusta berikutnya. Hoaks itu beranak pinak. Semakin banyak menelan, semakin sulit disadarkan.

Selain itu, tampaknya ada semacam kegembiraan di balik berita palsu, terutama jika berita itu aneh, tak disangka-sangka dan menakjubkan. Lebih menyenangkan lagi jika berita itu sesuai harapan si pembaca. Jika berita tentang idola, dia ingin idolanya mulia-sempurna. Jika tentang lawan atau saingan, dia ingin saingan itu jelek dan hina dina. Kebenaran menjadi subjektif, menjadi post-truth (panca kebenaran).

Rasa lezat mengunyah berita palsu mungkin mirip dengan kesenangan menggunjing. Kabar burung, desas-desus atau gosip memang menarik karena biasanya berupa berita yang disampaikan melalui bisik-bisik. Kini, ketika banyak orang lebih suka berdialog melalui ponsel ketimbang tatap muka langsung, maka gosip itu menyebar secara elektronik. Gosip tampaknya lebih lezat jika dibumbui berita palsu.

Orang yang sudah termakan berita palsu biasanya juga terdorong untuk menyebarkannya. Mungkin semula karena ingin berbagi informasi saja. Tetapi mungkin pula karena ingin cari perhatian. Semakin banyak orang yang membaca dan berkomentar, semakin banggalah orang yang membagikan berita itu. Tiap orang suka dipuji dan menjadi pusat perhatian. Apalagi orang yang memang wataknya narsis.

Akhirnya, boleh jadi orang dengan mudah terkena berita palsu akibat budaya instan alias serba cepat di zaman ini. Kini bukan hanya makanan dan minuman instan, berita pun dibuat, disiarkan hingga dibaca, didengarkan dan disaksikan secara instan. Berita yang ditulis secara teliti dan mendalam, kini semakin jarang. Orang beradu cepat. Berita itu pun akhirnya dikonsumsi secara cepat tanpa berpikir kritis lagi.

Alhasil, kita hidup di era serba ekstrem. Karena itu, cara menyikapinya juga harus ekstra, lebih dari yang biasa. Kita harus ekstra hati-hati dalam menerima, mempercayai dan menyebarkan berita. Setiap hari, kita perlu mematikan ponsel, menutup mata dan telinga dari serbuan tsunami informasi.

Kita perlu waktu untuk sendiri dan merenung. Kita juga perlu bertatap muka langsung dengan kolega dan keluarga. Sebab, dalam kesendirian, kita akan menemukan kesejatian. Dalam bertatap muka, kita akan menemukan sosok manusia yang nyata.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved