Tajuk

Meniru Langkah Korsel

Di saat Wuhan, di Hubei Cina, sebagai lokasi pertama virus Corona mulai dibuka, perang terhadap Virus Corona baik di Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID/NURHOLIS HUDA
Juru bicara Gugus tugas Pencegahan Pengendalian dan Penanganan (GTPPP) Covid-19 Kalsel, M Muslim, melaporkan perkembangan pasien di RSUD Ulin Banjarmasin, Minggu (29/3/2020) sore. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Di saat Wuhan, di Hubei Cina, sebagai lokasi pertama virus Corona mulai dibuka, perang terhadap Virus Corona baik di Kalimantan Selatan, Indonesia dan seluruh dunia terus berlangsung.

Di Kalsel Juru bicara Gugus tugas Pencegahan Pengendalian dan Penanganan (GTPPP) Covid-19 Kalsel, M Muslim kemarin mengumumkan laporkan perkembangan pasien di RSUD Ulin Banjarmasin.

Selain satu orang yang telah dinyatakan positif, satu orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) meninggal dunia. Pasien tersebut adalah Ulin 12 bejenis kelamin perempuan 51 tahun rujukan asal Banjarmasin. Namun mengenai status Muslim belum bisa menjelaskan positif atau negatif, karena pihak medis masih belum menerima hasil laboratorium.

Sambil menunggu hasil laboratorium dan berbagai upaya dari gugus tugas, tingkat kewaspadaan warga dan kepatuhan terhadap imbauan kesehatan dan physical distancing harus terus dijaga.

Tak lupa, sebagai catatan ke depan dalam upaya memberi ketenangan pada warga hasil tes swab semestinya bisa dipercepat lagi, agar status seseorang bisa secepatnya diketahui. Apalagi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes) Siswanto menyatakan, rata-rata hasil tes swab tenggorokan keluar dalam 2x24 jam, setelah sampel spesimen diambil.

Banjarmasin Post edisi Senin (30/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (30/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Nantinya bila benar Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru, bisa melakukan uji swab, diharap prosesnya tak lagi lama. Pasien dan tim medis tak harus menunggu hasil lab dari Jakarta atau Surabaya, yang memerlukan waktu ekstra untuk perjalanannya.

Bahkan bila perlu ditambah lagi laboratorium untuk melakukan tes ini di Kalimantan, karena Kalimantan Tengah juga bakal melakukan tes swab di Kalsel.

Kecepatan laboratorium ini juga menentukan seberapa cepat tim bekerja untuk mengantisipasi sebaran dari mereka yang pernah kontak dengan pasien dan langkah antisipasinya. Sudah muncul beberapa kasus di negeri ini terlambat antisipasi dan isolasi, karena lambatnya hasil laboratorium.

Kita bisa belajar bagaimana Korea Selatan menangani penyebaran virus Corona. Dalam 17 hari negara itu bahkan mampu merancang dan mewujudkan tes virus corona serta mendirikan jaringan laboratorium di seluruh wilayah.

Mengutip dari BBC, “tidak ada kasus kekurangan alat uji di Korsel. Empat perusahaan mendapat izin pemerintah untuk membuatnya. Dengan demikian, Korsel kini punya kemampuan menguji 140.000 sampel setiap pekan.”

Sebuah angka yang cukup fantastis, sekaligus menggambarkan bagaimana kesiapan mereka dalam mengantisipasi mewabahnya Covid-19. Jadi perlu dipikirkan, tak sekadar menambah daftar rumah sakit rujukan, tapi perlu juga ditambah laobratorium medis di seluruh Indonesia.

Memang, masih banyak yang harus diperbaiki termasuk koordinasi antarlembaga, dan tentunya memperbaiki perilaku masyarakat untuk tidak keluar rumah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved