Tajuk

Santiago Berdebu

KEMARIN, Jumat, 2 Agustus 2019, menjadi momentum membahagiakan sekaligus membanggakan bagi masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya para pencinta

Santiago Berdebu
banjarmasinpost.co.id/faturahman
Laga liga 1 perdana yang digelar di Stadion Tuah Pahoe, Jalan Tjilik Riwut km 5 Palangkaraya, Kalimantan Tengah , Jumat (2/8/2018) antara Kalteng Putra melawan Semen Padang FC, dimenangkan tuan rumah Kalteng Putra 2-0. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEMARIN, Jumat, 2 Agustus 2019, menjadi momentum membahagiakan sekaligus membanggakan bagi masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya para pencinta sepak bola, terutama suporter Kalteng Putra FC yang dikenal dengan sebutan Kalteng Mania dan Passus (Pasukan Khusus).

Untuk pertama kalinya sejak naik kasta ke Liga 1 Indonesia 2019 setelah merebut peringkat ketiga Liga 2 Indonesia 2018, klub berjulukan Laskar Isen Mulang itu bisa tampil di Stadion Tuah Pahoe di Kota Palangkaraya.

Sebelumnya, mereka terpaksa mengungsi ke Daerah Istimewa Yogyakarta, menyewa Stadion Sultan Agung di Kabupaten Bantul, karena markas mereka tersebut direnovasi. Selama sekitar tiga bulan menjadi tim musafir, pencapaian mereka tak sesuai.

Terlepas dari hasil pertandingan kandang perdana Kalteng Putra FC kontra Semen Padang FC, kemarin sore, satu hal yang patut diacungi jempol adalah komitmen dan keseriusan serta kesigapan pemerintah setempat membenahi stadion terbesar di Bumi Tambun Bungai --sebutan Kalimantan Tengah-- itu.

Mereka tepat waktu melakukan renovasi, mulai Februari lalu, dan merampungkan sesuai target pada Juli tadi. Bermodalkan Rp 13 miliar dari Dana Alokasi Umum (DAU), penanaman rumput lapangan sesuai standar nasional dan bahkan internasional berjalan lancar. Begitu pula pembenahan tribune, bench hingga ruang ganti pemain dan perangkat pertandingan. Itu berkat kerja sama dan saling dukung antara pemerintah daerah, DPRD serta pihak ketiga.

Sebenarnya pada waktu yang hampir bersamaan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, berencana merenovasi Stadion 17 Mei Banjarmasin.

Untuk stadion bakal dibenahi secara total. Mulai dari permukaan lapangan yang bergelombang, penanaman rumput baru, perbaikan tribune dan ruang ganti tim dan wasit, hingga penyediaan genset untuk antisipasi bila aliran energi dari PLN sedang bermasalah. Dana yang dianggarkan juga mencapai belasan miliar Rupiah.

Dijadwalkan renovasi dimulai pada awal Juli 2019. Namun kenyataannya, hingga memasuki Agustus, belum ada tanda-tanda pengerjaan. Tak diungkapkannya secara jelas apa penyebab keterlambatan, menjadikan sebagian kalangan meragukan, komitmen dan keseriusan serta kesigapan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Padahal stadion berkapasitas 15 ribu penonton itu bukan hanya homebase kesebelasan Barito Putera. Melainkan juga markas Peseban Banjarmasin, tempat latihan beberapa sekolah sepak bola (SSB), serta atlet dari sejumlah cabang olahraga, hingga venue event tingkat provinsi.

Jangan sampai kondisi seperti ini berlarut-larut dan terkesan dibiarkan. Bila ada kendala, segera atasi. Terkait dana, ajak dan libatkan pihak ketiga. Toh selama ini event olahraga dan ajang lainnya besutan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan cenderung mudah saja mencari sponsor. Apakah kita tidak iri atau malu rumput stadion tetangga lebih hijau? Dan Stadion 17 Mei diolok-olok dengan sebutan Santiago Berdebu, pelesetan dari Santiago Bernabeu, markas klub elite dunia asal Spanyol, Real Madrid. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved