Tajuk

Perang Melawan Teroris

PERANG melawan teroris tidak ada batas waktunya. Harus terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini Detasemen Khusus (Densus) 88.

Perang Melawan Teroris
PERSDA NETWORK/BINA HARNANSA
Ilustrasi Densus 88 

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERANG melawan teroris tidak ada batas waktunya. Harus terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini Detasemen Khusus (Densus) 88.

Kita senang, satu demi satu teroris yang mengganggu keamanan dan kenyamanan hidup warga di republik ini sudah ditangkapi, malah ada yang tewas dalam baku tembak.

Yang terbaru, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap tiga terduga teroris di Solo, Jawa Tengah, Senin (18/11/2019) pagi. Mereka adalah Junduloh, warga Nayu Timur RT 4 RW 18 Kelurahan Nusukan Kecamatan Banjarsari. Junduloh merupakan sales perusahaan makanan.

Dua lainnya, Vrisnomi (36), warga Kauman RT 3/RW 5 Kecamatan Pasar Kliwon. Sehari-harinya dia bekerja sebagai karyawan lepas sebuah toko buku di Kampung Batik Kauman dan juru parkir. JM warga Kampung Sidodadi RT 5/RW 1 Pajang, Laweyan. Oleh warga dia dikenal sebagai ustadz yang cukup baik.

Dari tiga lokasi penangkapan terduga teroris, di Pajang, Nusukan dan Pasar Kliwon, itu Densus juga mengamankan sejumlah barang yang dicurigai seperti komputer, laptop, handphone, flashdisk, buku jihad dan kartu identitas.

Dibalik rasa senang itu, terselip juga rasa sedih. Meski sudah ditangkapi dan ada yang tertembak mati, aksi pemboman atau bom bunuh diri masih saja terjadi. Terakhir aksi bunuh diri di Polrestabes, Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11/2019). Ada enam orang yang menjadi korban luka akibat ledakan itu. Identitas terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan, bernama Rabbial Muslim Nasution.

Banjarmasin Post edisi Rabu (20/11/2019).
Banjarmasin Post edisi Rabu (20/11/2019). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Kita berharap dengan tertangkapnya tiga orang terduga teroris di Jawa Tengah itu Densus 88 harus bekerja lebih keras lagi. Karena tidak menutup kemungkinan pemboman atau teror di negeri ini masih terjadi. Oleh karena itu Densus 88 harus tetap waspada dan mengantisipasi keberadaannya.

Mau tidak mau, sekarang ini para orangtua harus lebih peka terhadap aktivitas anaknya di media sosial. Dan tidak kalah penting lagi, orangtua harus membangun ketahanan keluarga terhadap paham-paham yang membahayakan.

Ketahanan keluarga menjadi senjata yang ampuh untuk mematahkan doktrin ‘jihad’ disebarkan kelompok-kelompok radikal di media sosial. Kalau ketahanan keluarga rendah, doktrin yang ditanamkan kelompok garis akan mudah masuk dalam keluarga, salah satu pintu masuknya adalah media sosial.

Kondisi terakhir inilah yang saat ini terjadi. Beberapa orangtua tidak mampu ‘menangkal’ doktrin yang mengajak anak-anak untuk melakukan kekerasan dan bahkan pemboman kepada orang lain.

Sebelum anak-anak kita terpapar doktrin ‘jihad’ kita harus bekerja sama dengan aparat keamanan, Densus 88. Kita pun harus ikut aktif memerangi teroris, dengan cara mengawasi anak-anak kita dalam bermedia sosial. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved