Suara Rekan
Era Anak Muda
LAGI-lagi Presiden Joko Widodo dikritik karena memilih tujuh staf khususnya yang masih muda, belum berpengalaman dan hanya dianggap sebagai pemanis
Oleh: Pramono BS
BANJARMASINPOST.CO.ID - LAGI-lagi Presiden Joko Widodo dikritik karena memilih tujuh staf khususnya yang masih muda, belum berpengalaman dan hanya dianggap sebagai pemanis “ruang” kepresidenan. “Bertemu pun paling juga setahun sekali”, kata pengeritiknya. Ada 14 staf khusus yang akan membantu presiden, tujuh yang lain adalah para pakar.
Memang benar ketujuh stafsus itu belum banyak mereguk pengalaman di lapangan karena faktor usia, tapi mereka anak-anak berprestasi dalam bidangnya. Jokowi memerlukan mereka untuk menjawab tantangan ke depan. Ini baru pertama kalinya terjadi dan Jokowi cukup cerdik menghadirkan nuansa yang lain dalam membuat kebijakan. Sekarang dan ke depan seorang presiden tak bisa lain memang pemimpinnya kaum milenial sesuai dengan komposisi jumlah penduduk yang didominasi usia muda.
Staf khusus bukanlah jabatan struktural yang berkonsekuensi terhadap membengkaknya anggaran karena terkait dengan beban tanggung jawab. Staf khusus lebih pada profesionalisme, sehingga berbeda dengan pejabat seperti menteri. Mereka akan menjadi teman diskusi Jokowi kapan pun dan bidang apa pun sesuai keahlian mereka. Ini penting agar dalam mengambil kebijakan bisa menyentuh kebutuhan semua kalangan, istilah kerennya sesuai kebutuhan pasar.
Niat Jokowi ini sudah nampak sejak ia memilih pembantunya. Banyak orang terperanjat ketika bos Gojek Nabiel Anwar Makarim diangkat jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Atau wakil-wakil menteri yang berusia 30 an. Jokowi ingin pendidikan bisa menjawab tantangan masa depan. Sedang wakil-wakil menteri yang masih muda diharapkan bisa memberikan nuansa baru. Bahwa ini merupakan balas jasa pada parpol bisa juga, tapi Jokowi pasti punya misi sendiri.
Jangan sampai kaum milenial kita hanya menjadi penonton bahkan menjadi pasar dari produk asing tanpa kita bisa mengambil keuntungan. Misalnya saja, berapa juta telepon genggam yang beredar di Indonesia, nilainya trilyunan tapi kita hanya bisa memembeli saja. Itu baru perangkat kerasnya, belum perangkat lunaknya. Ke depan akan semakin parah kalau kita tidak mengubah cara berfikir. Lihat saja, anak-anak balita pun sekarang sudah pegang telepon pintar mulai mainan sampai yang beneran.
Kita sudah terlalu mapan dan nyaman dengan keadaan sekarang tanpa menyadari apa yang akan terjadi ke depan. Sedikit saja perubahan sudah mendapat reaksi keras. Contoh ketika Menteri BUMN Eric Tohir berencana menempatkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di Pertamina, entah di direksi atau komisaris, penolakan begitu deras.
Serikat Karyawan Pertamina paling dulu menyampaikan penolakannya dengan alasan Ahok itu kasar, penista agama, pernah dihukum, bukan ahli perminyakan dan sebagainya. Pemikiran ini berbeda dengan mereka yang rata-rata menginginkan Pertamina yang bersih, bebas dari mafia migas, bisa menjadi sumber pendapatan negara dll. Apa bedanya dengan mantan Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah yang diisukan menjadi Dirut PLN padahal dia juga bukan ahli listrik karena dia sarjana hukum. Toh PLN tenang-tenang saja. Chandra Hamzah kini menjadi Komisaris Utama Bank Tabungan Negara.
***
Seperti itu lah situasi Indonesia saat ini. Kehadiran anak-anak muda di lingkaran presiden diharapkan bisa memberikan warna baru. Sulit mencari penguasa yang “lebur” dengan rakyat dan Jokowi akan mencoba itu dengan menyerap aspirasi dan pemikiran mereka. Keputusannya merangkul kaum milenial ini adalah sinyal yang harus diantisipasi.
Kepercayaan Jokowi sekaligus bisa memberikan keyakinan pada generasi penerus bahwa anak muda zaman sekarang bukanlah kaum teler yang senang kebut-kebutan di jalan, narkoba, minuman keras, tawuran atau ngelem (menghisap uap lem) sampai mabok. Lebih tragis lagi terseret arus radikalisme, ikut jadi teroris yang rela mengorbankan dirinya lewat bom bunuh diri yang umumnya anak muda juga.
Ketakutan kaum tua (kalau ada) tidak beralasan. Soekarno, Hatta, Syahrir dan tokoh lain di masa itu juga berjuang sejak usianya di bawah 30 an. Pengusaha muda yang sukses sekarang juga bekerja tanpa fasilitas, beda dengan zamannya pengusaha muda di masa Orde Baru. Lihat saja Gojek, Bukalapak dan beberapa lainnya, semua dinahkodai anak muda. Artinya anak muda akan banyak berperan jika diberi ruang, bukan fasilitas. Pengalaman anak-anak muda itu penting untuk membantu presiden membuat kebijakan. Jangan sia-siakan kesempatan, ini eranya anak muda. (*)