Suara Rekan

Wisata Kuliner

DA’I kondang Abdullah Gymnastiar atau yang disering dipanggil Aa Gym mengingatkan, segala yang hidup di dunia ini adalah ciptaan Allah SWT

Wisata Kuliner
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - DA’I kondang Abdullah Gymnastiar atau yang disering dipanggil Aa Gym mengingatkan, segala yang hidup di dunia ini adalah ciptaan Allah SWT termasuk virus yang kini lagi ramai “menyapa” manusia di seluruh dunia dengan akibat kematian beruntun di mana-mana.

Dengan logika itu virus itu sebenarnya sudah ada, tinggal kapan mau “turun” ke bumi. Virus flu, misalnya, sudah siap kapan saja manusia lengah, kurang menjaga kesehatan, aktivitas fisik berlebihan dan lain-lain. Orang pun lantas akan mudah terserang flu, bersin-bersin yang kemudian menular. Tapi karena tidak berakibat fatal maka orang acuh saja, sebentar juga sembuh.

Virus corona (Covid 19) juga sama gejalanya, cuma dia bisa menusuk paru-paru sehingga bisa mengancam terhentinya pernapasan yang bisa mengakibatkan kematian. Seperti yang terlihat di televisi, orang berjalan tiba-tiba jatuh, mati. Kapan saat turunnya virus corona ini tidak terlalu jelas, apakah akibat kelelahan, faktor makanan atau yang lain. Tapi kalau tidak ada kesalahan manusia mustahil virus akan menyerang. Di Indonesia virus corona kini merebak luas, penderitanya pun terus bertambah.

Ada pendapat lain yang mengatakan virus corona selama ini hidup dalam tubuh binatang seperti kalong. Karena kalong dan binatang lain yang tidak lazim dimakan manusia sekarang menjadi santapan lezat, virus tak punya lahan hidup lagi dan berpindah ke manusia. Ini juga belum diteliti kebenarannya, tapi pasar kalong kini sudah sepi, kalong-kalongnya bebas beterbangan tanpa takut ditangkap dengan senapan angin, atau diketapel oleh musuh utamanya, manusia yang rakus.

Kuliner sekarang memang bermacam-macam, bukan sekadar untuk urusan makan keluarga tapi juga masuk dalam propaganda sebagai salah satu obyek wisata. Selain kalong, daging ular, tikus, anjing bahkan kucing meski tidak dipromosikan sekarang bisa terhidang di meja makan. Sekian tahun yang lalu tidak ada, orang makan daging kalong juga kadang-kadang saja kalau sempat dapat. Sekarang makanan-makanan itu diburu, rumah makan dan pedagang pun memburu binatang-binatang itu dari tangan para pemburu.

Orang dulu malu-malu menyantap daging anjing, paling juga di warung tersembunyi. Sekarang berani terang-terangan. Di salah satu provinsi di Indonesia daging binatang-binatang itu banyak dijual bahkan kucing yang selama ini dikeramatkan manusia dimakan pula dagingnya. Seorang teman pernah mengingatkan saya agar tidak sampai masuk ranjau dalam memilih makanan di kota itu. Rupanya banyak kuliner ekstrem di situ yang sudah dikenal di berbagai negara. Semoga pengalaman corona bisa menyadarkan mereka termasuk pejabatnya agar tidak menarik wisatawan lewat makanan ekstrem.

Tuhan itu sudah menciptakan makanan untuk manusia. Tikus, kalong dan binatang lain ada yang punya jatah sehingga jangan diusik kecuali mengganggu, itu pun bukan untuk dimakan.

Banjarmasin Post edisi Minggu (15/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Minggu (15/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

***

Apakah makanan ekstrem ada korelasinya dengan corona atau tidak masih perlu diteliti. Tapi di media sosial sering dipertontonkan orang makan makanan yang tidak biasa untuk manusia. Misalnya makan tikus hidup yang diolesi kecap atau saos. Ada orang makan tokek, daging kera dan banyak lagi. Apakah ini juga bisa mengakibatkan munculnya corona?

Virus SARS, flu burung dan corona (yang semua gejalanya mirip) semua muncul dari China. Sedang ebola yang juga mematikan muncul dari Afrika. Tidak ada virus-virus di atas yang muncul pertama di Amerika Serikat atau Eropa yang hidup rakyatnya sudah mapan, makanannya sehat dan sejahtera. Dari situ kita bisa membayangkan mengapa virus-virus itu selalu saja muncul dari tempat yang sama. Dari negara maju virus yang muncul lebih pada masalah moral yang kini jadi momok, seperti HIV/AID.

Bagi Aa Gym kematian akibat corona itu memang sudah kehendak Allah. Yang penting kita harus hidup sehat, makan makanan yang sehat, pikiran sehat. Tak perlu panik, semua barang diborong. Ajal itu Allah yang mengatur.

AA Gym benar, kembalilah pada norma kehidupan yang baik. Jangan sampai karena ekstremnya malah kita jadikan daya tarik wisatawan. Orang luar menikmati makanan ekstrem di sini karena di negaranya tidak ada, tidak punya kultur seperti itu. Keuntungan yang kita terima tak sebanding dengan kerugiannya. “Ketempelan” corona saja sudah pontang panting apalagi kalau jadi sumbernya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved