Jendela

Pelobi dan Ulul Albab

Dia itu tergolong ulul-albâb,” kata seorang teman. “Maksudmu?” tanyaku. “Dia itu ahli lobi!” katanya sambil terkekeh. Tentu saja, teman saya ini berc

Pelobi dan Ulul Albab
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Dia itu tergolong ulul-albâb,” kata seorang teman. “Maksudmu?” tanyaku. “Dia itu ahli lobi!” katanya sambil terkekeh. Tentu saja, teman saya ini bercanda. Kecuali kedekatan bunyi, kata ‘ulul-albâb’ bukan berarti ahli lobi melainkan cendekiawan, yaitu orang yang memiliki wawasan yang luas tentang kehidupan (tidak harus sarjana), dan teguh memperjuangkan nilai-nilai moral yang diyakininya.

Teman saya itu rupanya gerah melihat perilaku orang yang suka kasak-kusuk, merayu dengan kata-kata manis, menawarkan imbalan atau kadangkala ancaman, untuk memperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompok, meskipun melanggar moral, peraturan dan hukum. Itulah yang dia maksud dengan ‘ahli lobi’ tadi. Lobi macam ini biasanya sembunyi-sembunyi di balik layar tanpa diketahui orang banyak.

Sebenarnya, melakukan lobi itu hal biasa dalam hubungan antar pihak yang berkepentingan. Menurut KBBI, melobi berarti “melakukan pendekatan secara tidak resmi.” Tidak resmi di sini bisa berarti di luar acara resmi atau di luar kantor. Mungkin ini sebabnya, jika kita masuk ke hotel, biasanya ada ruang lobi, dan di situ ada tempat-tempat duduk untuk santai. Inilah tempat yang tidak formal untuk berinteraksi.

Dalam melakukan lobi, orang biasanya bernegosiasi. Menurut KBBI, negosiasi adalah “proses tawar menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak lain.” Lobi dan negosiasi biasanya berjalan seiring. Pertemuan tidak resmi membuat orang merasa nyaman untuk menyampaikan isi hati dan kepentingannya sehingga kesepakatan mudah dicapai.

Banjarmasin Post edisi Senin (3/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (3/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Dengan demikian, kepandaian lobi dan negosiasi sangat erat hubungannya dengan kecakapan dalam berkomunikasi. Mungkin inilah yang disebut kepandaian berdiplomasi, yaitu kemampuan menyusun kata dan kalimat, mengajukan argumen yang meyakinkan dengan cara tertentu sehingga pihak lain tertarik, senang dan tidak tersinggung. Di sini, selera humor yang tinggi juga cenderung membantu.

Jika begitu, berarti lobi, negosiasi dan diplomasi adalah kecakapan yang sangat penting dan bermanfaat. Para politisi adalah orang-orang yang sering melakukan aktivitas tersebut karena mereka bergumul dengan banyak kepentingan. Di sinilah masuk kegerahan kawan saya di atas. Dia tak suka dengan orang yang kerjanya hanya mengandalkan tawar-menawar kepentingan pribadi atas nama orang banyak.

Di sisi lain, makna sebenarnya dari ‘ulul albâb’ bukan tukang lobi, tetapi cendekiawan. Kalau merujuk kepada Alqur’an (QS 3:191), seorang ulul-albâb tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam seluruh sisi kehidupan. Ia selalu ingat pada Tuhan ketika berdiri, duduk atau berbaring. Ia seorang ilmuwan yang beriman, yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral.

Apakah seorang ulul albâb tidak pandai atau tidak mau melakukan lobi, negosiasi dan diplomasi? Tentu saja tidak. Apalagi jika dia adalah seorang pemimpin. Namun, dia melakukan semua itu untuk tujuan yang mulia, bukan kepentingan duniawi yang sempit. Dia mau berkompromi selama tidak menyangkut hal-hal prinsip. Perhatikanlah negosiasi Sulaiman dan Bilqis, atau Ibrahim dan Namrudz dalam Alqur’an!

Karena itu, kekesalan orang pada ‘ahli lobi’ bukan terletak pada lobi itu sendiri, tetapi pada cara dan tujuannya. Masalah ini semakin terasa ketika kecendekiawanan dan kekuasaan makin terpisah. Seorang pejabat bukan lagi orang yang tercerahkan hati dan pikirannya, melainkan orang yang hanya berusaha memuaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dia memang sarjana, tetapi bukan cendekiawan.

Alhasil, kita makin sulit menemukan pelobi yang cendekiawan, atau cendekiawan yang pelobi, seperti halnya kita sulit menemukan politisi yang negarawan, atau negarawan yang politisi. Kita merindukan ulul albâb yang sejati! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved