Tajuk

Tak Ada Kesenjangan

Sudah puluhan cerita tentang tenaga pendidikan, TNI/Polri dan tim kesehatan yang harus berkorban, untuk mengabdi di daerah terpencil.

Tak Ada Kesenjangan
Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid
Ilustrasi - Seorang guru SDN Damarlima Kecamatan Batuampar, membimbing muridnya berkeliling di Taman Minatirta, Kelurahan Angsau, Kecamatan Pelaihari, RABU (17/1/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pemerataan. Kata ini yang berulangkali terucap saat membahas masalah sosial, ekonomi dan pendidikan di negeri ini. Wilayah yang masuk sebagai daerah 3T (Tertinggal, terdepan dan terluar), seolah menjadi anak tiri, tertingal di berbagai bidang.

Sudah puluhan cerita tentang tenaga pendidikan, TNI/Polri dan tim kesehatan yang harus berkorban, untuk mengabdi di daerah terpencil.

Di tengah berbagai kebuntuan, satu langkah maju dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai tindak lanjut dari program zonasi. Kemendikbud akan melakukan rotasi guru untuk menunjang sistem zonasi yang diterapkan pada siswa.

Mendikbud Muhadjir Effendy menyebut rotasi guru itu untuk pemerataan kualitas. Sebagaimana dikutip Banjarmasin Post (5/8/2019), nantinya guru di daerah harus diputar (rotasi), maksimum guru mengabdi itu 6 tahun di satu sekolah. Tidak boleh, sampai meninggal dunia (pensiun) guru hanya (bertugas) di satu sekolah saja.

Kebijakan ini memang dilakukan linear dengan penerapan PPDB berdasar zonasi yang mengarah pada pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas guru, serta menghilangkan label sekolah favorit/nonfavorit.

Selama ini sekolah favorit dicitrakan dengan sekolah yang megah, berisi guru-guru berkualitas, memiliki prasarana lengkap, dan sederet atribut mentereng lainnya. Tapi dengan adanya rotasi, tidak ada lagi guru yang seumur hidup menikmati mengajar di sekolah favorit. Begitupula sebaliknya. Tak ada lagi guru yang selamanya mengajar di SD pinggiran.

Dengan langkah Kemendikbud ini paling tidak bisa menjawab persoalan pemerataan mutu dan problem klasik kekurangan guru di daerah pinggiran. Selama ini, karena alasan jarak dan fasilitas, banyak sekolah di wilayah pinggiran kekurangan guru. Tak ada guru yang bersedia ditugaskan ke daerah, dan lebih memilih tugas di perkotaan.

Akibatnya bisa ditebak. Kualitas sekolah makin merosot, karena tidak adanya guru, lalu murid berkurang dan akhirnya tutup.

Padahal, bila benar-benar dilaksanakan ada banyak guru berkualitas bisa disebar ke sekolah-sekolah pinggiran. Guru-guru dari pinggiran juga bisa menyerap ilmu dan wawasan baru ketika mendapatkan kesempatan berada di perkotaan.

Dan pastinya, tidak ada kesenjangan antara desa-kota atau pinggiran-perkotaan. Murid dan guru memiliki kesempatan yang sama. Tak perlu terlalu makro, kesenjangan antara wilayah Indonesia barat dan timur, nyatanya kesenjangan terjadi di hampir seluruh wilayah negeri ini.

Contoh terdekat di SDN Basirih 10 Banjarmasin, yang masih menantikan guru baru. Karena ada yang sudah mengajar selama 21 tahun, tanpa pernah dipindah. Selama 21 sang guru harus menyusuri sungai setiap harinya untuk mengajar generasi penerus bangsa.

Terakhir, tak lupa teknis rotasi perlu dibuat detail dan komprehensif, agar tujuan dari pemerataan tercapai. Bukan semata-mata memindah guru yang tidak disukai, sebagaimana faktor like and dislike yang selama ini lebih banyak terjadi. Malah semestinya, guru yang berkualitas, kreatif dan berwawasan luas, diberi kesempatan mengajar di sekolah yang masih tertinggal, agar kualitasnya terangkat. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved