Jendela

Corona dan Solidaritas Era Medsos

Sungguh luar biasa bahwa pemerintah menyediakan Rp 405,1 triliun untuk menghadapi krisis Covid-19.

Editor: Didik Triomarsidi
UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Editor: Didik Triomarsidi

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sungguh luar biasa bahwa pemerintah menyediakan Rp 405,1 triliun untuk menghadapi krisis Covid-19. Seorang kawan berseloroh, sepertinya negara kita bergeser dari ekonomi neo-liberal kepada sosialis. Negara tampak peduli kepada rakyat banyak ketimbang melindungi elit pengusaha-penguasa. Tetapi menurut saya, langkah ini memang niscaya, untuk menyelamatkan semuanya, seluruh bangsa.

Konon, orang lapar itu bisa bikin revolusi. Perut lapar tidak bisa menunggu terlalu lama. Jika kebanyakan orang hidupnya setiap hari tergantung pada penghasilan hari sebelumnya, apa yang akan terjadi ketika mereka tidak bisa mengais rezeki untuk sesuap nasi? Bukankah masuk akal akan terjadi penjarahan dan rebutan bahan makanan? Apalagi jika jumlahnya jutaan, siapakah yang dapat mengendalikan mereka?

Bagaimana dengan lapisan masyarakat yang sedikit lebih makmur, tetapi akibat krisis ini mengalami penurunan kesejahteraan? Banyak kajian ilmiah menunjukkan, justru kalangan ini yang cenderung paling rentan menimbulkan gejolak sosial. Orang yang terbiasa hidup susah lebih bisa menerima keadaan yang lebih susah ketimbang yang sudah mulai terbiasa enak. Yang protes paling keras biasanya yang terakhir.

Jika terjadi gejolak sosial yang dahsyat, maka yang menanggung akibatnya adalah semua anak bangsa, termasuk kaum elit penguasa-pengusaha yang kaya raya. Perusahaan tidak akan jalan. Investasi akan redup. Roda ekonomi tidak hanya melamban, bahkan bisa berputar mundur negatif. Inilah hukum sosial, hukum sejarah atau hukum keseimbangan. Ketika keseimbangan goyah, bangunan sosial bisa runtuh.

Di sinilah solidaritas, rasa kebersamaan kita sebagai bangsa diuji kembali. Dalam kehidupan bersama itu, kita mengimpikan kesejahteraan umum yang dinikmati bersama-sama. Namun, tak jarang ‘janji setia’ itu dikhianati oleh sebagian kita, justru ketika pundi-pundi kesejahteraan itu kita dapatkan. Sebagian dari kita memonopoli, menguasai sebanyak-banyaknya, tak peduli nasib saudara-saudara yang lain.

Di sisi lain, justru sekarang inilah saat yang paling tepat mengembalikan solidaritas itu dalam wujudnya yang asli dan tulus. Sungguh suatu hikmah kehidupan, manusia lebih mudah bersatu dalam menghadapi kesulitan ketimbang saat menerima kenikmatan. Ketika perang melawan penjajah, meskipun dalam segala keterbatasan, kita dapat bersatu padu. Kita mulai bertikai justru setelah merdeka itu diraih.

Banjarmasin Post edisi Senin (6/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Senin (6/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Namun, tantangan yang kita hadapi saat ini jauh lebih berat. Kita hidup pada era media sosial, yang alih-alih memperkuat solidaritas sosial, malah seringkali memupuk egoisme dan narsisme akut. Setiap orang merasa bebas bersuara, menulis dan membagi apa saja seturut emosinya. Kebenaran menjadi subjektif. Benar-salah ditentukan oleh selera belaka, bukan fakta dan logika. Akibatnya, solidaritas menjadi rapuh.

Apalagi, demi mencegah penyebaran Covid-19, masyarakat dianjurkan bekerja dari rumah. Akibatnya, penggunaan internet melalui media elektronik seperti ponsel dan laptop semakin banyak. Kita lebih banyak berinteraksi melalui dunia maya, dunia citra-citra, yang tidak sepenuhnya sama dengan dunia nyata. Kita galau akibat tsunami informasi yang simpang siur. Kita mabuk akibat candu media sosial.

Dalam konteks inilah, kita perlu kembali merenungkan makna kebebasan. Apakah bebas berarti kita bisa berkomentar semaunya di media sosial, mengkritik tanpa memahami masalah sambil menebar ujaran kebencian? Apakah niat sebenarnya komentar kita adalah kebaikan bersama atau pencitraan diri saja? Apakah kita sudah merasa berbuat hanya dengan komentar dan foto-foto yang kita bagi di media sosial?

Krisis Covid-19 rupanya tengah menguji kedewasaan kita. Meminjam teori Mark Manson (2019) dalam Everything is Fuck, jika kita hanya ingin enaknya, mau menang sendiri, maka berarti kita masih kekanak-kanakan. Jika kita masih berpikir ala pedagang, aku dapat apa, kau dapat apa, maka kita masih remaja. Tetapi jika kita berbuat kebaikan semata karena perbuatan itu baik, maka kita sudah menjadi dewasa.

Sungguhpun sebagian kita masih kekanak-kanakan atau bermental remaja, banyak pula yang sudah dewasa. Ada para dokter dan perawat yang rajin bekerja meskipun mempertaruhkan nyawa. Ada para pemegang kebijakan, yang berpikir dan berunding siang-malam, untuk mencari keputusan terbaik untuk rakyat. Ada pribadi dan organisasi sosial yang aktif membantu kaum yang lemah. Dan masih banyak lagi.

Alhasil, keberhasilan kita melewati krisis ini tergantung pada kemampuan kita merajut kebersamaan di tengah badai pemujaan diri dan kepalsuan era media sosial. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved