Jendela

Generasi Idaman

WADUH, bertambah lagi calon sarjana pengangguran,” komentar seseorang di media sosial, menanggapi foto-foto wisuda. Mungkin baginya

Generasi Idaman
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri(UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - WADUH, bertambah lagi calon sarjana pengangguran,” komentar seseorang di media sosial, menanggapi foto-foto wisuda. Mungkin baginya, sarjana itu baru dianggap bekerja jika menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) alias Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal, kita maklum bahwa peluang menjadi ASN itu umumnya sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah pelamar yang membludak. Tahun ini masih begitu adanya.

Mengapa? Mungkin karena mencari kerja yang layak dengan penghasilan memadai saat ini semakin sulit. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, sebagaimana dikutip CNN Indonesia (5/11/2019), per Agustus 2019, angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,05 juta orang, dan 5,28 persen di antaranya adalah pengangguran terbuka. Adapun orang-orang yang bekerja tercatat berjumlah 126,51 juta orang.

Alasan lain mungkin karena kehidupan sebagai ASN cukup bergengsi dan menjanjikan. Dulu di masa Orde Baru, gaji PNS memang pas-pasan. Tidak merana sekali, tetapi tidak juga sejahtera. Namun, setelah Era Reformasi, dimulai oleh Presiden Abdurrahman Wahid, gaji PNS dinaikkan berlipat-lipat. Kemudian ditambah lagi dengan tunjangan jabatan, tunjangan kinerja, tunjangan sertifikasi dan lain-lain.

Apalagi putaran roda ekonomi saat ini susah diprediksi. Gaji rutin yang lumayan tentu lebih memberikan jaminan rasa aman dibanding penghasilan bisnis yang turun-naik bahkan bisa mendadak bangkrut. Gaji seorang ASN golongan bawah sekalipun akan dapat mencukupi keperluan hidup jika dikelola dengan baik. Selain itu, keluarga ASN juga mendapat jaminan kesehatan melalui BPJS sesuai pangkatnya.

Di sisi lain, boleh jadi pula ada sebab lain yang sifatnya negatif, yaitu bahwa para sarjana kita memang kurang kreatif dan inovatif. Menjadi ASN itu ibarat memasuki pintu yang sudah ada, meskipun berdesak-desakan. Kalau sudah masuk, semua tampaknya akan aman. Adapun berwirausaha atau membuat pekerjaan untuk diri sendiri, ibarat membuat pintu baru, yang tentu jauh lebih sulit dan menantang.

Apalagi, setelah masuk menjadi ASN, orang harus mengikuti tata aturan birokrasi yang tak jarang bisa mengekang kreativitas dan inovasi. ASN yang baru diangkat terpaksa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan para seniornya. Jika budaya yang berlaku masih ‘Asal Bos Senang’ (ABS), maka akan matilah potensi kreativitas dan inovasinya. Semula dia takut berinisiatif. Lama-lama akhirnya terbiasa dan beku.

Pada 1990-an, seorang cendekiawan Muslim mengatakan, kaum Muslim Indonesia ini tidak maju gara-gara paham Jabariyah, yakni paham yang pasrah pada takdir dan nasib, sehingga tidak kreatif. Orang pun ribut menanggapi pendapat ini. Salah satu tanggapan yang tajam mengatakan, kalau kita perhatikan rakyat Indonesia, mereka justru bekerja keras banting tulang tiap hari. Yang malas itu malah PNS!

Bagi kita yang menjadi ASN, kritik tersebut mungkin terlalu keras, tetapi bermanfaat untuk introspeksi. Harus diakui, sebagian dari ASN memang malas bekerja dan tidak punya gagasan-gagasan baru untuk peningkatan pelayanan ataupun kinerja lembaga. Kalau diperintah, baru bekerja. Setelah diperintah pun, kalau tidak diawasi, akan bekerja asal-asalan. Kehadiran di kantor seolah rutinitas tanpa makna.

Keadaan inilah kiranya yang membuat pemerintah belakangan membuat seleksi ASN lebih ketat dan terbuka, agar kelak orang-orang yang terjaring memang yang terbaik. Karena itu, dapat dipahami mengapa ada ujian model CAT (Computer Assisted Test). CAT antara lain berguna untuk mencegah permainan nakal dalam seleksi calon ASN, baik melalui uang, hubungan keluarga ataupun kekuasaan.

Namun, tentu sangat naif jika kita hanya mengandalkan CAT. Dalam jangka panjang, pola pendidikan anak-anak kita dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi harus semakin mendorong kretivitas dan inovasi. Disiplin dan kemandirian, tidak cukup hanya diceramahkan, melainkan dipraktikkan. Kejujuran harus benar-benar ditanamkan menjadi keyakinan bahwa orang yang jujur akan sukses dan bahagia.

Alhasil, jika generasi muda kita adalah orang-orang yang kreatif, inovatif dan jujur, maka bangsa kita akan melesat maju. Jika mereka lulus menjadi ASN, mereka akan membuat birokrasi kita benar-benar sehat dan berkinerja tinggi. Jika mereka tidak menjadi ASN, mereka akan membuat terobosan-terobosan baru di dunia yang jauh lebih luas daripada kantor-kantor lembaga pemerintahan. Merekalah generasi idaman kita. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved