Jendela

Suara Hati Tenaga Medis

Seorang dokter muda mengemukakan pertanyaan lain. Mengapa masyarakat masih banyak yang tidak mau mentaati anjuran pemerintah

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Editor : Didik Trio Marsidi

Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “SAYA sudah empat bulan tidak pulang ke rumah. Saya kan punya kewajiban pada suami, lahir dan batin. Bagaimana pandangan agama terhadap masalah ini?” tanya seorang ibu, tenaga medis yang bertugas di RSUD Ulin Banjarmasin kepada saya dalam diskusi daring menjelang buka puasa Sabtu, 16 Mei 2020 lalu.

Seorang dokter muda mengemukakan pertanyaan lain. “Mengapa masyarakat masih banyak yang tidak mau mentaati anjuran pemerintah agar menjaga jarak dan menghindari kerumunan, termasuk ibadah berjemaah? Bukankah para ulama sudah melarang? Jika masyarakat terus bandel sehingga nanti yang terkena Covid-19 ini berlipat-lipat, bagaimana jika kami akhirnya tak sanggup lagi menolong mereka?”

Saya sungguh terharu menyimak pertanyaan-pertanyaan itu. Di situ jelas tercermin pengorbanan yang tidak kecil, mengalahkan kepentingan pribadi demi kesehatan dan keselamatan orang lain. Siapa yang tidak sedih berpisah dengan suami dan anak-anak selama empat bulan, padahal rumahnya berada di kota yang sama? Siapa yang tidak melankolis jika terpaksa tidak bersama keluarga di bulan puasa?

Saya tiba-tiba merasa kerdil, tak ada apa-apanya dibanding para tenaga medis yang berjihad menolong sesama itu. “Kewajiban suami-isteri bisa saja tidak dipenuhi asalkan rela sama rela. Alqur’an memuji orang-orang yang mengutamakan kepentingan orang lain mengalahkan kepentingan diri sendiri. Ibu dan tenaga medis lainnya, termasuk keluarga mereka, adalah orang-orang yang mulia,” kataku sekenanya.

Sampai kapan mereka terus berkorban? Entahlah. Akhir pekan lalu, jumlah orang yang positif Covid-19 per-hari di Kalsel meningkat tajam. Jumat bertambah 34 orang, dan Sabtu, 47 orang. Kemudian, tes cepat yang dilaksanaan Sabtu lalu di enam pasar Kota Banjarmasin: Pasar Lima, Pasar Binjai, Pasar Lama, Pasar Sudimampir, Pasar Pekauman dan Pasar Lokasi, dari 1.361 orang yang dites, 129 orang reaktif.

Pemerintah daerah memang tidak berhenti berupaya untuk mencegah penularan Covid-19 lebih luas. Setelah Banjarmasin, sejak Sabtu lalu tiga daerah lainnya yaitu Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala juga melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pergerakan orang antar kota dibatasi dan dikontrol. Perdagangan juga dibatasi. Protokol kesehatan wajib diikuti.

Banjarmasin Post edisi Senin 18 Mei 2020
Banjarmasin Post edisi Senin 18 Mei 2020 (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Kita belum bisa menilai seberapa efektif PSBB empat kabupaten/kota itu. Yang sudah kita ketahui adalah ketika Banjarmasin melaksanakan PSBB sejak awal Ramadan lalu, masyarakat dan aparat belum bisa melaksanakannya dengan baik. Yang kita khawatir, ke depan masyarakat tetap susah diatur. Apalagi jika aparat kemudian terbawa-bawa situasi. Lebih ngeri lagi jika tenaga kesehatan akhirnya angkat tangan!

Semoga saja hal terburuk itu tidak pernah terjadi. Semoga masyarakat mentaati aturan, aparat berani tegas, dan pemerintah serius membantu kalangan yang terdampak. “Andai yang jelek itu terjadi, dan para tenaga kesehatan kewalahan, maka tak ada pilihan lain kecuali bekerja semampunya. Tuhan tidak membebani kita melebihi kemampuan kita. Kalau dosen memang ada yang kadang menguji mahasiswa melampaui kemampuannya,” kata saya sambil bercanda.

Menjelang akhir diskusi, dan waktu berbuka sudah dekat, moderator berkata, “Apa pesan Bapak untuk kami, yang kiranya dapat menguatkan kami?” Saya terhenti sejenak. Siapalah saya ini, memberi pesan dan nasihat pada orang-orang yang tengah berjihad, sementara saya tinggal di rumah? Namun, saling menasihati dan mengingatkan itu adalah tugas tiap orang karena tidak ada manusia yang sempurna.

“Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba itu menolong saudaranya,” kata Nabi. Hadis itulah yang saya sampaikan. “Ketika Anda menolong orang, Tuhan selalu bersama Anda. Tuhan hadir dalam pekerjaan Anda. Anda bahkan menjadi sarana penyaluran cinta kasih Tuhan kepada orang lain. Karena itu wajar jika pekerjaan Anda menghadapi banyak ujian dan godaan,” kata saya sebisanya.

Seperti banyak orang, saya sudah pernah membaca berita tentang perjuangan dan pengorbanan para dokter dan perawat selama krisis Covid-19 ini. Tetapi antara membaca berita dan berdialog itu berbeda. Ada energi kemanusiaan yang terasa mengalir melalui kata-kata yang diungkapkan dan mimik wajah yang mengatakan, meskipun hanya melalui media elektronik. Dialog adalah kenyataan, bukan impian.

Alhasil, sepenggal cerita nyata akhir pekan itu semakin menyadarkan kita bahwa krisis Covid-19 tidak akan berakhir jika kita hanya peduli pada diri sendiri. Kita harus mampu berempati, menempatkan diri kita pada posisi orang lain, lebih-lebih untuk orang-orang yang berjuang demi keselamatan kita semua. (*)

Penulis: Didik Trio
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved