Opini Publik

Perayaan Paskah dan Pandemi Corona

Istilah keren bagi virus itu adalah SARS-CoV-2 (Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus 2). Sedangkan penyakitnya bernama Covid-19

Editor: Didik Triomarsidi
Polsek Pelaihari
Ilustrasi: Polsek Pelaihari lakukan pengamanan paskah di gereja sumber mulya 

Editor: Didik Triomarsidi

Oleh: RD Antonius Bambang Doso Susanto, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - AKHIR-akhir ini kata dan subyek yang paling sering dibicarakan orang banyak adalah virus Corona. Istilah keren bagi virus itu adalah SARS-CoV-2 (Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus 2). Sedangkan penyakitnya bernama Covid-19 (Coronavirus disease 2019).

Virus ini berhasil memorakporandakan apapun dan siapapun. Virus ini bukan hanya membuat para dokter dan tenaga medis berjuang mati-matian agar bisa menyembuhkan mereka yang terjangkit, juga mengingatkan masyarakat luas untuk melindungi diri dan sesama dari serangan virus ini. Apapun sendi kehidupan, terdampak virus ini. Termasuk kehidupan beragama.

Pura, masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya untuk sementara waktu tidak mengadakan ibadah secara berjamaah. Semua diimbau untuk mengikuti peribadahan dari rumah. Pelayanan ibadah memanfaatkan jaringan internet, melalui media sosial atau platform lain. Tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah.

Termasuk umat Katolik, yang harus melakukan peribadatan di rumah selama masa Pekan Suci. Yakni rangkaian perayaan Hari Raya Paskah, yang diawali perayaan Minggu Palma, kemudian Tri Hari Suci yang terdiri dari perayaan Hari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Puncaknya, perayaan Hari Minggu Paskah.

Pada perayaan Hari Minggu Palma, orang-orang Katolik mengenangkan dan merayakan Yesus Kristus yang memasuki kota Yerusalem. Dilanjutkan Perayaan Hari Kamis Putih, untuk mengenang dan merayakan perjamuan malam terakhir. Kemudian, perayaan Jumat Agung, yang merupakan upacara mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus. Untuk menebus dosa manusia, Yesus memberikan nyawaNya dengan wafat di kayu salib.

Berikutnya, perayaan Sabtu Suci, ditandai vigilia Paskah atau malam berjaga bagi Tuhan. Perayaan ini ditandai pemberkatan lilin Paskahh. Malam itu, seluruh umat katolik mengenang peristiwa penantian Kebangkitan Tuhan.

Banjarmasin Post edisi Sabtu (11/4/2020).
Banjarmasin Post edisi Sabtu (11/4/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Puncaknya adalah Hari Raya Minggu Paskahh, yang tahun ini bertepatan 12 April 2020. Seluruh rangkaian persiapan, mulai Masa Prapaka, Pekan Suci, dan Trihari Suci berpuncak pada perayaan Paskahh. Perayaan ini mengenangkan dan merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian.

Hikmah Paskah

Selama ini, seluruh peribadatan orang Katolik dalam rangka Paskah dilaksanakan di gereja. Uskup atau imam, bertindak sebagai pemimpin upacara dan peribadatan diikuti oleh umat. Dalam perayaan-perayaan itu, selain doa bersama dan bermadah bersama, sabda Tuhan diwartakan dan direnungkan.

Dalam perayaan-perayaan itu, imam dan umat juga menerima Komuni. Artinya mereka menerima Sakramen Mahakudus atau Komuni Kudus yang memersatukan mereka dengan Tuhan dan memersatukan mereka satu sama lain.

Namun, di saat pandemik virus corona ini, pemerintah mengharapkan dukungan semua pihak untuk bisa memerangi dan memutus penyebarannya. Pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak orang untuk sementara ditiadakan. Gereja Katolik Keuskupan Banjarmasin yang meliputi seluruh wilayah Kalimantan Selatan menyambut dan mendukung seruan itu. Mulai 23 Maret 2020, peribadatan bersama umat ditiadakan. Seluruh peribadatan kemudian disiarkan secara live streaming dan melalui televisi serta radio. Umat mengikutinya secara aktif dari rumah.

Tidak mudah untuk mengubah kebiasaan, tradisi dan mindset hidup seseorang. Apalagi berkaitan dengan tata aturan dan hukum dari institusi yang dianutnya. Belum lagi faktor bagaimana seseorang menghayati imannya. Dalam gereja Katolik pun demikian. Ada banyak tradisi, aturan dan pedoman-pedoman pelaksanaan perayaan dan peribadatan.

Bagi orang Katolik, teladan Yesus dalam pekan suci ini bisa menjadi inspirasi sikap iman dalam menghadapi Covid 19 ini. Dalam perayaan Minggu Palma, Yesus mengajarkan sikap taat dan rendah hati. Artinya, kita mesti taat terhadap imbauan pemerintah untuk tinggal di rumah, untuk menjaga social distancing. Dan bukan menganggap remeh imbauan dan penyebaran virus.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved