Jendela

Takdir Asap

Bandara Samarinda, Ahad 15 September 2019 kemarin. Dua orang ibu yang tampak sudah lanjut usia tengah berbincang serius dengan dua anak muda

Takdir Asap
(banjarmasinpost.co.id/faturahman)
Bandara H Asan Sampit tertutup kabut asap sehingga penerbangan tak bisa operasional, Minggu ,(15/9/2019). 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bandara Samarinda, Ahad 15 September 2019 kemarin. Dua orang ibu yang tampak sudah lanjut usia tengah berbincang serius dengan dua anak muda petugas sebuah maskapai penerbangan. “Tolonglah nak, saya ini. Saya mau berangkat hari ini juga, bersama teman saya ini. Saya berdiri pun mau, asal bisa berangkat sekarang,” kata salah seorang ibu, sementara ibu yang satunya memberi dukungan.

Saya tersentuh menyaksikan percakapan itu, lalu bertanya kepada si petugas. “Ada apa?” “Begini pak. Saya tadi tanya sama ibu ini, apakah dia ingin di-cancel penerbangannya, dan dia setuju. Sedangkan teman ibu ini, minta diteruskan. Ternyata, ibu yang minta di-cancel ini juga mau berangkat,” katanya. Rupanya, si ibu tua itu tak paham arti di-cancel. Dia orang desa polos yang tak paham bahasa Inggris.

Itu hanya satu dari banyak drama akibat serangan asap. Sehari sebelumnya, semua penerbangan dari dan ke Samarinda dibatalkan. Mereka yang batal terbang itu bisa memilih untuk melanjutkan di hari berikutnya atau membatalkannya dengan penggantian 90 persen harga tiket dan diproses selama 14 hari kerja. Bagi yang berduit, tentu mudah untuk membatalkan. Bagi yang tidak, bagaimana?

Saya dan isteri termasuk di antara ratusan orang yang menjadi korban asap itu. Ketika tiba di bandara Samarinda, kami heran menyaksikan orang berjubel. Ternyata, mereka adalah para penumpang yang gagal berangkat sehari sebelumnya. Kami antre hingga 2 jam untuk mendapatkan boarding pass. Setelah boarding pass didapatkan, tidak ada pula kepastian berangkat. Asap masih pekat.

Kami akhirnya memutuskan untuk membatalkan penerbangan, dan ‘mengundi nasib’ ke Bandara Balikpapan yang relatif aman dari asap karena berada di dekat laut. Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam, kami tiba di tujuan. Ternyata, di Balikpapan ratusan orang juga berjubel di depan meja layanan maskapai penerbangan. Mereka gagal terbang ke Tarakan, Berau dan Tanjung Selor gara-gara asap!

Semua orang tampak kesal dan tegang. Mau marah kepada siapa? Nyaris tiap musim kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu menjadi masalah yang tak kunjung selesai di negeri ini, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Tahun ini, yang paling parah di Pekanbaru, disusul Pontianak dan beberapa wilayah di Kalimantan Timur. Di Kalimantan Selatan, asap juga ada, tetapi tidak terlalu pekat.

Apakah hutan dan lahan itu terbakar atau dibakar, atau kedua-duanya? Jika sengaja dibakar, maka pelakunya harus dituntut secara hukum. Apalagi jika pembakaran itu dilakukan secara terencana oleh sebuah perusahaan. Sedangkan jika ‘terbakar’ alias menyala dengan tidak disengaja oleh manusia, maka itu berarti peristiwa alam belaka. Namun, baik dibakar atau terbakar, keduanya harus dipadamkan.

Sungguh wajar jika orang kesal dan jengkel dengan bau asap yang menyengat dan kepekatannya yang membuat mata perih dan jarak pandang yang pendek. Sungguh maklum jika orang marah ketika sekolah-sekolah diliburkan gara-gara asap. Sungguh bisa dipahami jika orang tersiksa dengan gangguan saluran pernapasan. Apakah kita disuruh pasrah menyerah menerima semua ini sebagai takdir belaka?

Saya kira, sikap pasrah itu hanya boleh berlaku jika kita telah melaksanakan segala upaya yang sungguh-sungguh untuk mencegah dan memadamkan ke(pem)bakaran hutan dan lahan. ‘Kita’ yang dimaksud adalah para petani, peladang dan pemilik perkebunan, para petugas penanggulangan bencana hingga para penegak hukum. Sudahkah kita bekerja maksimal? Saya curiga, kita belum benar-benar serius.

“Bagi saya, manusia itu laksana wayang yang dimainkan dalang, dan dalang itu adalah Tuhan. Karena itu, berapapun rezeki yang saya peroleh tiap hari, saya terima dengan syukur dan ikhlas,” kata si sopir yang mengantar kami.

Meskipun hati saya berontak dengan analogi wayang dan dalang itu, saya menilai dia bukanlah orang yang fatalis. Dia tetap bekerja keras, sambil menerima apapun hasilnya dengan ikhlas.

Alhasil, hidup manusia memang unik. Ia bebas sekaligus terbatas. Ia memilih sekaligus dipilihkan. Dalam kebebasan, ia bertanggungjawab. Dalam keterbatasan, ia harus pasrah menerima kenyataan. Saya khawatir, dalam kasus asap ini, banyak pihak terkait masih jauh dari bertanggungjawab! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved