Jendela

Nasruddin dan Pencuri

ALKISAH, suatu malam pencuri menyelinap masuk ke rumah Nasruddin. Ketika si pencuri membuka lemari, dia kaget bukan main.

Nasruddin dan Pencuri
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri(UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALKISAH, suatu malam pencuri menyelinap masuk ke rumah Nasruddin. Ketika si pencuri membuka lemari, dia kaget bukan main. Ternyata di dalam lemari itu ada Nasruddin! Dengan lagak mengancam, pencuri itu bertanya, “Mengapa kamu bersembunyi di lemari ini?” Dengan santai Nasruddin menjawab, “Karena aku malu padamu. Aku tak punya barang berharga apapun yang dapat kau curi.”

Apa pesan moral di balik anekdot ini? Mungkin kita menyangka bahwa Nasruddin memang benar-benar malu karena tidak memiliki apa-apa. Kita seringkali menilai hidup dari benda-benda berharga yang kita miliki. Demi memiliki sesuatu, kita tega mencuri bahkan merampok milik orang lain, milik pribadi atau milik publik. Kita berebut jabatan, juga karena ingin menggunakannya untuk memiliki segala sesuatu.

Kita hidup pada era serba ekstrem, serba berlebihan. Kita sangat gandrung kepada yang serba-banyak, serba-besar, serba-kuat, serba-luas, serba-cepat dan seterusnya. Anehnya, segala yang berlebihan itu tampaknya tak pernah membuat kita puas. Ibarat meminum air laut yang tidak bisa menghentikan rasa haus. Tak pernah ada kata cukup. Ingin terus memiliki dan memiliki. Segala macam cara pun dihalalkan.

Padahal, pesan moral di balik anekdot ini justru sebaliknya. Nasruddin ingin mengingatkan bahwa orang yang paling kaya adalah orang yang tidak terikat hatinya dengan benda-benda di luar dirinya. Karena tidak terikat, maka dia adalah manusia merdeka yang sejati. Bukannya dikendalikan, dia justru bisa mengendalikan benda-benda di luar dirinya. Dia menjadi subjek atau pemain nyata bagi hidupnya.

Nasruddin adalah gambaran tentang sosok seorang sufi. Salah satu ajaran yang menonjol di kalangan kaum Sufi adalah zuhud atau asketisme. Ungkapan yang sering dikutip soal zuhud adalah ‘tidak memiliki dan dimiliki apapun” (lâ yamliku syai’an walâ yamlikuhu syai’un). Mungkin zuhud adalah mengkonsumsi minimal tetapi demi tujuan yang optimal. Mungkin pula, zuhud adalah miskin sukarela, bukan terpaksa.

Munculnya gerakan zuhud, terutama generasi awal di abad ke-8 M, merupakan reaksi keras terhadap gaya hidup para penguasa yang bermewah-mewah dan penuh maksiat. Para sufi itu mengingatkan bahwa apa yang dinikmati elit penguasa ketika itu sesungguhnya hanyalah fatamorgana belaka. Nilai manusia tidak terletak pada kekayaan dan kekuasaannya, tetapi pada kebaikan hati dan perbuatannya.

Namun, apa yang terjadi di masa lampau, bukan berarti tidak ada kesamaan sama sekali dengan masa kini. Manusia tetaplah manusia yang sama, meskipun peradaban manusia terus berubah. Manusia mempunyai nafsu memiliki dan menguasai, yang jika tak terkendali, bisa menjadi sangat serakah dan buas. Yang dapat mengendalikan nafsu itu adalah ruh, kekuatan spiritual atau kedirian kita yang sejati.

Dalam bahasa Arab, kata rûh seakar dengan kata rîh yang artinya angin. Laksana angin, ruh itu tidak bisa dilihat, tetapi dapat dirasakan kehadirannya. Begitu pula, nilai-nilai ruhani seperti syukur, sabar, cinta, rela, memaafkan, takut dan harap kepada Allah, adalah sesuatu yang tak terlihat oleh mata tetapi sangat menentukan bahagia-derita hidup manusia. Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebutnya suasana hati.

Orang seperti Nasruddin adalah orang yang ruhnya berhasil mengendalikan nafsunya sehingga suasana hatinya damai dan merdeka. Inilah tugas berat setiap manusia. Tidak mudah untuk membebaskan diri dari jeratan nafsu duniawi. “Musuhmu yang paling kuat adalah nafsu di dalam dirimu,” kata Nabi. Sebelum terjun melawan kejahatan di luar, orang harus mengalahkan kejahatan di dalam dirinya sendiri.

Akhirnya, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, jika kita mengaca pada anekdot di atas, apakah diri kita diwakili oleh pencuri ataukah Nasruddin? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved