Jendela

Berulang Tak Sama

Kisah Ibrahim dan Ismail juga mengajarkan tentang misteri kehidupan yang seringkali tidak bisa kita pahami kecuali setelah semuanya berlalu.

Berulang Tak Sama
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kemarin kaum Muslim merayakan Iduladha. Kata ‘îd dalam bahasa Arab artinya hari raya, hari suci. Namun, kata ‘îd juga seakar dengan kata ‘âda yang artinya kembali. Iduladha antara lain adalah kembali mengenang kisah Ibrahim dan puteranya Ismail.

Alkisah, Ibrahim yang sudah tua renta belum juga memiliki keturunan dari isterinya, Sarah. Kemudian, atas persetujuan Sarah, Ibrahim mengawini budaknya bernama Hajar.  Perkawinan ini ternyata berhasil memberi Ibrahim anak lelaki, yang diberi nama Ismail.

Namun, setelah Ismail mulai besar dan imut, Allah justru memerintahkan Ibrahim untuk menyembelihnya! Suatu perintah yang ‘aneh’ dan mengerikan.

Dapat dibayangkan, betapa berat perintah Allah itu. Anak semata wayang, yang selama bertahun-tahun diidamkan, ternyata harus disembelih dengan tangan sang ayah sendiri. Gejolak batin Ibrahim tentulah teramat hebat. Bagaimana mungkin seorang ayah tega membunuh anaknya? Namun akhirnya, Ibrahim berhasil melawan gundahnya, dan Ismail sendiri siap melaksanakan perintah Allah untuknya.

Ketika pertama kali mendengar kisah ini, saat masih belajar di Madrasah Diniyah, saya berurai airmata. Kebetulan, guru saya memang pandai bercerita dan mendramatisasi. Katanya, Ismail berkata lirih pada ayahnya,

“Ayah, aku siap disembelih. Tetapi tolong siapkan pisau yang sangat tajam sehingga aku tidak terlalu merasa sakit. Tolong juga tutupi mataku dengan kain agar aku tidak takut melihat pisau itu.”

Saat ketegangan memuncak, dan Ibrahim hampir saja menyembelih Ismail, tiba-tiba suara terdengar memerintahkan Ibrahim untuk berhenti, memujinya sebagai orang yang tulus, dan Ismail digantikan dengan seekor domba yang besar.

Kisah berakhir bahagia. Kami, yang masih kanak-kanak, yang tadinya berurai airmata, kini tersenyum lega. Seolah-olah, kami semua adalah Ismail yang diselamatkan itu.

Berbeda dengan pandangan Islam, menurut Yahudi dan Kristen, yang disembelih adalah Ishak, putera Sarah, bukan Ismail. Perbedaan ini tak mungkin diselesaikan, karena masing-masing memiliki keyakinan. Namun, konon Gus Dur pernah ditanya mengenai soal pelik ini, dan beliau memberikan jawaban yang cukup memuaskan. “Buat apa kita bertengkar soal Ishak atau Ismail. Yang penting kan dia selamat!”

Barangkali yang lebih penting lagi adalah pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini. Dalam hidup, kita mencintai banyak hal, mungkin harta, isteri, suami, anak, jabatan, ketenaran, kesenangan dan lain-lain. Semua itu adalah “Ismail” dalam hidup kita. Tak jarang, karena cinta yang buta, kita akhirnya mengalah tunduk kepada yang dicinta, meskipun harus melawan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya.

Allah tentu tidak memerlukan ketaatan manusia. Dia memerintah dan melarang untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia itu sendiri. Perintah dan larangan adalah kerangka hukum moral, yakni baik dan buruk, pahala dan dosa. Nilai-nilai moral itu tidak terlihat, tetapi akibat yang ditimbulkannya atas hidup manusia sangat jelas. Kebaikan akan berbuah kebahagiaan, dan keburukan akan berbuah penderitaan.

Kisah Ibrahim dan Ismail juga mengajarkan tentang misteri kehidupan yang seringkali tidak bisa kita pahami kecuali setelah semuanya berlalu. Tak jarang dalam hidup ini, kita ditimpa musibah yang tak diduga-duga. Seringkali pula kita menyaksikan orang baik dan jujur yang difitnah, ditipu dan disingkirkan oleh para penjilat. Namun akhirnya, kemenangan akan diraih oleh yang sabar dan setia pada kebenaran.

Domba yang dikurbankan, sebagai ‘tebusan’ Ismail diperingati oleh kaum Muslim dengan menyembelih hewan kurban. Tidak sedikit warga kita yang masih jarang memakan daging karena harganya yang cukup mahal. Karena itu, daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang memerlukan. Dalam berbagi, kita mempererat kebersamaan dan kepedulian. Di situlah kita menemukan kasih Tuhan.

Saya kembali teringat masa kecil, saat kami ramai-ramai menonton penyembelihan hewan kurban di kampung. Kini justru saya yang ditonton anak-anak, karena berperan sebagai penjagal. Rupanya hidup memang pengulangan-pengulangan, tetapi bukan pengulangan yang persis sama. Kisah Ibrahim dan Ismail tetap sama, tetapi cara kita memaknainya dan melakoninya tidak selalu sama. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved