Jendela

Teror dan Moderasi

Minggu lalu, Rabu, 11 November 2019, telah terjadi serangan teror bom bunuh diri di Mapolresta Medan. Dalam empat hari, polisi menangkap 18 orang.

Teror dan Moderasi
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Minggu lalu, Rabu, 11 November 2019, telah terjadi serangan teror bom bunuh diri di Mapolresta Medan. Dalam empat hari sejak kejadian itu, polisi telah menangkap 18 orang tersangka, dua orang tewas ditembak, dan satu orang melarikan diri (Kompas 17-11-2019).

Entah kenapa, kali ini berita teror bom bunuh diri itu tidak begitu mengejutkan bagi saya dibanding beberapa tahun silam. Saya mulai khawatir dengan diri saya. Bukankah orang membunuh dirinya sendiri untuk membunuh orang lain adalah suatu kekejaman sekaligus kegilaan? Lebih memilukan lagi jika tindakan itu dilakukan atas nama agama dan Tuhan. Lalu, mengapa saya jadi kurang tersentuh?

Saya mencoba mencari sebabnya. Mungkin karena kejadiannya di Sumatera Utara, jauh dari Kalimantan, sehingga saya merasa tidak terdampak. Mungkin karena jumlah korban tidak banyak. Tetapi mungkin pula karena saya cukup sering menerima berita serangan teror semacam itu. Apalagi jika ditambah berita-berita serupa di Timur Tengah. Akibatnya, sesuatu yang luar biasa menjadi biasa-biasa saja.

Alasan terakhir itu, yakni merasa terbiasa dengan berita serangan bom bunuh diri, sungguh berbahaya. Namun, saya khawatir, justru hal inilah yang kini terjadi. Sudah menjadi rumus kehidupan, sesuatu yang seringkali terulang, akan menjadi kebiasaan. Seperti kata Thomas Lickona, kebiasaan akan melahirkan karakter, dan karakter akan menjadi nasib kita. Maukah Anda jika nasib kita ditentukan oleh terorisme?

Mungkin nalar di atas terkesan berlebihan karena terorisme masih merupakan fenomena kecil di tengah bangsa Indonesia yang besar. Namun jika dicermati lebih jauh, terorisme hanyalah salah satu gejala dari gejala umum zaman ini yang doyan dengan hal-hal yang ekstrem alias berlebihan. Bagi orang sekarang, yang sempurna itu adalah yang serba-kuat, serba-banyak, serba-cepat, serba-tinggi, serba-raksasa.

Lihatlah ekonomi dan teknologi informasi zaman ini. Ekonomi dianggap maju jika tingkat konsumsinya tinggi. Padahal, ini artinya keserakahan, dan teknologi digunakan untuk melayani keserakahan itu. Lihat pula teknologi informasi saat ini, yang dapat menyimpan, memproduksi dan mendistribusi informasi nyaris tanpa batas. Hasilnya, kita justru terkena tsunami informasi yang membuat kita bingung.

Dalam memandang hidup, orang juga mulai terdorong kepada dua sudut ekstrem, yakni pandangan yang serba-mutlak atau serba-nisbi. Yang serba-mutlak mendaku telah menggenggam kebenaran sehingga orang lain yang berbeda dianggap hitam laksana setan. Sebaliknya, yang serba-nisbi menilai, semua pemikiran, ideologi dan agama adalah relatif. Tak ada sama sekali prinsip yang harus dipegang.

Dalam keadaan seperti inilah, seruan kepada moderasi, jalan tengah, jalan keseimbangan, menemukan relevansinya. Moderasi berarti posisi tengah, laksana moderator dalam diskusi. Alqur’an menyebutnya wasathan, seakar dengan kata ‘wasit’ yang menjadi penengah dalam pertandingan. Jika divisualisasikan, tengah di sini bisa berarti titik tengah pada sebuah garis lurus atau titik tengah pada sebuah lingkaran.

Dengan demikian, moderasi itu memiliki dua makna. Pertama, moderasi di antara dua perbedaan polar yang berhadap-hadapan. Takut dan nekad itu sama-sama ekstrem. Yang moderat adalah yang di tengah. Kedua, moderasi di antara perbedaan variatif. Di sini moderasi berarti menemukan persamaan dalam perbedaan. Agama-agama itu memang berbeda, tetapi tentu ada pula titik temu di balik perbedaan itu.

Alhasil, terorisme adalah peringatan bahwa dunia kita sedang tidak seimbang alias sakit. Keseimbangan akan dicapai jika kita kembali ke titik tengah, titik pusat atau moderasi. Moderasi itu harus dimulai dari penanaman nilai-nilai moderasi itu sendiri pada diri setiap orang. Pada tataran publik, moderasi berarti langkah-langkah strategis untuk menciptakan pemerataan, kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved