Ekonomi dan Bisnis

Serang Drone di Kilang Saudi Aramco Disengaja? Tujuannya Menjaga Harga Minyak Dunia Tidak Terpuruk

Serangan drone ke kilang milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu membuat produksi minyak Arab Saudi anjlok hingga 50 persen

Serang Drone di Kilang Saudi Aramco Disengaja? Tujuannya Menjaga Harga Minyak Dunia Tidak Terpuruk
Thinkstockphotos.com
Ilustrasi produksi minyak 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Serangan drone ke kilang milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu membuat produksi minyak Arab Saudi anjlok hingga 50 persen. Hal itu membuat harga minyak mentah langsung melonjak 10 dollar AS menembus level 60 dollar AS per barrel.

Akankah harga emas hitam itu akan terus merangkak naik hingga level 100 dollar AS?

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menyebut, skenario terburuk akibat peristiwa itu memang bisa membuat harga minyak dunia menembus level 100 dollar AS. Namun dia menilai perisitwa itu tak akan mampu menahan harga minyak berada di level tinggi untuk waktu yang lama.

Bahkan, muncul kecurigaan bahwa kecelakaan di kilang minyak Aramco memiliki unsur geopolitik untuk menjaga harga minyak tidak jatuh terlalu dalam.

Baca: TERUNGKAP! Rahasia Kulit Glowing Victoria Beckham, Cuma Makan Buah Murah Meriah ini

Baca: Warga Berdatangan dan Selfie di Makam BJ Habibie, Mengaku Mengidolakan Bapak Teknologi Indonesia

Baca: KABUT ASAP Sudah Mematikan, Bayi Umur 4 Bulan di Sumsel Meninggal Gara-gara Sesak Nafas

"Geopolitical event Aramco ini bisa memicu harga naik tembus 60 dollar AS per barrel, di jangka pendek. Tapi enggak akan lama, harga akan masuk lagi ke area 50 dollar AS per barrel-60 dollar AS per barrel untuk jangka menengah," sebut Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono seperti dilansri Kontan.co.id, Minggu (15/9/2019).

Informasi saja, pada Sabtu (14/9/2019) kilang minyak Saudi Aramco diserang 10 drone. Akibatnya, dua kilang minyak terbakar dan menyebabkan produksi minyak di Arab Saudi anjlok 5,7 juta barrel per hari atau sekitar 50 persen dari total produksi negara kaya minyak itu.

Wahyu tak menampik bahwa terbakarnya kilang di Saudi Aramco bakal memberikan dampak, apalagi jika berkaitan dengan Saudi. Arab Saudi memiliki major solo produser, Aramco, dengan wilayah kilang dan jalur transportasi terpusat.

Kondisi tersebut rentan terhadap ancaman dan gangguan produksi, baik teknikal maupun geopolitik oleh teroris atau perang negara lain. Lain halnya dengan Amerika Serikat (AS) dan Rusia yang sama-sama produsen raksasa minyak. Mereka memiliki perusahaan yang relatif jamak dengan area kilang dan jalur transportasi beragam.

Dari sisi harga, Wahyu menilai kenaikan harga 10 dollar AS per barrel masih wajar sebagai dampak dari terbakarnya kilang Aramco. Tentunya, dengan asumsi akan segera ada recovery dari produsen kilang minyak tersebut.

Namun, jika kondisi berlarut maka ada potensi bagi harga minyak naik 10 dollar AS per barrel hingga 20 dollar AS per barrel. Bahkan, bukan tidak mungkin untuk harga minyak dunia menyentuh level 100 dollar AS per barrel, sebagai skenario terburuk.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved