Opini Publik

Virus Corona dan Urgensi Libur Sekolah

TERDETEKSINYA virus Corona (COVID-19) untuk pertama kalinya di Indonesia pada tanggal 2 Maret lalu seolah menjadi pukulan telak bagi bangsa Indonesia

Virus Corona dan Urgensi Libur Sekolah
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
TENDA isolasi didirikan dalam upaya Cegah Virus Corona di Yonif 623/Bhakti Wira Utama. 

Oleh: Untung Lestari, S.Pd.SD, Guru UPTD SD Negeri 4 Sabuhur Tanahlaut

BANJARMASINPOST.CO.ID - TERDETEKSINYA virus Corona (COVID-19) untuk pertama kalinya di Indonesia pada tanggal 2 Maret lalu seolah menjadi pukulan telak bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia yang beberapa waktu lalu menganggap kebal terhadap virus ini akhirnya menjadi negara yang juga diserang dengan ganas. Bahkan, meanteri perhubungan bapak Budi Karya disebutkan positif terserang virus ini. Tidak salah jika Indonesia memiliki rasa percaya diri tinggi akan kebal terhadap virus ini, karena berdasar pengalaman penyebaran virus SARS dan MERS di Indonesia tahun 2003, hanya 1 sampai 2 kasus saja yang ditemui, padahal SARS generasi awal tersebut menginfeksi delapan ribu dan menewaskan tujuh ratus tujuh puluh lima orang di seluruh dunia pada saat itu.

Berdasar informasi, saat ini telah ada delapan provinsi di Indonesia yang terdampak virus Corona yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat (Bandung), Banten (Tangerang) Jawa Tengah (Solo), DI Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara (Manado) dan kalimantan Barat (Pontianak). Melihat masifnya penyebaran virus ini, beberapa kepala daerah mengambil langkah preventif dengan meminta meniadakan kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, termasuk meliburkan sekolah.

Meliburkan sekolah dapat dianggap sebagai cara yang tepat, mengingat sekolah adalah tempat berkumpulnya anak dari berbagai kalangan. Dapat dibayangkan, jika satu saja siswa terinfeksi kemudian menularkan kepada yang lain, maka efek bola salju akan terjadi. Pertanyaannya, bagaimana siswa belajar jika sekolah diliburkan dalam waktu yang cukup lama? Faktanya, pembelajaran bukan masalah tatap muka antara siswa dengan guru, karena saat ini telah cukup banyak pembelajaran online yang dapat di akses siswa baik secara gratis maupun berbayar, sebut saja ruang guru, rumah belajar, kelas pintar, qipper school, zenius, dll. Semua media pembelajaran online tersebut dapat diakses oleh siswa, tetapi dengan syarat siswa harus mau belajar secara mandiri melalui portal pembelajaran online tersebut, yang dalam dunia pendidikan lebih dikenal dengan program homeschooling.

Homeschooling dalam Bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai “sekolah rumah”, bersekolah atau belajar di rumah, bukan di sebuah gedung sekolahan. Sementara banyak pakar pendidikan yang memilih istilah “sekolah mandiri”, yang makna dari kata tersebut adalah tanggung jawab dalam proses dan hasil pendidikan anak secara mandiri berada di pundak orangtua, bukan pada orang lain (guru atau lembaga sekolah formal). Di negara maju, istilah homeschooling dikenal dengan sebutan home education, home based learning atau sekolah mandiri yang dilaksanakan secara individu maupun berkelompok.

Dalam artikel yang dipublikasikan dalam situs Psychology Todayhttps://www.psychologytoday.com/intl/blog/going-beyond-intelligence/201909/homeschooling-is-it-the-best-option-you-and-your-child (dalam Zenius.net) Dona Matthews Ph.D menjabarkan manfaat dari mengikuti program homeschooling, antara lain:

Efisiensi

Kemampuan satu siswa dengan siswa lain dalam memahami suatu pelajaran biasanya berbeda-beda. Ada siswa yang dapat memahami materi lebih cepat dibandingkan siswa lainnya. Sebaliknya, ada juga siswa yang pemahamannya cenderung lebih lambat. Dengan belajar di rumah, kamu jadi bisa menentukan sendiri waktu belajarmu. Bagi siswa yang cepat menyerap materi, dia bisa langsung belajar ke materi berikutnya tanpa harus menunggu siswa-siswa lainnya paham. Lain hanya jika siswa cenderung lebih pelan dalam menguasai materi, maka dia tidak perlu takut ketinggalan penjelasan. Siswa bisa lebih memperdalam pemahamanmu terlebih dahulu sebelum lanjut ke materi berikutnya.

Banjarmasin Post edisi Rabu (18/3/2020)
Banjarmasin Post edisi Rabu (18/3/2020) (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Fleksibilitas

Ketika siswa harus belajar di rumah tanpa pendampingan seorang guru kendala yang paling mungkin adalah siswa merasa lebih mudah menguasai materi jika diterangkan secara langsung. Namun di sisi lain, hal ini juga dapat menjadi kesempatan buat siswa untuk melakukan eksperimen metode belajar. Siapa tahu siswa malah lebih mudah menguasai materi jika belajar di tempat yang tenang dan dalam keadaan sendirian. Artinya, menjadikan kondisi ini sebagai sebuah kesempatan, bukan sebagai halangan.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved