Tajuk

Tagline Baru dan Pasar Terapung

Beberapa hari lalu Pemko Banjarmasin meluncurkan tagline baru Kota Banjarmasin, yaitu City of Thousand Rivers atau yang dalam bahasa telah dikenal

Tagline Baru dan Pasar Terapung
Jimmy Bidang Pariwisata Pemko Banjarmasin untuk Bpost Online
Peserta SAKIP diajak ke siring nonton atraksi jukung pedagang Pasar Terapung di Sungai Martapura, Rabu (6/2/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Beberapa hari lalu Pemko Banjarmasin meluncurkan tagline baru Kota Banjarmasin, yaitu City of Thousand Rivers atau yang dalam bahasa telah dikenal masyarakat luas banua, Banjarmasin Kota Seribu Sungai.

Nah, di saat membahas Seribu Sungai, Banjarmasin ternyata justru kehilangan ikon sungai yang unik, yaitu Pasar Terapung Kuin.

Kondisi ini pun diungkapkan oleh organisasi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), kemarin. Menurut mereka Pasar Terapung Kuin justru mulai hilang, seiring pesatnya pembangunan. Padahal lokasi ini merupakan cikal bakal pasar terapung di Banjarmasin dan sekitarnya.

Keprihatinan yang diungkapkan HPI, sepertinya menjadi gambaran dari rasa penasaran warga Banjarmasin, yang telah kehilangan pasar terapung andalannya. Mereka pun sering bertanya-tanya mengenai keberadaan pasar terapung yang fenomenal tersebut.

Di tengah perkembangan berbagai destinasi wisata baru di Banjarmasin dan sekitarnya, kelestarian pasar terapung Kuin harus dipikirkan solusinya. Apalagi Pasar Terapung Kuin belasan tahun silam sangat dikenal hingga ke penjuru nusantara dan bahkan sempat menjadi salah satu ikon sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Seorang ibu sambil mengacungkan ibu jarinya, hampir tiap hari muncul di layar kaca, hingga pasar terapung Banjarmasin dikenal.

Terkait City of Thousand Rivers yang dilauncing Pemko Banjarmasin, selain memperbaiki dan merapikan konsep pasar terapung Jalan Pierre Tendean, nasib Pasar Terapung Kuin, juga jangan sampai dilupakan.

Program city branding dengan fokus pada sungai harus dijalankan linear, tidak semata menjual tagline, tetapi juga objek wisata yang nantinya ditawarkan ke wisatawan dari luar Kalsel, bahkan dari luar negeri. Program susur sungai, umpamanya, yang digadang-gadang jadi sarana promosi baru wisata sungai, juga mesti dikolaborasikan dengan upaya melahirkan kembali Pasar Terapung Kuin.

Alangkah lucunya bila wisatawan luar datang dan ingin menyaksikan kenangan mereka akan pasar terapung yang dilihatnya di televisi, justru tak dapat menjumpainya secara langsung di Banjamasin.

Lihat saja, seperti halnya pasar terapung di Thailand, atau kota air Venesia, tak semata promosi, tetapi wisatawan juga dapat menemui secara langsung di lokasi.

Memang, salah satu kendala yang terungkap selama ini mengenai masa depan pasar terapung, yaitu minimnya regenerasi dan perubahan pola hidup dan cara berbelanja masyarakat dari air ke darat. Warga Banjarmasin lebih akrab dengan sepeda motor dan mobil daripada jukung atau kelotok. Warga lebih merasa nyaman berbelanja di mini market modern, daripada di sungai. Ya semua merupakan bagian dari perubahan gaya hidup.

Namun, bukan berarti saat beranjak ke era modern, kita meninggalkan kekayaan budaya lokal Banjar. Karena ciri khas tradisional itulah yang dicari para wisatawan.

Saat tagline baru diluncurkan, saat itu pula Pasar Terapung Kuin bisa dihidupkan kembali, melengkapi keragaman budaya dan wisata Banjarmasin. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved