Jendela

Karaktermu adalah Nasibmu

PADA 1989, saya pernah mengalami sakit yang serius sehingga harus diopname di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - PADA 1989, saya pernah mengalami sakit yang serius sehingga harus diopname di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Saat itu saya baru berusia 17,5 tahun. Seorang dokter menasihati.

“Jika kamu nanti keluar rumah sakit, jagalah kesehatan. Caranya gampang. Perhatikan tiga hal: makan, tidur dan buang air besar. Makan dan tidur harus cukup dan teratur. Buang air besar juga teratur.”

Nasihat dokter itu sangat saya ingat, dan saya berusaha mengamalkannya. Namun tak jarang, saya tidak bisa mengikutinya. Kadang saya makan tidak teratur sehingga buang air tidak teratur pula. Kadang saya terpaksa begadang, sehingga badan jadi lesu dan kegiatan di siang hari terganggu. Akibatnya sudah bisa ditebak. Kesehatan saya terganggu. Paling kurang, kepala saya terasa pening, kena demam atau flu.

Keteraturan lahir dari kebiasaan. Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah setelah terbiasa. Menurut Thomas Lickona, berawal dari pikiran (tentang apa yang baik dan buruk), lahirlah ucapan dan tindakan, lalu menjadi kebiasaan, dan kemudian menjadi karakter. Teori ini sejalan dengan pandangan al-Ghazali tentang akhlak sebagai sesuatu yang tertanam dalam hati yang darinya lahir perilaku dengan mudah.

Namun hidup tidak selalu teratur. Kadang ada kejutan mendadak. Bagaimana kita tidak begadang ketika keluarga kita harus diantar ke rumah sakit tengah malam? Bagaimana kita makan teratur ketika berada dalam perjalanan melewati kawasan hutan tanpa penduduk dan tanpa restoran? Kita tentu ingin selalu makan makanan halal dan bergizi. Kadang makanan itu ada tapi uang kita tak cukup, atau sebaliknya.

Masalah akan menjadi lebih serius ketika perubahan mendadak yang mengganggu kebiasaan itu akan berlangsung lama. Misalnya, orangtua yang membiayai kita tiba-tiba meninggal. Otomatis kemampuan ekonomi kita akan menurun. Kita harus mengubah kebiasaan lama, menyesuaikan diri dengan keadaan baru yang berubah. Jelas hal ini tidak mudah, tetapi kita tak punya pilihan lain. Kita harus berubah.

Masalah makin berat lagi ketika perubahan itu tidak bersifat pribadi melainkan kolektif, bukan hanya bagi satu masyarakat tetapi bagi seluruh manusia di muka bumi. Kata Slavoj Žižek, Covid-19 tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan, ekonomi dan psikologis, tetapi mengubah tatanan dunia. Kita tidak akan bisa lagi kembali ke kebiasaan lama. Kita harus membangun normal baru dari reruntuhan yang lama.

Sejak awal saya terkesan pada ramalan Žižek itu. Ketika dunia mulai melonggarkan pembatasan sosial agar roda ekonomi kembali berputar cepat, tampaklah orang-orang berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan. Keluar rumah memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun dan mencuci tangan dengan sabun. Ada pengecekan suhu badan. Bagi pekerja kantoran, ada giliran masuk kantor pula.

Namun ada pula yang tidak mau berubah mengikuti protokol kesehatan. Entah karena dia tidak percaya akan bahaya, tidak peduli atau sudah bosan. Di berbagai ruang publik seperti jalan dan pasar, masih ada yang perilakunya tetap seperti dulu. Godaan untuk kembali kepada kebiasaan lama itu memang berat. Apalagi belum ada sanksi tegas terhadap orang-orang yang tidak patuh pada protokol kesehatan.

Kalau kita mengikuti teori pembentukan karakter, maka saat transisi ini adalah masa ketika perilaku baru dibiasakan agar kelak menjadi karakter atau akhlak masyarakat. Proses ini bisa berlangsung lancar, bisa pula tersendat. Ada yang berhasil, adapula yang gagal. Kita tentu berharap, bangsa kita akan berhasil menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Jika tidak, maka kita semua akan menanggung akibatnya.

Sebenarnya, akar masalahnya bukan terletak pada kemampuan menyesuaikan diri saja, melainkan juga pada nilai etis yang kita pegang. Apakah kita orang yang berdisiplin? Disiplin mengandaikan kesadaran tentang baik-buruk suatu perilaku dan kemampuan mengendalikan diri. Hal ini berlaku baik pada tataran pribadi ataupun masyarakat. Apakah selama ini masyarakat kita kebanyakan berdisiplin ataukah tidak?

Alhasil, sebagaimana kesehatan diri pribadi kita tergantung pada kebiasaan yang menjadi karakter kita, begitupula dengan kesehatan masyarakat. “Karaktermu adalah nasibmu,” kata orang bijak. Nasib suatu bangsa tergantung pada akhlak bangsa itu sendiri. Pernyataan ini bukan retorika dalam pidato. Krisis Covid-19 sedang membuktikan kebenarannya di panggung sejarah! (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved