Tajuk

Dilema Daun Sapat

Menurut data Pengusaha Kratom Indonesia (Pekrindo) sebanyak ratusan ribu petani di Kalimantan menjadikan daun sapat sebagai sumber utama pendapatan.

Dilema Daun Sapat
banjarmasinpost.co.id/reni kurniawati
Tumpukan daun Sapat atau daun Kratom di salah satu pengumpul di Amuntai. Tanaman ini tumbuh subur di rawa-rawa. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIKENAL sebagai tanaman obat, daun Sapat kini ditetapkan sebagai tanaman terlarang menyusul rencana Badan Narkotika Nasional memproses tanaman yang juga bernama kratom itu masuk menjadi obat-obatan terlarang Golongan I.

Kini, para perajin daun sapat menjadi dilema. Menurut data Pengusaha Kratom Indonesia (Pekrindo) sebanyak ratusan ribu petani di Kalimantan menjadikan daun sapat sebagai sumber utama pendapatan mereka.

Daun sapat mereka olah seperti membuat menjadi remahan hingga menjadi seperti remahan daun teh hijau kering. Atau dibuat menjadi bubuk sebelum diekspor ke berbagai negara. Bahkan ke Amerika Serikat.

Konsumen daut sapat (dalam bentuk bubuk atau pil) di negara Adidaya itu menggunakannya untuk terapi ketergantungan opium. Namun, badan hukum narkoba (Drug Enforcement Administration) AS mengumumkan untuk memasukkan kratom ke Golongan I narkotika dan tak mengizinkan kratom digunakan dalam medis.

Tapi protes keras dari para pengguna dan beberapa senator AS, membuat departemen itu menunda keputusannya dan tetap membiarkan warga negaranya tetap mengonsumsi serbuk dan remahan daun sapat.

Di Kalsel, daun sapat menjadi komoditi olahan berupa bahan obat-obatan. Salah satunya yang diproduksi oleh Edy Rahman dan telah memperoleh sertifikat produksi pangan industri rumah tangga dari Dinas Kesehatan Tabalong di tahun 2015, dan sertifikasi halal oleh MUI Kalsel di tahun 2018.

Keluarnya sertifikasi dari dua badan ini, tentu menimbulkan pertanyaan kenapa sekarang BNN menetapkan daun sapat masuk dalam kategori obat-obatan terlarang golongan I. Apakah sudah ada penyalahgunaan daun sapat di Indonesia? Kenapa di Amerika Serikat tak lebih dulu menetapkannya?

Penyalahgunaan bahan-bahan alami yang biasa digunakan warga untuk obat-obatan, seperti yang terjadi pada daun sapat ini, tentu mengingatkan kita pada kasus penyalahgunaan daun khatinon yang menyeret artis Raffi Ahmad berurusan dengan BNN, beberapa tahun silam.

Daun yang mengandung zat kimia chatinone dan biasa digunakan oleh warga asal Timur Tengah sebagai obat kuat tersebut, mencuat saat digunakan Raffi Ahmad, dan dimasukan ke dalam narkoba golongan I sehingga harus dimusnahkan.

Kasus daun khatinon tampaknya bakal turut menimpa daun sapat. Muncul sebagai bahan alami obat-obatan tradisional dan banyak dimanfaatkan warga, bahkan menjadi komoditi usaha mereka, kini pemilik usahanya terancam pasal pidana narkoba.

Padahal, daun apapun itu bila disalahgunakan pasti bisa menimbulkan tidak baik dan membahayakan bagi kesehatan tubuh. Tapi kalau dikonsumsi sesuai takaran bakal mendatangkan manfaat besar bagi tubuh.

Tengok saja daun ganja di Aceh. Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan. Kini, siapa pun yang ditemukan menanam ganja bakal berhadapan dengan hukum. Mungkin pembudidaya pohon sapat juga bakal seperti itu. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved