Jendela

Demo dan Kepentingan

Sejak disahkannya UU KPK yang baru, ketidakpercayaan publik terhadap DPR dan pemerintah meningkat hingga membangkitkan demonstrasi para mahasiswa.

Demo dan Kepentingan
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri(UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak disahkannya UU KPK yang baru, ketidakpercayaan publik terhadap DPR dan pemerintah meningkat hingga membangkitkan demonstrasi para mahasiswa di hampir semua kota besar di Indonesia. Kekuatan apakah gerangan yang menggerakkan anak-anak muda ini?

Roda zaman terus berputar, generasi silih berganti. Para mahasiswa yang dulu berdemonstrasi membuat rezim Soeharto jatuh pada 1998 kini sudah memiliki anak-anak yang menjadi mahasiswa. Si orangtua generasi mesin tik, si anak generasi elektronik. Si orangtua belum kenal ponsel, si anak hidup bersama ponsel. Si orangtua hanya kenal radio, TV dan koran, si anak pengguna internet dan media sosial.

Peta politik juga beda. Dulu di zaman Soeharto, kebebasan berpendapat dan berserikat sangat terbatas, sedangkan sekarang, kebebasan itu lebih terbuka. Dulu presiden dipilih oleh MPR, sedangkan gubernur, bupati, walikota diusulkan oleh DPRD dan dipilih oleh pusat. Kini semua dipilih langsung oleh rakyat. Dulu partai politik hanya tiga, dan yang selalu menang hanya satu, Golkar. Kini di tahun 2019, ada 9 partai yang masuk Senayan.

Terlepas dari banyak perbedaan itu, mahasiswa adalah salah satu unsur kekuatan masyarakat sipil yang penting dalam politik Indonesia. Sebagai anak-anak muda yang umumnya belum menafkahi diri sendiri dan keluarga, mereka relatif terbebas dari kepentingan sempit, terutama di saat-saat kritis, ketika masa depan dipertaruhkan. Mereka pun mudah bekerjasama lintas organisasi, universitas dan agama.

Tentu saja, para mahasiswa, sebagaimana para orangtua mereka, adalah manusia biasa, yang tak bebas dari kepentingan. Karena itu tak heran, akibat ‘arahan’ dari para senior, mereka bisa saja terjerumus ke jurang fanatisme organisasi, eksklusivisme keagamaan bahkan kesukuan. Kadangkala, ada pula para senior yang memanfaatkan mereka (atau tepatnya, saling memanfaatkan) demi kepentingan tertentu.

Namun, tarik-menarik kepentingan seperti itu dengan mudah bisa mereka lupakan ketika sesuatu yang besar, yang menyangkut kepentingan orang banyak, mulai terusik. Barangkali, kekuatan moral dan idealisme jiwa muda masih lebih murni dibanding para orangtua yang banyak pertimbangan. Mungkin pula jiwa muda itu memang herois, ingin jadi pahlawan. Mungkin pula, itu suara fitrah kemanusiaan kita.

Jiwa yang murni untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan itu, sesungguhnya ada pada diri tiap insan, tua atau muda. Kelemahan kita adalah, kita seringkali mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok sampai akhirnya situasi menjadi sangat buruk. Suara nurani itu terlalu lama kita abaikan. Ibarat orang yang makan seenaknya dan bekerja nyaris tanpa henti, setelah jatuh sakit, baru dia sadar dan insaf.

“Ada orang yang licik minta ampun. Korupsinya juga gila. Tetapi jabatannya naik terus. Orang seperti ini mungkin ‘dibiarkan’ Tuhan,” kata teman saya. Sebaliknya, kata dia, jika orang salah langkah, kemudian datang peringatan dan teguran dari orang lain bahkan tertangkap aparat hukum, secara relijius orang itu berarti masih disayang Tuhan. Dia masih diberi kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar.

Demikianlah, gonjang-ganjing di negeri ini, dari soal asap akibat ke(pem)bakaran hutan dan lahan, UU KPK yang baru, sejumlah RUU kontroversial hingga masalah Papua, adalah peringatan bahwa kita masih belum bisa keluar dari kepentingan sempit pribadi dan kelompok menuju kepentingan umum. Kita yang dimaksud adalah semua warga Indonesia dari pejabat, pengusaha, petani, buruh hingga mahasiswa.

Kita tentu ingin kembali normal. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah yang tepat, misalnya dengan mengeluarkan Perppu menyikapi UU KPK itu. Mahasiswa kembali kuliah untuk membekali diri menghadapi masa depan. DPR dan Presiden dilantik. Semua kembali bekerja. Yang lebih utama lagi, semua harus tetap ingat, kepentingan bersama, kemaslahatan umum, adalah tonggak persatuan kita. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved