Tajuk

Menanti Keputusan

Bahkan dalam berbagai tulisan, presiden yang akrab disapa Bung Karno ini secara tegas dan jelas menyebut Palangkaraya sebagai Ibu Kota Indonesia.

Menanti Keputusan
Tribun Kalteng/Fathurahman
Presiden Jokowi dan rombongan ketika mengunjungi Tugu Soekarno di Palangkaraya, Rabu (8/5/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sekelompok orang dengan berbagai latar belakang, ada akademisi, budayawan, seniman hingga aktivis membicangkan istilah yang pernah menjadi judul film layar lebar di era 1981-an ini tak lepas dari persoalan pro dan kontra, kelebihan dan kekurangan menjadi tuan rumah bernama ibu kota.

Bagi orang Kalimantan, rencana tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Karena dalam sejarah, Presiden Pertama Republik Indonesia, (alm) Soekarno sudah pernah melontarkan gagasan tersebut. Bahkan dalam berbagai tulisan, presiden yang akrab disapa Bung Karno ini secara tegas dan jelas menyebut Palangkaraya sebagai Ibu Kota Indonesia.

Presiden RI, Joko Widodo pun menyebut Kalimantan sebagai tujuan hijrahnya ibu kota. Dan, Kalimantan Selatan (Kalsel) yang merupakan bagian dari Pulau Kalimantan memiliki peluang sebagai daerah terpilih. Demikian pula provinsi tetangga, Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) juga berpeluang.

Memantapkan persiapan meraih peluang menjadi ibu kota negara, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel secara khusus menggelar dialog nasional terkait pemindahan ibu kota negara di Kalsel dengan menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN Bappenas, Rudy S Prawiradinata, Menteri Lingkungan Hidup era Presiden SBY, Gusti Muhammad Hatta dan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Prof DR Sutarto Hadi.

Para nara sumber dan pakar menyatakan, Kalsel termasuk daerah yang siap dan layak sebagai tuan rumah ibu kota. Dari aspek lingkungan, juga sangat memenuhi. Termasuk aspek kesiapan lahan yang diperlukan seluas 40 ribu hektare untuk menampung ASN sebanyak 1,5 juta orang.

Apalagi dukungan infrastruktur. Di Kalsel ada lima bandara yakni Bandara Warukin, Bandara Syamsudin Noor, Bandara Bersujud, Bandara Gusti Syamsir Alam, dan Bandara Mekar Putih, serta Pelabuhan Samudera Batulicin, Pelabuhan Nasional Trisakti, Pelabuhan Stagen dan Pelabuhan Internasional Mekar Putih. Bahkan Kalsel bebas dari gempa bumi dan gunung berapi.

Tentu persoalannya tak sampai disitu. Masih ada sejumlah persoalan lain yang akan dihadapi masyarakat jika Bumi Lambung Mangkurat ini benar-benar dipilih sebagai ibu kota. Kultur atau budaya masyarakat Kalsel, serta sisi kehidupan masyarakat yang bisa dipastikan akan banyak mengalami perubahan karena gesekan dan menyandang status ibu kota.

Namun itu semua tergantung kearifan, kebijaksanaan dan kejelian Presiden dalam menentukan dan memutuskan lokasi mana yang tepat sebagai ibu kota negara. Tentunya keputusan itu sudah melalui pertimbangan dan kajian matang secara komprehensif.

Arus pro dan kontra, kelebihan atau kekurangan, ibarat dua mata sisi uang yang selalu berdampingan menyertai dinamika sebuah keputusan. Namun, terpenting apapun itu keputusannya harus mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat negeri ini. Jadi, kita tunggu saja apa yang menjadi keputusan Presiden. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved