Jendela

Nabi, Presiden dan Menteri

Hat does one dream of when the dream has been achieved? (Apa yang diimpikan seseorang ketika impiannya sudah tercapai?).

Nabi, Presiden dan Menteri
tribunnews
Pelantikan Presiden Wakil Presiden Jokowi - Maruf Amin 

OLEH: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hat does one dream of when the dream has been achieved? (Apa yang diimpikan seseorang ketika impiannya sudah tercapai?). Demikian pertanyaan pembuka yang ditulis Lesley Hazleton (2013) dalam bukunya yang populer dan cukup kontroversial, The First Muslim: the Story of Muhammad, saat memulai Bab 19 tentang pembebasan Kota Mekkah.

Bertahun-tahun Muhammad dan para pengikutya mengalami penolakan, penindasan dan pengucilan di Mekkah hingga akhirnya hijrah ke Madinah. Dengan kekuatan dari Madinah, kini Mekkah dikuasai Sang Nabi. Apakah dia berteriak-teriak kegirangan dengan bangga lalu membunuh semua musuhnya? Tidak! Ia justru menundukkan kepala, masuk Ka’bah dan berdoa. Ia mengampuni musuh-musuhnya.

Mengapa? Sebagai ‘orang luar’, Hazleton menafsirkan peristiwa ini secara psikologis. Menurutnya, kala itu Muhammad sudah tua, berusia sekitar 60 tahun. Ia tentu sudah sangat matang dibanding anak muda yang merayakan kemenangan berjingkrak-jingkrak. Selain itu, meskipun pembebasan Mekkah adalah impiannya, ia sungguh sadar betapa banyak dan berat tantangan masa depan yang dihadapi umatnya.

Untuk mendekatkan pemahaman kita akan situasi batin Muhammad, Hazleton membandingkannya dengan pengalaman Václav Havel, penulis drama yang menjadi Presiden Cekoslovakia setelah runtuhnya rezim komunis disusul pelaksanaan pemilu bebas yang pertama. Havel mencatat, ada perasaan gembira dan bebas bahkan tak percaya bahwa rezim yang sangat kuat itu akhirnya runtuh di hadapan mereka.

Namun, kata Havel lagi, setelah dia mencapai kemenangan dalam pemilu, perasaan gembira itu hanya sesaat, kemudian berlalu. Energi yang menggebu, yang semula menguasai dirinya dan kawan-kawan, tiba-tiba menurun. Dia mulai lelah dan suntuk. Pada saat itulah muncul kesadaran betapa berat beban tanggung jawab yang akan dipikul. Puisi harus diubah menjadi prosa. Impian harus menjadi kenyataan.

Ulasan Hazleton di atas kiranya serupa dengan apa yang dirasakan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, yang telah dilantik kemarin. Wajar jika orang merasa gembira dan ‘bebas’ setelah berhasil melewati pemilu yang amat menguras energi, biaya, pikiran, perasaan, waktu bahkan korban jiwa. Paling tidak untuk sementara, perang para pendukung di dunia maya dan nyata tidak lagi relevan.

Namun, rasa terbebaskan itu hanya akan berlalu sekejap. Ketika sumpah jabatan dibacakan, tampaklah betapa berat amanah yang dipikul sang pemimpin. Janji-janji pemilu adalah hutang yang harus dilunasi. Sementara orang-orang yang berkepentingan hilir-mudik memohon, meminta bahkan mungkin pula ‘memaksakan’ kepentingan mereka. Tantangan begitu banyak. Tugas-tugas berat telah menunggu.

Dalam menjalankan tugas berat itu, presiden tidak bisa bekerja sendirian. Ia perlu dibantu oleh para menteri. Sehebat apapun gagasan sang presiden, dan sejujur apapun dirinya, jika para pembantunya tidak mampu atau tidak mau melaksanakan tugas yang diberikan presiden, dan/atau tidak jujur dan bersih, maka kegagalan sudah siap menanti. Ibarat tubuh, para menteri adalah kaki-tangan presiden.

Di era Reformasi ini, ketika partai politik terlibat langsung dalam pilpres, tentu amat sulit bagi presiden untuk menolak tagihan jatah menteri dari partai-partai pendukung. Di sisi lain, secara konstitusional, presiden punya hak untuk menunjuk orang yang dikehendakinya meskipun di luar partai. Bagi rakyat, entah itu dari partai atau bukan, yang penting adalah si menteri benar-benar mampu dan berintegritas.

Seperti halnya presiden dan wakil presiden, para menteri yang dilantik presiden juga merasa lega dan gembira. Sangat mungkin, menjadi menteri adalah impian mereka siang dan malam. Namun kita tentu berharap, mereka tidak berlama-lama dalam kegembiraan apalagi berpesta-pora. Seperti teladan Nabi, saat kemenangan diraih, ia justru memilih menyepi di dalam Ka’bah, menutup pintunya dan berdoa. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved