Opini Publik

Saatnya Peduli Sampah Plastik

Dalam sebuah tulisan Alam Semesta Menolak Plastik, majalah Intisari (Oktober 2019) mengangkat sebuah analisis bahwa plastik adalah sampah abadi,

Editor: Didik Triomarsidi
BPost Cetak
Pribakti B - Dokter RSUD Ulin Banjarmasin 

Oleh: Pribakti B, Dosen FK ULM dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dalam sebuah tulisan Alam Semesta Menolak Plastik, majalah Intisari (Oktober 2019) mengangkat sebuah analisis bahwa plastik adalah sampah abadi, tidak hanya akan sulit terurai, tetapi juga akan merusak perairan dan menimbulkan bibit penyakit.

Berbagai upaya juga telah ditempuh pemerintah Indonesia untuk mengurangi penggunaan plastik di masyarakat. Misalnya saja penerapan kantong plastik berbayar di beberapa retail. Hasilnya tidak terlalu signifikan, aturan ini juga belum konsisten diterapkan.

Padahal masa depan suatu bangsa amat bergantung pada keseriusan negara menyiapkan generasi penerus, dalam hal ini menciptakan generasi unggul. Persaingan antar negara ke depan dipastikan makin kompetitif. Negara yang mampu mencetak generasi unggul akan mendominasi, sedangkan yang kalah bersaing akan tertinggal.

Tentu kita tak ingin jadi penonton persaingan kemajuan negara-negara lain jika tidak ingin disebut sebagai negara konsumtif. Kita harus masuk dalam kompetisi tersebut. Bagaimana caranya? Kita harus menyiapkan anak-anak yang berkualitas sejak dalam kandungan, saat lahir dan dalam masa pertumbuhan dengan pemenuhan kebutuhan gizi sehingga mereka dapat lahir dan tumbuh, sehat, kuat dan cerdas.

Ironinya di negeri ini tiada hari tanpa sampah plastik. Berdasarkan penelitian, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikeluarkan pada tahun 2016, setiap tahunnya Indonesia menghasilkan sekitar 9,85 miliar lembar sampah kantong plastik . Sampah tersebut dihasilkan oleh kurang lebih 90 ribu gerai ritel modern di seluruh Indonesia. Sementara itu plastik membutuhkan waktu antara 20 hingga 500 tahun untuk dapat terurai. Dapat dibayangkan betapa tumpukan sampah plastik di Indonesia dapat mengganggu kelestarian lingkungan.

Pada tahun 2015 lalu, Jurnal Science juga sudah mencatat bahwa setidaknya sebanyak 12,7 juta ton plastik dibuang ke laut tiap tahunnya. Indonesia sendiri berada pada peringkat kedua. Pastinya, plastik ini akan menjadi sampah abadi di lautan. Laut akan tercemar. Ikan terdampak penyakit.

Bahkan, seperti disimpulkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ikan teri saja sudah memakan sisa-sisa plastik. Ini terjadi karena ada plastik yang terurai hingga ukuran 0,2 mm. Inilah yang sudah dikonsumsi ikan teri. Kelak, anak-cucu kita juga akan ikut “mengonsumsi” plastik. Sangat mengerikan! Jadi tidak usah heran bila mereka akan menjadi generasi-generasi berpenyakitan. Ini akibat ulah kita yang doyan menggunakan plastik. Coba diingat-ingat keseharian kita bergelimang plastik: di kamar tidur, di kebun, di kamar mandi, di ruang pertemuan juga di ruang ibadah.

Menurut hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2017 disebutkan bahwa hanya 9,29 persen rumah tangga saja yang selalu membawa tas sendiri ketika belanja, artinya tidak sampai sepersepuluh.

Mereka yang tak membawa tas belanja dapat dipastikan sepulang dari belanja, kantong plastik akan dibuat menjadi “oleh-oleh” wajib. Ini belum dihitung dengan berapa kali masyarakat belanja dalam sehari. Ini juga belum dihitung dengan semua jenis makanan ringan yang di kemas dalam bentuk plastik. Jika ini sudah dihitung, tak terelakkan lagi, sampah plastik akan semakin membludak.

Disisi lain, efek turunannya dari plastik tak dapat dimungkiri lagi, sampah “abadi” akan menggunung, tanah tercemar, air terdampak dan sebagainya. Entah sampai kapan . Dan, secara jujur bahwa dengan posisi regulasi seperti saat ini, kebiasaan ini tidak akan berakhir karena rakyat akan tetap gemar menggunakan plastik.

Tulisan ini barangkali terlalu pesimistis bahwa kebiasaan menggunakan plastik ini tidak akan berhenti. Pasalnya, bagaimana kita akan optimistis jika tak ada kebijakan yang dibuat? Bagaimana pula kita akan tetap optimistis jika setelah dibuat kebijakan, hasilnya nyata-nyata gemilang-segemilangnya, tetapi kebijakan itu malah dimentahkan sementah- mentahnya di tengah jalan?

Yang paling disesalkan ketika pemerintah menarik kebijakan plastik berbayar. Pemerintah semestinya mengambil posisi sebagai pihak yang berpikir visioner bahwa plastik itu sampah abadi.

Pemerintah seharusnya mengambil peran sebagai pelecut kesadaran, bukan pemanja masyarakat. Bagaimanapun kesadaran itu sangat sukar tumbuh. Seseorang bisa saja sudah sadar agar berhemat plastik. Namun, ketika seseorang itu melihat orang gemar memakai plastik, kesadaran orang tersebut akan goyah. Kesadaran kita goyah karena ketidaksadaran orang lain.

Sesungguhnya kesadaran dan peduli akan bahayanya sampah plastik itu bisa dibentuk. Cara membentuknya gampang, bisa dengan mengondisikan, bisa pula dengan “memaksa”. Dan hukum menjadi salah satu alat “memaksa“, tapi jika negara tanpa hukum yang “memaksa”, pasti umat akan saling membantai.

Hukum itu, misalnya, bisa dengan menerapkan plastik berbayar. Hukum ini bisa disertai dengan edukasi berkesinambungan, sebab dengan “paksaan” dan edukasi, kesadaran akan gampang dibentuk.

Jadi yang teramat penting, pemerintah harus mengambil posisi sebagai pelecut kesadaran warganya untuk mencegah tumpukan sampah plastik. Selamat Hari Kesehatan Nasional, 12 November! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved