Jendela

Perjuangan Melawan Bosan

GARA-GARA Covid-19, kita harus tinggal di rumah, tidak kemana-mana, selama berhari-hari hingga bosan. Bosan lahir dari keadaan yang monoton

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - GARA-GARA Covid-19, kita harus tinggal di rumah, tidak kemana-mana, selama berhari-hari hingga bosan. Bosan lahir dari keadaan yang monoton, tidak bervariasi dan tidak menantang. Bosan muncul karena kita tidak atau belum terbiasa dengan keadaan yang dihadapi. Bosan membuat waktu berlalu terasa amat lamban. Menurut Arthur Schopenhauer, kebosanan adalah separuh dari perusak kebahagiaan.

Setiap orang tentu pernah merasa bosan, termasuk saya. Hari-hari pertama saya di pesantren adalah hari-hari yang membosankan. Segala yang dirasakan dan dialami berbeda jauh dengan yang pernah dialami di rumah. Jauh dari keluarga, teman dan tetangga. Makan-minum sederhana, mencuci pakaian sendiri, kegiatan padat dengan disiplin ketat, dan terkurung di suatu kawasan laksana di ‘penjara’.

Tak mengherankan jika banyak anak yang tidak tahan berlama-lama di pesantren. Ada yang baru seminggu, sudah menyerah pulang. Ada yang tiap hari menangis, kangen orangtua, atau sebaliknya, orangtua yang tak tahan berpisah anaknya. Apalagi pesantren punya tata nilai budaya sendiri yang seringkali berbeda dengan budaya masyarakat luar. Seperti kata Gus Dur, pesantren adalah subkultur.

Anak yang bisa melewati hari-hari membosankan di pesantren adalah anak yang mampu beradaptasi. Beradaptasi tidak sekadar menyesuaikan diri, tetapi menerima kenyataan sebagaimana adanya, baik-buruknya, kurang-lebihnya sambil memahami dan merasakan keindahannya. Proses adaptasi bervariasi bagi tiap-tiap orang. Bisa sulit, sangat sulit, mudah, sangat mudah, lambat, cepat atau sangat cepat.

Selain kemampuan beradaptasi, kebosanan bisa dihalau dengan kreativitas menggunakan waktu dan sumberdaya. Orang yang bosan adalah orang yang bingung menghabiskan waktu, sekadar ingin berlalu. Istilah Inggrisnya, killing time, membunuh waktu. Sebaliknya, orang yang berhasil melawan bosan adalah orang yang mampu memanfaatkan waktu dan sumberdaya yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

Contoh terbaik melawan bosan adalah kegiatan para napi di penjara. Untuk menghalau sepi dan jemu, mereka melakukan berbagai kegiatan yang terjadwal. Ada olahraga, bersih-bersih, beribadah hingga membaca. Bacalah sejarah orang-orang besar ketika di penjara. Bung Hatta mengajar filsafat Yunani kepada sesama napi. Bung Karno membaca dan menulis. Buya HAMKA menulis tafsir al-Azhar.

Banjarmasin Post edisi Senin (30/3/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (30/3/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Dengan demikian, rasa bosan itu justru bermanfaat jika dimaknai sebagai suatu peringatan agar manusia berpikir dan bertindak kreatif. Hal ini sama dengan ketika kita kelelahan, kita diserang kantuk sebagai peringatan agar kita beristirahat. Jika kita memaksa diri terus bekerja, kita akan sakit. Ini adalah hukum alam. Begitu pula, jika bosan datang, berarti kita harus kreatif. Jika tidak, maka kita akan menderita.

Jika dicermati lebih dalam, adaptasi dan kreativitas tidak akan tumbuh tanpa didukung oleh tata nilai tertentu sebagai fondasinya. Saya bisa beradaptasi dengan kehidupan pesantren karena bisa menerima dan menghayati apa yang dianggap bernilai dan berharga oleh pesantren. Saya menjalani berbagai kegiatan dengan sukacita karena saya yakin semua kegiatan itu berharga dan berarti bagi hidup saya.

Begitu pula ketika Anda bekerja di dan dari rumah. Apa yang Anda kerjakan ditentukan oleh nilai-nilai hidup Anda. Apakah bagi Anda kebijakan bekerja dari rumah tak lebih dari liburan, santai-santai atau tetap mengerjakan apa yang bisa dikerjakan? Apakah bekerja bagi Anda suatu panggilan hidup yang menggairahkan ataukah penderitaan yang tak bisa dihindari? Intinya, apa prioritas hidup Anda?

Jika prioritas Anda adalah tidur, makan, minum dan seks, Anda akan cepat puas dan cepat bosan. Jika prioritas Anda adalah kekuasaan, kekayaan dan ketenaran, Anda juga mudah dikenai bosan karena semua itu terletak di luar diri Anda. Tetapi jika Anda mengutamakan ilmu, kebijaksanaan, berbuat baik dan ingat kepada Allah, Anda lebih sulit diserang bosan karena semua itu berada dalam batin Anda.

Alhasil, melawan bosan itu perjuangan, dan cara kita melawan kebosanan mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved