Jendela

Corona dan Karakter Kita

Virus Corona (Covid-19) terus merajalela. Ia memangsa siapa saja, dari orang biasa, pemain sepakbola, hingga pejabat tinggi negara

Corona dan Karakter Kita
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi darah positif virus corona 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Virus Corona (Covid-19) terus merajalela. Ia memangsa siapa saja, dari orang biasa, pemain sepakbola, hingga pejabat tinggi negara. Seluruh dunia waspada dan berjaga-jaga, meningkatkan pertahanan dan menghindari serangan dari musuh yang sakti mandraguna. Orang takut pada Corona karena ia laksana hantu yang melihat kita, tetapi kita tak dapat melihatnya dengan mata kepala.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 14 Maret 2020 mencatat bahwa orang yang terkena Covid-19 di seluruh dunia sudah mencapai 142.539 dan 5.393 orang di antaranya telah meninggal dunia. Berawal dari Wuhan, Tiongkok, kini 136 negara sudah terkena sehingga pada 11 Maret 2020 lalu WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemik, yakni wabah yang tersebar ke hampir seluruh wilayah dunia.

Di Indonesia, kenaikan kasus positif Covid-19 terus meningkat. Hingga akhir pekan lalu, 69 orang positif Covid-19. Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga terkena virus ini. Presiden Joko Widodo akhirya membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Di Jakarta dan Solo, pemerintah meliburkan sekolah. Berbagai universitas juga mengubah kuliah tatap muka menjadi kuliah daring.

Covid-19 telah menimbulkan rentetan akibat yang berlipat-lipat dari sudut ekonomi, sosial, politik, budaya hingga agama. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, berbagai dampak tersebut kiranya dapat dirangkumkan dalam satu rumusan, yakni semua itu memaksa kita untuk menjalani hidup tidak seperti biasa. Mungkin inilah ‘disrupsi’ yang sebenarnya. Kita dipaksa oleh Corona untuk keluar dari kebiasaan.

Menurut KBBI, kebiasaan adalah “pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama.” Dalam bahasa Inggris disebut ‘habit’ atau Latin-nya, ‘habitus’. Bagi filosof Perancis, Pierre Bourdieu, habitus adalah kebiasaan yang terwujud antara peran manusia sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat.

Dalam bahasa Indonesia, kebiasaan kadangkala disebut adat, serapan dari kata Arab ‘âdah. Adat adalah kebiasaan yang sudah turun-temurun. Jadi, adat tidaklah persis sama dengan habitus. Dalam kajian Islam, saya kira habitus itu dekat dengan khuluq, yang oleh al-Ghazali diartikan sebagai sesuatu yang tertanam dalam hati yang darinya muncul perbuatan tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.

Misalnya, Anda tidak pandai bersepeda. Kemudian Anda berlatih sampai bisa. Setelah itu, Anda tiap hari naik sepeda. Akhirnya, kepandaian naik sepeda menjadi habitus Anda. Anda tidak perlu banyak pikir lagi ketika mau mengendarai sepeda. Semua lancar dan otomatis. Inilah habitus. Hal yang sama terjadi pada perilaku kita yang lain. Makna ini dekat dengan makna khuluq, jamaknya akhlâq (Indonesia: akhlak).

Banjarmasin Post edisi Senin (16/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (16/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Pakar pendidikan, Thomas Lickona, menghubungkan kebiasaan dengan karakter. Menurutnya, pikiran melahirkan perkataan. Perkataan melahirkan perbuatan. Perbuatan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan melahirkan karakter. Karakter adalah nasib kita. Secara bahasa, karakter lebih tepat digunakan untuk menerjemahkan kata ‘akhlak’. Jadi, akhlak bukanlah kebiasaan, melainkan buah dari pembiasaan.

Terlepas dari berbagai istilah di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kebiasaan adalah sesuatu yang secara perlahan tertanam di dalam diri kita dan membentuk siapa diri kita. Karena itu, bukan hal yang mudah untuk menanamkan suatu kebiasaan, dan lebih sulit lagi untuk keluar dari suatu kebiasaan. Kebiasaan menuntut usaha-usaha pembiasaan oleh individu sekaligus tekanan atau dorongan dari luar.

Kini Covid-19 memaksa kita untuk keluar dari berbagai kebiasaan. Kita biasa bersalaman ketika bertemu teman, tamu, orangtua, sesama jemaah di masjid dan seterusnya. Kita terbiasa kumpul-kumpul dalam jumlah banyak di berbagai kegiatan seperti olahraga, hiburan, seminar, konferensi hingga ibadah. Kita terbiasa belajar di kelas, bertatap muka dengan guru/dosen. Kita jarang mencuci tangan dengan sabun.

Demikianlah, Corona mengingatkan sesuatu dengan membangkitkan lawannya. Corona mengajarkan kebersamaan dengan memaksa kita sendirian. Corona memaksa kita menghargai kesehatan dengan menghadirkan penyakit. Corona menyadarkan kita akan nilai kehidupan dengan menebar kematian. Corona, virus kecil yang menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya yang sering merasa kuat.

Boleh jadi, Corona adalah sarana pendidikan karakter kita?(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved