Tajuk

Merespons Asa Janda Pendulang

JANGAN membayangkan kehidupan para janda pendulang intan di wilayah Cempaka, Kota Banjarbaru, hidupnya serba mewah dan serba wah.

Merespons Asa Janda Pendulang
banjarmasin post group/ nia kurniawan
Pendulangan Intan di Pumpung, Banjarbaru 

BANJARMASINPOST.CO.ID - JANGAN membayangkan kehidupan para janda pendulang intan di wilayah Cempaka, Kota Banjarbaru, hidupnya serba mewah dan serba wah. Kondisi nyatanya, para janda pendulang hidupnya serba kekurangan. Malah ada janda, kalau mau buang air besar (BAB) harus numpang di rumah mertuanya.

Ini karena para janda pendulang tidak memiliki atau punya warisan berupa barang berharga dari suaminya, yang seharinya mencari intan. Wajar kalau para janda pendulang meminta kepada pemerintah setempat untuk menutup lokasi tambangan yang ada di tempat mereka. Tujuan para janda pendulang cuma satu, yakni agar tidak ada janda-janda lagi setelah mereka.

Diperkirakan, di Sungaitiung ada 20 orang perempuan berstatus janda, yang suaminya meninggal akibat tertimbun longsor saat mendulang intan.

Walau permintaan itu hanya disampaikan para janda pendulang, pemerintah daerah harus cepat meresponsnya dengan tindakan nyata dan tegas.

Tindakan nyata dan tegas, ini memang harus. Pasalnya daya tarik intan yang ada dalam perut bumi di Wilayah Cempaka, Kota Banjarbaru, masih sangat kuat sehingga risiko maut pun nekad dihadapi.

Alhasil daftar korban para pencari intan semakin bertambah panjang. Korban terbaru, Supian Hadi (36), warga Jalan Transpol Ujung Murung RT 11 RW 3 Kelurahan Sungaitiung. Supian kena musibah saat mendulang intan bersama tujuh orang temannya di pendulangan intan tradisional Pumpung RT 31 RW 9 Sungaitiung, Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru, Selasa (23/7) sekitar pukul 14.30 Wita. Sebelumnya, 8 April 2019, sebanyak lima orang penambang tewas akibat tertimbun longsor.

Memang tidak mudah menghentikan aktivitas menambang intan yang sudah menjadi pekerjaan turun temurun warga Cempaka. Tapi itu bukan berarti pemerintah menyerah dengan keadaan atau berdiam diri saja. Pemerintah harus gencar memberikan peringatan kepada penambang intan yang masih hidup bahwa menambang intan tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung. Risiko itu tidak hanya tanggung oleh para penambang sendiri, tapi juga keluarganya. Keluarga korban, khusus para istri dan anak korban, akan mengalami duka yang tidak bertepi.

Ada pernyataan menarik yang pernah dilontarkan Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani, yakni akan melakukan upaya alih pekerjaan para pendulang intan tradisional ke sektor lain yang lebih aman dan tidak berisiko.

Kita mendukung seratus persen upaya alih pekerjaan para pendulang intan tradisional ini. Upaya awal yang bisa dilakukan pemerintah adalah memberikan pembekalan dan pelatihan membuat kerajinan tangan (handy craft), beternak, atau berkebun kepada para pendulang intan.
Agar alih pekerjaan para pendulang intan tradisional ini berjalan sempurna, pemerintah juga harus memberikan bantuan pendanaan dan pendampingan berkelanjutan.

Tanpa itu, upaya alih pekerjaan tidak akan berjalan dengan baik. Maklum saja, semua penambang intan berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Kita tunggu aksi nyata Pak Wali Kota. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved