Tajuk

Sinyal si Nyamuk

Memasuki musim penghujan, pemerintah cukup disibukkan dengan datangnya bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung yang melanda

Sinyal si Nyamuk
FOTO KIRIMAN DINKES BALANGAN UNTUK BPOST GROUP
Pengasapan atau fogging di Balangan untuk membunuh nyamuk pembawa penyakit demam berdarah (aedes aegypti). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Memasuki musim penghujan, pemerintah cukup disibukkan dengan datangnya bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung yang melanda sejumlah daerah. Berbagai upaya penanganan dan antisipasi pun dilakukan agar musibah yang terjadi jangan sampai menimbulkan korban jiwa.

Tapi di tengah kesibukan pemerintah bersiap diri mengantisipasi bencana di berbagai daerah ketika memasuki musim penghujan, ada satu hal lagi yang harus diwaspadai dan diantisipasi oleh pemerintah.

Apa itu? Mewabahnya Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit menular akibat virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.

Ya, saat memasuki musim penghujan, kasus DBD kerap meningkat seiring meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti. Masalahnya, nyamuk ini mudah berkembang biak melalui genangan-genangan air di botol atau kaleng bekas atau sarana lainnya yang memungkinkan nyamuk ini berkembang biak.

Di beberapa daerah di Kalsel, serangan DBD mulai terjadi. Misalnya di Balangan, sepanjang Januari tercatat sedikitnya ada 10 kasus. Kemudian di Tanahbumbu sepanjang Januari tercatat sedikitnya ada empat warga yang positif terserang DBD. Selain itu, di Hulu Sungai Utara (HSU), hingga minggu kedua Januari tercatat ada delapan kasus DBD.

Sedangkan di Banjarbaru, dari awal Januari hingga 21 Januari ini, dari delapan orang yang statusnya suspek DBD, empat orang yang positif DBD setelah pemeriksaan dan hasil uji laboratorium.

Banjarmasin Post edisi Rabu (22/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Rabu (22/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Ya, data tersebut semestinya cukup memberikan sinyal untuk lebih mengingatkan kepada pemerintah, akan adanya bahaya serangan DBD yang mengikuti datangnya musim penghujan.

Intinya, pemerintah jangan hanya sibuk mengantisipasi bencana, tapi juga harus mewaspadai ‘serangan’ si nyamuk yang menjadi vektor penularan penyakir demam berdarah dengue.

Pemerintah daerah harus merespons fenomena musiman ini karena wabah DBD cukup berbahaya karena bisa mengakibatkan kematian bagi penderitanya.

Antisipasi atau pencegahan harus disiapkan dari sekarang, entah itu melalui fogging (pengasapan), menyiagakan pelayanan kesehatan (puskesmas dan rumah sakit) atau menggencarkan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan menyingkirkan atau mendaur ulang barang-barang yang dapat menampung air bersih (hujan). Plus cara lain yaitu kegiatan pencegahan DBD, seperti menaburkan bubuk larvasida (bubuk abate) pada tempat penampungan air yang sulit dbersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, menaruh ikan di penampungan air atau menanam tanaman pengusir nyamuk.

Tak hanya pemerintah, masyarakat pun punya kewajiban, khususnya di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti dengan menggencarkan aksi bersih-bersih sebagaimana program 3M Plus yang digalakkan pemerintah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved