Berita Banjarmasin

Penderita ISPA di Kalsel Belum Sampai Kategori Gawat

Bencana kabut asap yang melanda banyak daerah di Kalimantan termasuk Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah berlangsung berminggu-minggu.

Penderita ISPA di Kalsel Belum Sampai Kategori Gawat
Banjarmasinpost.co.id/isti Rohayanti
RSUD Ulin Banjarmasin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bencana kabut asap yang melanda banyak daerah di Kalimantan termasuk Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah berlangsung berminggu-minggu.

Hal ini otomatis meningkatkan potensi bermunculannya penyakit pernafasan disebabkan karena kabut asap yang timbul karena kebakaran hutan dan lahan biasanya bersifat iritan.

Namun tetap patut disyukuri, hingga saat ini belum ada pasien yang alami infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang terlalu parah di Kalsel.

Indikasinya, belum ada pasien ISPA yang mencapai keadaan darurat hingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin.

Baca: Dua Tahun Dipaksa Mengemis dan Alami Penyiksaan, Begini Cerita MS Saat Terbebas Dari Orang Tuanya

Baca: Sikap Roger Danuarta Suami Cut Meyriska Buat Kagum Ustadz Felix Siauw dan Yusuf Mansur

Baca: Curhat Masa Lalu Kelam Ammar Zoni Suami Irish Bella Hingga Dapat Peringatan Ustaz Abdul Somad

Hal ini dibenarkan Direktur RSUD Ulin Banjarmasin, HJ Dr Suciati.

"Alhamdulillah kalau sampai yang parah dan perlu dirujuk ke Ulin sampai rawat inap terkait ISPA belum ada," kata Hj Dr Suciati.

Berstatus sebagai Rumah Sakit dengan katagori A, RSUD Ulin Banjarmasin memang menjadi rujukan terakhir di Kalsel untuk tangani keluhan penyakit berat dan prosedur tindakan yang tidak dapat dilakukan di fasilitas kesehatan lainnya di Kalsel.

Menurutnya, hal ini menunjukkan keluhan-keluhan ISPA di Kalsel masih dapat ditangani dan disembuhkan melalui pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun Rumah Sakit rujukan jenjang pertama dan kedua bertipe C dan B.

Ditambahkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Kalsel, Dr M Rudiansyah, pada kondisi saat ini, masyarakat di himbau untuk sebisanya tak keluar ruangan untuk mengurangi terekspos asap.

"Kalau pun harus keluar gunakan masker dan kalau asap sangat pekat gunakan masker yang lebih kuat menyaring asap," kata Dr M Rudiansyah.

Dampak bencana asap ini menurutnya bisa lebih berbahaya bagi anak-anak apalagi balita dan bayi.

Belum memiliki daya tahan tubuh sempurna dan memiliki kebutuhan akan oksigen yang tinggi membuat balita dan anak-anak lebih rentan menderita ISPA akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan.

(Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody)

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved