Berita Kalteng

GARA-GARA Truk Sembako Kena Pungli di Pulau Telo Kalimantan Tengah, Harga Cabai Capai Rp 70 Ribu/Kg

Ibu rumah tangga dan pedagang makanan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengeluhkan tingginya harga cabai rawit

GARA-GARA Truk Sembako Kena Pungli di Pulau Telo Kalimantan Tengah, Harga Cabai Capai Rp 70 Ribu/Kg
tribunkalteng.co/fadly
Pantauan hari pertama buka tutup satu jalur Jembatan Pulau Telo Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (12/7/2019) siang 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Ibu rumah tangga dan pedagang makanan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengeluhkan tingginya harga cabai rawit. Kenaikan mulai terjadi sepekan lalu. Dari Rp 38 ribu per kilogam menjadi Rp 41 ribu dan pada Rabu (21/8) di kisaran Rp 90 ribu.

“Itu pun cabainya tidak segar sehingga malas membeli banyak. Secukupnya saja,” ujar Nurlaili, Ibu rumah tangga yang ditemui di sebuah pasar tradisional.

Berdasarkan keterangan sejumlah pedagang, harga cabai naik karena menipisnya stok. Pasokan dari Pulau Jawa menurun akibat gelombang laut tinggi. Banyak kapal pengangkut sembako takut berlayar. Apalagi panen cabai di Jawa dikabarkan menurun akibat kekeringan.

Bukan hanya cabai rawit, cabai merah juga mengalami kenaikan harga dalam sepekan ini. Dari Rp 48 ribu per kilogram menjadi Rp 56 ribu dan saat ini Rp 70 ribu.

Baca: Supaya Ibu Hamil Tak Tertipu saat Periksa di Puskesmas, Ini 5 Ciri Obat Kedaluwarsa

Baca: Sudah 74 Tahun Indonesia Merdeka, Pulau Kalimantan Baru Punya 1 Tol & Rampung Akhir 2019

Baca: Siap-siap Menteri Baru Pakai Mobdin Baru, Jokowi Siapkan Rp 152.540.300.000, Hadji Kalla Ikut Tender

Pedagang sembako di Pasar Besar Palangkaraya, Musdalifah, mengakui kenaikan harga cabai. Kenaikan sudah terjadi di pemasok baik di Kalteng maupun Banjarmasin, Kalsel.

“Gelombang tinggi. Jumlah pasokan cabai dari Jawa ke Kalteng dan Kalsel berkurang. Bahkan ada distributor yang membawa cabai dari Jawa ke Kalteng naik pesawat sehingga harganya tinggi,” ujarnya.

Tingginya harga cabai juga akibat perbaikan Jembatan Pulau Telo Kabupaten Kapuas. Kegiatan itu menghambat pasokan dari Banjarmasin ke Kalteng khusunya ke Palangkaraya, Katingan dan Gunungmas. Beberapa sopir truk mengaku ada oknum yang melakukan pungutan liar terutama bagi mereka yang membawa sembako dalam jumlah besar.

"Kami dilarang membawa sembako di atas delapan ton lewat jembatan,” ujar salah satu sopir.

Namun truk bisa lewat asal membayar. “Ada sopir yang mau memberi, namun ada pula yang terpaksa balik ke Kalsel untuk mengurangi muatan,” ujarnya.

Hal ini diakui Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag ) Kalteng, Jenta.
“Keluhan itu kami dengar dari sopir truk dan kami berencana melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan agar memberikan prioritas kepada truk sembako lewat jembatan,” ujarnya.

Langkanya cabai di pasar tradisional Kalteng, khususnya Palangkaraya, mendapat sorotan Ketua Persatuan Pedagang Pasar Besar Palangkaraya, Hamidan. Hamidan mengatakan dari sekian banyak sembako, harga cabai yang paling melambung.

Hamidan berharap Dinas Pertanian Kalteng mengembangkan tanaman cabai untuk petani lokal sehingga daerah ini tidak tergantung pasokan dari Jawa atau kiriman dari distributor Kalsel. (banjarmasinpost.co.id/tur)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved