Jendela

Identitas Tionghoa

“Saya ini orang Banjar 24 karat,” kata saya bercanda, yang langsung disambut tawa ringan orang-orang yang hadir. Hari itu, 19 Januari 2020

Identitas Tionghoa
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Saya ini orang Banjar 24 karat,” kata saya bercanda, yang langsung disambut tawa ringan orang-orang yang hadir. Hari itu, 19 Januari 2020, saya diundang oleh Romo Gabriel, untuk berbicara tentang Islam dalam budaya Banjar di depan Jemaat Katolik, Paroki Banjarbaru. Umat Katolik itu ingin lebih mengenal masyarakat Banjar secara ‘ilmiah’ agar bisa membangun hubungan sosial yang harmonis.

Saya terkesan dengan keinginan mereka untuk membuka diri itu. Hal ini tentu saja tak lepas dari teladan Uskup Banjarmasin, Petrus Boddeng Timang, yang rajin silaturrhami dan melakukan open house pada setiap tahun baru.

Sebagai minoritas, beliau ingin umat Katolik itu tidak eksklusif, tetapi memahami, membaur dan bergaul dengan lingkungannya. Inilah suatu langkah penting dalam menjaga kerukunan.

Mengapa perlu paham budaya Banjar? Karena orang-orang Katolik di Kalimantan Selatan umumnya adalah para pendatang. Ada juga orang setempat, tetapi bukan dari etnis Banjar, misalnya orang Dayak atau Tionghoa. Saya cukup sering disapa orang Tionghoa yang kebetulan mengenali saya di jalan atau bandara. Mereka umumnya orang Tionghoa yang sudah turun-temurun tinggal di Kalimantan Selatan.

Di kalangan Buddha, ada Bhante Saddhaviro Mahathera, pemuka Buddha Theravada di Banjarmasin. Beliau juga bersikap terbuka kepada penganut agama lain, terutama kepada kaum Muslim yang mayoritas di daerah ini. Saya sangat hormat pada sikapnya yang rendah hati dan menyejukkan. Saya juga diberi hadiah buku catatan pribadinya berjudul Cerita Tekad Orang Nekad yang mengesankan.

Di vihara tempat beliau bertugas, yaitu Vihara Dhammasoka, mayoritas umatnya adalah orang-orang Tionghoa. Berkat hadir dalam beberapa acara lintas agama di vihara ini, saya pun bisa berkenalan dengan sejumah orang Tionghoa. Bhante bercerita, saat kerusuhan di Banjarmasin, 23 Mei 1997, ada orang-orang yang ingin membakar vihara itu, tetapi kaum Muslim setempat berhasil mencegah mereka.

Dekat Jembatan Merdeka, Banjarmasin, ada lagi Klenteng Seotji Nurani, yang dibangun pada 1898, era kolonialisme Belanda. Bangunan indah ini ternyata dikunjungi oleh para penganut Taoisme, Konghucu dan Buddha untuk berdoa. Saya pernah masuk mengantarkan seorang kawan dari Taiwan untuk melihat lebih dekat. Ternyata, pengelola Klenteng ini sangat ramah dan terbuka kepada para tamu yang datang.

Banjarmasin Post edisi Senin (27/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (27/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Klenteng tentu bisa dikatakan identik dengan Tionghoa. Seorang mahasiswa saya, yang tertarik meneliti perayaan Imlek dan Cap Go Meh, mau tidak mau harus datang ke klenteng ini. Si mahasiswa ini akhirnya menyaksikan sendiri, bagaimana orang-orang Tionghoa, dari berbagai agama, semua merayakan Imlek. Namun, yang beragama Islam dan Kristen (Protestan atau Katolik) tidak ikut dalam ritual tertentu.

Jadi, sebagaimana di tempat lain, orang-orang Tionghoa di Banjarmasin memeluk berbagai agama. Banyak di antara mereka yang memeluk agama minoritas, sehingga secara sosiologis mereka menjadi minoritas ganda. Tentu ada pula yang beragama Islam. Mereka bergabung dalam Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang di Era Soeharto diubah menjadi Perhimpunan Iman Tauhid Indonesia.

Demikianlah, identitas Tionghoa, sebagaimana identitas lainnya, tidaklah tunggal dan beku, melainkan majemuk dan cair. Agama orang Tionghoa saja sangat beragam, apalagi tingkat ekonomi dan afiliasi politiknya. Tidak semua orang Tionghoa itu kaya atau pendukung partai tertentu. Keragaman ini terjadi antara lain karena hubungan-hubungan yang terjalin dengan identitas ketionghoaan itu sendiri.

Namun, dalam keanekaan selalu ada ketunggalan. Inilah kebijaksanaan kuno yang ditemukan Toshihiku Izutsu (1983) ketika mengkaji Sufisme dan Taoisme. Sufisme mengajarkan tentang yang banyak (kastrah) di dalam yang tunggal (wahdah) atau sebaliknya. Begitu pula, Taoisme mengajarkan tentang kesetaraan langit (heavenly equliazation), yakni perbedaan disetarakan dalam kesatuan. Dunia pun terlihat utuh.

Karena itu, identitas etnis seperti Tionghoa dapat menjadi unsur pemersatu bagi semua warga Tionghoa seperti saat Imlek, apapun agama yang mereka peluk. Selain itu, identitas Tionghoa bisa disatukan lagi dalam identitas yang lebih besar seperti kesamaan sebagai warga satu daerah atau negara. Yang lebih luas dan hakiki lagi tentu adalah bahwa semua orang yang berbeda adalah sama sebagai manusia.

Alhasil, perbedaan diciptakan Tuhan agar kita saling mengenal dan bergairah, bukan untuk berseteru dan berpecah belah. Karena, di balik perbedaan selalu ada persamaan yang dapat mengikat kita. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved