Opini Publik
Milenial Membaca
Membaca mesti dibudayakan guna menambah informasi dan pengetahuan, mampu berpikir kritis, dan memahami berbagai peristiwa yang terjadi.
Oleh: Devi Monita Kristyningsih
Mahasiswi S2 University College London, United Kingdom
BANJARMASINPOST.CO.ID - “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan,” ucap Goenawan Mohamad, sastrawan terkemuka Indonesia. Pernyataan itu menegaskan pentingnya membaca dalam kehidupan.
Membaca mesti dibudayakan guna menambah informasi dan pengetahuan, mampu berpikir kritis (critical thinking), dan memahami berbagai peristiwa yang terjadi. Lebih dari itu, membaca menambah referensi cara hidup lebih baik dan membantu menemukan solusi ketika menghadapi masalah.
Bangsa yang gandrung membaca tentu maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara-negara di Eropa menjadi buktinya. Dari pengalaman penulis yang kini tinggal di Inggris, sangat banyak menemui generasi muda asyik membaca di kereta, bus, bandara, kafe, taman, dan tempat-tempatumum.
Perpustakaan padat pengunjung menjadi hal biasa bahkan di malam hari. Mereka memanfaatkan waktu untuk menambah ilmu. Sayang, hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Pemandangan intelektual seperti itu jarang ditemukan. Mayoritas generasi milenial di tanah air memilih nongkrong di tempat yang instagrammable tanpa bahan bacaan.
Hal ini didukung berbagai hasil penelitian internasional. Dari data United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Bayangkan, hanya satu dari 10.000 orang Indonesia yang hobi membaca. Berbanding terbalik dengan jumlah anak muda yang aktif menggunakan internet khususnya media sosial.
Laporan berjudul “Essential Insights into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around the World” (2018) menyimpulkan, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosial mencapai 130 juta dan didominasi generasi milenial. Sayang, intensitas pemanfaatan internet untuk mengakses media sosial jauh lebih besar ketimbang mengakses bahan bacaan.
Tak heran, banyak generasi muda terpapar berita bohong (hoax), bahkan turut menyebarkannya. Hal ini rentan terjadi pada saat musim politik dan aksi demontrasiyang berujung kericuhan. Penyebabnya tak lain karena mereka begitu gampang menyebarkan berita bohong media sosial tanpa membaca berita valid dari media kredibel sebagai pembandingnya.
Dampak lainnya, budaya menyontek di sekolah dan plagiarisme di perguruan tinggi. Karena malas membaca dan mempelajari buku sekolah, pelajar lebih mengedepankan jalan pintas dengan menyontek atau membuat catatan kecil saat ujian.
Hal yang sama terjadi pada mahasiswa saat mengerjakan tugas karya ilmiah. Beberapa tahun terakhir, marak berita kasus plagiarisme di berbagai perguruan tinggi di tanah air. Selain itu, pelajar dan mahasiswa menjadi tidak kritis dalam berpikir, minim kreativitas, dan rendah kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Hal itu teruji saat forum, rapat, ataupun diskusi, mereka tidak mampu memberikan gagasan dan solusi.
Problem minat baca tidak bisa dianggap remeh, terlebih di kalangan generasi muda. Rendahnya pengetahuan dan wawasan akibat minat baca yang rendah, berbanding lurus dengan tingkat partisipasi mereka dalam membangun bangsa di masa depan. Karenanya, perlu sejumlah upaya untuk meningkatkan minat baca mereka.
Hal ini dimulai dari lingkungan terdekat,yakni keluarga. Menurut Zakiyah Daradjat (2012), orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Sayang, selama ini banyak orangtua tidak memberi perhatian lebih pada literasi baca anaknya. Karenanya, orangtua lebih dulu harus sepakat bahwa membaca sangat esensial untuk masa depan anak.
Langkah kecil yang bisa dilakukan dengan membaca buku dongeng kepada anak dan membuat rak berisi buku-buku menarik di rumah. Menciptakan atmosfir cinta baca dengan langkah sederhana itu mampu membiasakan anak bergaul dengan buku. Selain itu, di waktu senggang, orangtua bisa mengajak anak ke perpustakaan daerah dan toko buku untuk membaca atau membeli buku yang menarik untuk usia mereka.
Di era digital saat ini pun, orangtua mesti cerdas memanfaatkan gadget pribadi anak atau keluarga dengan memasang aplikasi perpustakaan online. Pusat maupun sejumlah daerah sudah menyediakan aplikasi perpustakaan yang bisa diakses masyarakat. Hal ini tentu bisa mereduksi hal-hal negatif yang mungkin bisa dilakukan anak saat menggunakan gadget.
Pemerintah juga punya peran penting dalam meningkatkan minat baca generasi muda. Pengadaan perpustakaan desa/keluharan mesti dijadikan agenda prioritas. Selama ini, perpustakaan daerah berada di tingkat kabupaten/kota. Bagi penduduk di kota, akses ke lokasi lebih mudah. Berbeda dengan perpustakaan di kabupaten. Akses warga desa ke lokasi jauh yang pada akhirnya membuat mereka mengurungkan niat untuk pergi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/perpustakaan-palnam-kota-banjarmasin_20180805_090636.jpg)