Jendela

Pers dan Lingkungan

LUAR biasa! Sabtu, 8 Februari 2020 kemarin, Kalimantan Selatan dikunjungi Presiden Jokowi bersama sederet pejabat pusat untuk menghadiri

Pers dan Lingkungan
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - LUAR biasa! Sabtu, 8 Februari 2020 kemarin, Kalimantan Selatan dikunjungi Presiden Jokowi bersama sederet pejabat pusat untuk menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN). Detiknews mencatat, hadir Ketua MPR, Ketua DPR, Menkominfo, Menko Polhukam, Menteri LHK, Menko PMK, Menkum HAM, Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Menteri PUPPR, dan Staf Khusus Milineal Presiden.

Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor dan warga Kalsel tentu senang dan bangga. Kehadiran para pejabat pusat itu menunjukkan pengakuan akan peran media yang sangat penting dan berpengaruh di negeri ini. Sedangkan bagi tuan rumah, pelaksanaan HPN di Kalsel dikaitkan dengan rencana pembangunan ibukota baru di Kaltim. Kalsel berharap menjadi ‘pintu gerbang’ atau salah satu penyangga ibukota baru itu.

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa pembangunan ibukota baru benar-benar akan dilaksanakan. Dia juga menjamin, pembangunan ibukota baru itu tidak akan merusak lingkungan. “Kita akan wujudkan ibukota negara baru yang ramah lingkungan, smart city, semua kendaraan adalah listrik, ramah pejalan kaki dan dekat dengan alam,” kata Jokowi sebagaimana dikutip BPost (9-2-2020).

Sebagai wujud komitmen terhadap kelestarian lingkungan ini, presiden bersama para pejabat dan tokoh pers menanam pohon dan meresmikan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia, Hutan Pers Taman Spesies Endemik Indonesia dan peluncuran Kebun Bibit Desa (KBD) di kawasan perkantoran Setda Provinsi Kalsel di Banjarbaru. Presiden juga menanam pohon mersawa yang telah berusia 16 tahun setinggi 10 meter.

Kepedulian pemerintah terhadap lingkungan di atas sungguh menggembirakan. Sudah maklum, selama ini flora dan fauna di bumi Kalimantan rusak akibat penebangan hutan, pertambangan dan perkebunan besar-besaran. Kerusakan tersebut sangat kasat mata, bisa dilihat dari jendela pesawat di udara. Begitu pula, banjir yang kini melanda sejumlah daerah Kalsel tak terlepas dari perusakan lingkungan tersebut.

Banjarmasin Post edisi Senin (10/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (10/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Sebagai masyarakat, kita tentu berharap, komitmen pemerintah pusat itu akan sungguh-sungguh dilaksanakan, bukan pemanis kata belaka. Kita juga berharap, semua pihak, baik pemerintah daerah, pengusaha, politisi, aparat hukum, cendekiawan, ulama hingga media, akan mengawal komitmen ini demi kesejahteraan bersama. Ini adalah tanggungjawab kita semua. Ini adalah demi anak cucu kita.

Dalam HPN kali ini, peran media disorot kembali. Media memberikan informasi, pendidikan dan hiburan kepada kita. Sekarang fungsi media ini menghadapi tantangan berat. Kita hidup di era digital, era media sosial. Dulu informasi terbatas disediakan oleh media massa konvensional (koran, majalah, radio dan televisi). Kini sumber dan jumlah informasi itu teramat banyak. Kita mengalami tsunami informasi.

Media sosial kini sangat berpengaruh, bahkan melebihi media konvensional. Melalui facebook, twitter, WhatsApp, Instragram dan lainnya, berita disebarkan dengan cepat. Kadang berita itu palsu atau fitnah. Kadang penuh dengan ujaran kebencian. Apalagi saat pertarungan politik. Pihak-pihak yang bersaing sengaja menggunakan media sosial untuk memengaruhi rakyat dengan menghalalkan segala cara.

Di sisi lain, kini banyak koran cetak yang gulung tikar. “Pembaca koran itu tetap ada, dan jumlahnya tidak turun. Tetapi pemasang iklan beralih ke media daring,” kata seorang pimred koran kepada saya. Padahal, media itu hidup dari iklan. Menanggapi hal ini, pemerintah berjanji akan melindungi pers nasional dari serbuan platform digital global seperti Google dan Facebook melalui berbagai regulasi.

Selain soal ‘asap dapur’ usaha pers, yang lebih mendesak lagi adalah kualitas isi liputan media itu sendiri. Saat ini, hampir semua perusahaan media mengambil langkah konvergensi, menerbitkan edisi cetak dan elektronik. Kelebihan versi elektronik adalah cepat dan mudah diakses. Lantas, apa yang membuat versi cetak masih diperlukan? Mungkin kedalaman dan keluasan isi serta ketajaman analisis. Tapi bisakah itu?

Jika kualitas isi semakin rendah, sementara iklan semakin kurang dan keuangan perusahaan terganggu, maka independensi media tinggal mimpi. Yang tampak adalah para wartawan ‘bodrek’ yang suka minta uang tanpa malu. Dalam situasi ini, sulit kiranya mengharap media dapat mengawal hal-hal besar seperti pelestarian lingkungan di atas, terutama jika berhadapan dengan kaum superkaya-berkuasa.

Semoga hal itu tidak terjadi di Banua dan Indonesia! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved