Suara Rekan

Capres Kepagian

SURVEI Indo Barometer yang mencari sosok populer untuk menjadi calon presiden tahun 2024 tidak terlalu mengagetkan

Capres Kepagian
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - SURVEI Indo Barometer yang mencari sosok populer untuk menjadi calon presiden tahun 2024 tidak terlalu mengagetkan. Yang muncul nama-nama itu juga, seperti Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai capres paling populer disusul Gubernur DKI Anies Baswedan, kemudian muncul nama-nama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sampai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Namanya juga survei yang ditanyakan pasti tokoh yang sudah eksis, bukan yang tidak terlihat seperti zamannya Joko Widodo dulu. Tiga tahun sebelum Jokowi terpilih menjadi presiden tidak banyak orang mengenal dia dan hampir pasti tak satu pun yang membayangkan dia akan jadi presiden.

Sekarang terbukti, hasil kerja Jokowi tak diragukan lagi. Meski hanya berlatar belakang pengusaha meubel kini dia menjadi salah satu tokoh dunia yang dikenal luas. Siapa yang membayangkan Indonesia akan memiliki jalan tol sepanjang sekarang ini dalam waktu singkat?

Bahwa Prabowo sekarang paling populer untuk menjadi capres dan Anies Baswedan menempati urutan di bawah Prabowo, tentu belum bisa jadi ukuran untuk 4 tahun mendatang. Eforia pilpres dan Pilkada DKI dengan segala warnanya, belum hilang benar dan mudah untuk mengingat tokoh dibelakangnya. Sekarang pun bisa populer karena calon lain belum muncul. Banyak anak muda yang hebat dan berduit dan mereka bisa menjadi ancaman bagi orang-orang tua yang masih bersemangat untuk maju.

Sandiaga Uno, Nadiem Makarim, Erick Thohir, bahkan AHY adalah orang-orang yang sudah ada dalam pusaran politik nasional, mereka kaya, bisa membiayai diri sendiri. Sandiaga Uno adalah pengusaha sukses dan ia keluar uang tidak sedikit untuk jadi cawapres tempo hari. Menurut Tagar.id (19/4/2019), biaya kampanye pilpres Sandiaga Uno Rp 1,4 trilyun yang keluar dari kantong sendiri.

Saat pencalonan Gubernur DKI dia habis Rp 109 milyar (Kompas.com 18/4/2017). Saat itu Anies Baswedan belum menjadi milyader sehingga biayanya banyak dipikul oleh Sandiaga.

Nadiem Makarim yang kini Menteri P dan K, adalah bos gojek yang usaha teknologinya sudah masuk kelas dedacorn dengan valuasi 10 milyar dolar. Presiden Jokowi sempat memamerkan Nadiem di depan tamunya dalam pagelaran Indonesia Digital Economy Summit 2020 di Jakarta. Di dunia baru ada belasan jumlah dedacorn (GoodNews 24/2/2019).

Erick Thohir adalah pengusaha kaya raya, klub sepak bola terkenal Inter Milan di Itali pun dia beli. AHY tentu punya penyandang dana yang tak lain ayahnya sendiri, Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono. Tokoh-tokoh lain yang masih “tersimpan” juga tidak boleh diremehkan.

Banjarmasin Post edisi Minggu (1/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Minggu (1/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Mereka adalah tokoh-tokoh yang belum terkontaminasi oleh korupsi. Kalau mau mencari tokoh yang bersih, jujur, pekerja keras ya anak muda. Sekarang tokoh yang bersih siapa? Politisi atau kepala daerah?

Kalau yang dijadikan ukuran popularitas maka tokoh-tokoh muda itu tak masuk hitungan. Baru melihat gebyarnya saja, kelihaiannya berbicara dll, belum sampai prestasi. Banyak parameter yang bisa jadi ukuran.

Sebenarnya survei untuk mencari sosok calon presiden sekarang belum saatnya, menteri-menteri baru mulai bekerja, tokoh lain belum muncul. Tapi melihat materi pemimpin yang hanya itu-itu saja tak apalah menggali siapa tahu ada satria piningit lagi sebagai alternatif. Jadi survei itu sekalian untuk menggali mutiara-mutiara yang masih terpendam.

Pilihan rakyat dalam survei sekarang belum bisa mewakili dirinya sendiri sekalipun karena banyak faktor yang belum bisa meyakinkan, maklum waktu masih panjang. Apalagi calon-calon yang disurvei hasil kerjanya juga masih belum kelihatan. Anies Baswedan, misalnya, apa yang telah dia lakukan untuk DKI selama dua tahun menjabat, rakyat Jakarta pun bingung menjawabnya.

Sebagai ajang pemanasan survei tidak diharamkan, biarlah sedikit kepagian dari pada nanti dapat calon yang kesiangan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved