Suara Rekan

Virus Corona

HANYA dalam sepuluh hari Cina berhasil membangun sebuah rumah sakit darurat seluas 25.000 meter persegi, berkapasitas 1.000 tempat tidur berikut

Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - HANYA dalam sepuluh hari Cina berhasil membangun sebuah rumah sakit darurat seluas 25.000 meter persegi, berkapasitas 1.000 tempat tidur berikut peralatan canggihnya di Wuhan, pusat penyebaran virus corona. Ribuan orang dikerahkan, ratusan alat berat dijalankan, pemandangannya mirip semut pekerja yang terus bergerak siang dan malam, beriringan, berpapasan, semua tahu tugasnya. Dalam sepuluh hari bangunan selesai. Rasanya seperti mimpi. Fantastis. Di samping Wuhan masih ada dua rumah sakit yang sama dibangun di kota lain, juga dalam waktu singkat.

Memang bukan bangunan beton bertulang yang butuh waktu lama, tapi membuat bangunan seperti itu bukan perkara gampang. Ini bukti Cina memang siap menghadapi segala bencana. Kuncinya, menguasai teknologi, pemerintahnya maju, rakyat dan wakil rakyatnya tidak banyak berulah dan gampang ditata. Pernah juga dibangun RS seperti itu saat merebaknya virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang juga melumpuhkan Cina tahun 2003. Virus corona, SARS dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) masih satu keluarga. Di samping virus-virus itu, virus lainnya yang terkenal di Indonesia, flu burung, juga berasal dari Cina.

Dokter yang pertama kali menemukan virus corona, Li Wenliang (34) meninggal 7/2/2020 akibat terpapar corona juga sebelum sempat mendapat perawatan di RS yang dibangun setelah dia dicaci maki pemerintah akibat mengumumkan bahayanya virus corona.

Mungkin kapasitas RS itu masih belum memadai dibanding jumlah penderita yang sudah mencapai puluhan ribu orang. Tapi semangat dan kesiapan menghadapi bencana yang perlu menjadi catatan. Seperti juga Jepang yang begitu trengginas ketika dua reaktor nuklirnya di Fukushima dihantam tsunami tujuh tahun lalu dan lumpuh sampai kini.

Bayangkan seandainya pusat penyebaran virus corona berada di Indonesia betapa ramai orang komentar yang ujung-ujungnya pembangunan RS akan menyedot energi dan butuh waktu lama untuk memulainya. Kalah dulu dengan lenyapnya virus.

Cara kerja Cina ini bisa menjadi pelajaran yang penting. Indonesia adalah negara dengan potensi bencana yang cukup besar. Banjir, gempa bumi, tsunami, gunung meletus terus mengintai. Cincin api yang mengelilingi negeri ini mengingatkan bahwa kita tak bisa lengah. Sistem manajemen penanggulangan bencana harus tersusun dengan baik.

Tanpa koordinasi yang muncul yah... seperti tempo hari, ada banjir besar kepala daerahnya menyalahkan daerah lain yang “mengirim” air hujan sementara aliran sungai di daerah sendiri tidak dibenahi. Hanya ada saling tuduh, saling menyalahkan atau lempar tanggung jawab. Istilah tanggung jawab pusat dan daerah itu sebenarnya sebatas pada masalah pengelolaan, tapi kalau rumah-rumah rakyat tenggelam itu tanggung jawab bersama. Masyarakat pun ikut bertanggung jawab untuk memberi pertolongan apalagi pemerintah, daerah atau pusat. Saling menyalahkan itu hanya menunjukkan kebodohan dan sikap tidak bertanggung jawab. Kita memang masih sering terjebak dalam egoisme yang berlebihan.

Banjarmasin Post edisi Minggu (9/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Minggu (9/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

***

Tak perlu malu kita harus belajar dari Cina. Bukan hanya soal bencana tapi juga dalam bernegara. Puluhan tahun dikucilkan dunia kini sudah menjelma menjadi raksasa yang tangguh di segala bidang, ekonomi, perdagangan, teknologi, kedokteran, militer dll. Sayang dia lengah, tak berdaya menghadapi virus. Kecuali corona, virus SARS dan flu burung yang terkenal di Indonesia juga berasal dari Cina. Bagi yang percaya dengan kebesaran Ilahi, datangnya virus itu harus dimaknai sebagai “pesan” yang maha penting. Jangan arogan dengan keunggulan duniawi.

Bukan hanya Indonesia, seluruh dunia dicekam ketakutan virus corona. Tapi kita harus acungkan jempol pada negara lain yang juga sibuk memulangkan warganya. Mereka bekerja semata-mata demi keselamatan sesamanya, tidak terdengar protes atau penolakan dari warga yang takut tertular seperti di Natuna, Indonesia.

Bupati Natuna Drs H Abdul Hamid Rizal MSi bersama wakilnya, Ketua DPRD dan beberapa tokoh masyarakat Natuna sampai harus datang ke Jakarta menemui pejabat pusat untuk menyatakan penolakan atas kehadiran saudara-saudaranya dari Wuhan yang dikarantina di komplek bandara militer di Natuna. Ini mengusik rasa batin, mengoyak rasa kemanusiaan, dan mengubur empati. Apakah saudara-saudara kita akan dibiarkan mati di Wuhan atau terombang ambing di tengah laut dalam kapal perang seperti usulan mereka?

Virus corona ini seharusnya menjadi perekat persatuan, untuk dihadapi bersama, bukan sebaliknya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved