Fikrah

Haji dan Umrah

MUSIM Haji 1440 H usailah sudah, kini musim Umrah 1441 H mulai digelar, “Selamat Datang hujjaj semoga mabrur

Haji dan Umrah
Istimewa
Rabu (28/8/2019), Jamaah Haji Asal Kabupaten Tapin Tiba di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru 

Oleh: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - MUSIM Haji 1440 H usailah sudah, kini musim Umrah 1441 H mulai digelar, “Selamat Datang hujjaj semoga mabrur, dan “Selamat jalan para mu’tamirin semoga maqbulah.” Para hujjaj sudah kembali di rumah masing-masing, kendati ada yang tidak kembali lagi untuk selama-lamanya karena meninggal dunia.

Pelaksanakan haji/umrah, adalah untuk menunaikan rukun Islam, dengan keduanya sempurnalah rukun Islam seorang muslim, bukan hanya ikut-ikutan atau gengsi. Haji/umrah dilaksanakan untuk mencapai ridha Allah, lillah. Wa’atimul-hajja wal-‘umrata lillaah, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah,”(QS.2/96). Walillaahi alan-naasi hijjul-baiti manistathaa’a ilaihi sabiilaa, karena Allah-lah agar manusia berhaji, bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. 3/97).

Dalam pelaksanaan ibadah haji/umrah diperlukan kesehatan fisik dan cukupnya dana. Dalam perjalanan haji/umrah, seseorang menghadapi prosuder keberangkatan (memiliki paspor, visa dan dokumen), memiliki kesiapan ilmu manasik haji/umrah sehingga mengerti apa yang harus dikerjakan dan apa saja yang membatalkannya.

Diperlukan kecukupan dana, watazawwaduu fa inna khairaz-zaadit attaqwaa, berbekallah anda (dalam pelaksanaan haji/umrah), sesungguhnya sebaik-baik perbekalan adalah takwa. (QS.2/ 197). Perjalanan haji/umrah bagi seseorang bisa jadi melalui satu jalur di antara tiga:

1) Seseorang dapat mengumpulkan dana, sehingga dapat berangkat haji/umrah, ini namanya jalur nisab.
2) Ada orang berhaji/berumrah diberangkatkan oleh keluarganya, menantu/mertua, atau siapa saja, ini namanya jalur nasab.
3) Ada yang berhaji/ berumrah sebagai petugas dan lain-lain, ini namanya jalur nasib. Demikian, jika Allah SWT hendak memanggil hamba-Nya ke tanah suci, ada-ada saja jalan dibuatkan oleh-Nya.

Haji mabrur menempati posisi ketiga dalam urutan amal utama dalam Islam, setelah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya. Alhajjul-mabruur, huwal-hajju allati laa yukhaluthuhu istmun, Haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dengan kemaksiatan. (Imam Nawawi, Al-Idhah). Haji mabrur adalah seseorang setelah kembali dari berhaji, zuhud dari dunia dan gandrung akan akhirat. (Fikhussunnah).

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah haji mabrur itu?” Beliau menjawab, “Haji mabrur adalah haji yang baik (karenanya diterima Allah SWT), Apa baiknya? Rasul menjawab, ith’amuth-tha’aam wa layyinul-kalaam, memberikan makanan (gambaran kedermawanan) dan lembutnya perkataan (gambaran kesantunan dalam pergaulan). (Fikhussunnah).

Kemabruran haji ditandai pula dengan banyaknya dzikrullah, Fa’idzaa afadh-tum min ‘arafaatin fadzkurullaaha kadzikrikum aabaa’akum aw asyadda dzikraa, apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) lebih banyak dari itu ... (QS.2/200).

Untuk mencapai haji mabrur/umrah maqbulah diperlukan bersihnya hati (ikhlas karena Allah), bersihnya harta dari haram/syubhat, benarnya pelaksanaan manasik (meliputi syarat, rukun dan jauh dari yang membatalkan keduanya), akhlak (jauh dari rafas, fusuq dan jidal), Faman faradha fiihinnal-hajja, falaa rafatsa walaa fussuqa walaa jidaala filhajji, Siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu (bulan haji) akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fasik (maksiat) dan jidal (berbantah-bantahan) pada masa melaksanakan haji... (QS.2/197), termasuk sabar menghadapi segala permasalahan, dengan kata lain, diperlukan niat lillah, perbekalan halal, manasik yang benar dan menjauhi larangan-larangan ihram.

Dalam berhaji dan umrah hendaknya tercapai. 1) Taqwiyatul-iman, mantapnya iman, 2) Tahsinul-akhlaq, baiknya akhlak, 3) Tansyithul-ibadah, giatnya ibadah, 4) Istijabatud-do’a, diijabahnya doa, 5) An yakuuna khairan min qablil-hajj wal-umrah, seorang haji lebih baik dari sebelum berhaji dan berumrah.

DR. Zaid bin Muhammad Ar-Rumani menulis, “Seorang haji yang kembali dari tanah haram, akan memulai hidupnya dengan lembaran baru, menapak jalan yang kokoh dalam beribadah, dalam pergaulan dan akhlak, sehingga tampil beda menjadi orang jujur dalam kerjasama, banyak melakukan kebaikan, mencurahkan amar ma’ruf dan berhati bersih.”

Di antara jemaah haji orang Banjar, turun dari tangga pesawat kedatangan di Bandara Syamsudin Noor langsung sujud (barangkali sujud syukur) di lapangan terbang. Setahu penulis, kedatangan seorang haji sekembalinya di kampung halaman, sunat salat qudum minassafar (datang dari berpergian) dua rakaat, dilaksanakan di masjid terdekat dari rumahnya. (HR. Bukhari-Muslim).

Kemudian ia sujud syukur dan memperbanyak istigfar dan taubat. Dari masjid terdekat itu, ia berjalan ke rumahnya dan bila berpapasan dengan orang-orang yang menyambutnya, hendaklah berpelukan (sesama jenis dan bersalaman). Setibanya di rumahnya, ia salat lagi dua rakaat dan melakukan sujud syukur kembali serta berdoa kebaikan dan keampunan bagi ahli warga, handai taulan yang menyambutnya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved