Jendela

Agama Melawan Corona

Virus Corona (Covid-19) masih mengintai kita. Jelang akhir pekan lalu, Jumat, 6 Maret 2020, Kompas melaporkan, paling kurang 95 ribu orang

Agama Melawan Corona
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Virus Corona (Covid-19) masih mengintai kita. Jelang akhir pekan lalu, Jumat, 6 Maret 2020, Kompas melaporkan, paling kurang 95 ribu orang dari sekitar 80 negara di dunia telah terjangkit virus ini. Yang terparah tentu di Tiongkok, total 80.270 kasus dan 2.981 orang telah meninggal dunia. Tiga negara lainnya yang parah adalah Korea Selatan (6088 kasus), Italia (3089 kasus) dan Iran (2922 kasus).

Indonesia, yang semula optimistis aman, ternyata sudah ada 4 orang positif terjangkit Corona. Bahkan, negara kuat seperti Amerika Serikat, juga terkena virus ini. Virus ini akhirnya tidak hanya berdampak negatif pada kesehatan tetapi melebar ke berbagai sisi kehidupan seperti pariwisata, perdagangan, nilai tukar uang, harga saham, investasi, pertandingan olahraga, pendidikan, hingga ziarah dan umrah.

Memang, ingin bertahan hidup adalah watak alamiah manusia. “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” pekik Chairil Anwar di akhir bait puisinya ‘Aku’. Hidup adalah karunia Allah terbesar yang diberikan-Nya secara cuma-cuma . Meskipun manusia sadar kematian pasti akan datang, ia ingin terus hidup dan takut mati. Ia tidak mau pasrah begitu saja menghadapi sebab-sebab yang membawa kepada kematian.

Karena takut mati itulah, orang jadi panik. Mereka ingin mengamankan diri dari serangan Covid-19. Di berbagai tempat, orang-orang memborong masker hingga harganya naik tiga kali lipat. Ada pula pihak tertentu yang memancing di air keruh, menimbun masker. Muncullah meme ‘Tukang Masker Naik Haji, berkah Corona’. Pemerintah akhirnya bertindak, menangkap penimbun, dan mengendalikan pasar.

Sesuai saran para pakar kesehatan, selain menghindari kontak dengan orang atau hewan yang terjangkit Covid-19, masyarakat dianjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan vitamin. Baik pula meminum jamu. Akibatnya, seperti masker, harga bahan-bahan jamu seperti jahe, kencur, laos dan kunyit naik sampai tiga kali lipat pula.

Selain ekonomi terganggu dan adanya orang-orang yang mencoba mencari keuntungan pribadi, yang cukup menggelitik adalah komentar-komentar yang berbaju agama. Konon ada yang bilang, virus ini adalah kutukan Allah atas para pendosa, atau tentara Allah yang membela Muslim Uighur yang tertindas di Tiongkok. Padahal, Covid-19 bisa menyerang siapa saja, apapun agamanya, pendosa atau bukan.

Yang lebih menantang lagi adalah komentar yang bernada mempertentangkan sains dan agama, hukum alam dan iman. Benar bahwa Allah Maha Kuasa atas seluruh alam semesta. Namun, apakah iman akan kekuasaan Tuhan itu berarti kita tidak perlu peduli dengan hukum alam, hukum sebab-akibat? Apakah karena yakin akan kekuasaan Allah, maka kita tak perlu lagi menjaga diri dari wabah virus Corona?

Tidak! Agama dan sains itu sejalan. Para ulama klasik mengatakan, tujuan dasar syariat Islam adalah menjaga keselamatan lima hal utama, yaitu agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Karena itu, bagi tiap Muslim, wajib hukumnya menjaga diri dari Covid-19 yang membahayakan jiwa, akal, keturunan, harta bahkan agama itu. Sikap bergantung pada kuasa Allah semata tanpa usaha tidak sejalan dengan syariat!

Itu kan syariat, bagaimana dengan hakikat? Jawabnya sama. Ilmu kesehatan, sebagaimana watak sains, bertugas mempelajari hukum sebab-akibat di alam semesta dan menggunakannya untuk kemaslahatan. Alam semesta itu, dalam pandangan Alqur’an, adalah ayat-ayat Tuhan juga, tanda-tanda kekuasaan-Nya. Mempelajari ayat-ayat Tuhan di alam, sama mulianya dengan mempelajari ayat-ayat Tuhan di kitab suci.

Karena itu, sebagaimana kita harus mengikuti petunjuk ayat-ayat Allah dalam Alqur’an, kita juga harus mengikuti petunjuk-Nya di alam semesta. Meremehkan hukum alam sejajar dengan meremehkan ayat-ayat Alqur’an. Allah menciptakan alam semesta ini tidak main-main, tidak sembarangan, tetapi tertata dan teratur rapi dalam hukum alam yang penuh hikmah. Manusia diberi-Nya akal untuk mengkajinya.

Para pemikir Muslim klasik memang berbeda pendapat soal hukum sebab-akibat, tetapi tidak ada satu pun yang menolak sebab-akibat itu. Bagi para filosof dan Muktazilah, sebab-akibat itu ciptaan Allah yang otomatis berlaku di alam ini, sedangkan bagi Asy’ariyah, sebab dan akibat itu berdiri sendiri, dan Allah selalu terlibat menghubungkan atau tidak keduanya. Jadi, sebab-akibat tidak mutlak berlaku.

Kini para ilmuwan mengakui, kebenaran sains yang mengkaji hukum alam itu tidaklah mutlak, tetapi kemungkinan sangat besar ia benar (probabilitas). Jadi, sains tidak bisa dianggap remeh. Hukum alam jangan dilawan. Namun, informasi sains tidak pasti mutlak benar. Kemampuan manusia memang terbatas, baik memahami ayat-ayat Tuhan di alam semesta ataupun ayat-ayat Tuhan di dalam kitab suci.

Alhasil, agama menganjurkan kita melawan wabah seperti virus Corona. Menyalahkan korban atau mengambil untung di tengah kepanikan tidaklan sejalan dengan agama. Begitu pula, usaha mencegah penularan wabah ini berdasarkan petunjuk ilmu kesehatan adalah sesuai dengan ajaran agama. Namun, selain berusaha, kita perlu berdoa, mengakui kelemahan diri dan memohon perlindungan-Nya. (*)

Banjarmasin Post edisi Senin (9/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (9/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved