Jendela

Mengenang RCTI Oke Acil Ida

Seorang ibu paruh baya, berbaju putih dan berkerudung terlihat menata buah-buahan dan sayuran di sebuah sampan yang mengapung di sungai,

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang ibu paruh baya, berbaju putih dan berkerudung terlihat menata buah-buahan dan sayuran di sebuah sampan yang mengapung di sungai, dikelilingi sampan-sampan lainnya. Sejurus kemudian, si ibu tersenyum sambil mengacungkan jempol. Adegan ikonik ini dulu tampil tiap hari di televisi swasta, RCTI.

Ibu itu adalah Hj. Noor Farida, akrab dipanggil ‘Acil Ida’, seorang pedagang di Pasar Terapung, Kuin, Banjarmasin. Pada Desember 1994, saat mengapung di atas sampan, dia diminta oleh beberapa orang ‘tak dikenal’ untuk berakting. Setelah itu, dia dikasih Rp 40 ribu (mungkin setara Rp 400 ribu sekarang). Uang itu kemudian dia belikan sajadah dan sarung, dan sisanya untuk anak-anak dan cucunya.

Adegan Acil Ida itu kemudian ditampilkan RCTI mulai 1995. Menurut pengakuan Acil Ida kepada Didi G. Sanusi, wartawan media lokal, tahun itu dia masih belum punya televisi sehingga hanya bisa melihat tayangannya di rumah tetangga. Pada 1996, baru dia bisa memiliki televisi. Saya tak bisa membayangkan betapa gembira dan bangga Acil Ida melihat dirinya seringkali tampil tersenyum di televisi nasional.

Acil Ida memang orang biasa, bukan artis yang minta bayaran mahal berdasarkan kontrak resmi. Namun, menurut Didi G. Sanusi, pada 2002, Acil Ida akhirnya diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari RCTI. Acil Ida pun bisa bertemu idolanya, tokoh sinetron Si Doel, Rano Karno, dan salat di Masjid Istiqlal. Tetapi konon janji RCTI untuk memberi beasiswa kepada anak-anaknya tinggal janji belaka.

Kamis, 25 Juni 2020 lalu, Acil Ida wafat di usia 66 tahun, meninggalkan 8 anak dan 16 cucu. Dua minggu terakhir, dia memang sakit, dan seminggu sebelumnya telah memanggil semua anaknya. Ia berpesan agar anak-anaknya tetap rukun. Ia dikuburkan di samping makam suaminya yang wafat 4 tahun lalu. Acil Ida dikenang orang sekampungnya sebagai sosok yang suka menolong dan penyayang pada anak-anak.

Seperti banyak orang, saya tidak pernah bersua langsung dengan Acil Ida, dan semua informasi di atas saya himpun dari laporan media saja. Namun, informasi tersebut kiranya cukup menggambarkan Acil Ida sebagai perempuan Banjar yang sederhana, yang mewakili masyarakat kebanyakan di akar rumput. Ia berhasil menjadi ikon pasar terapung melalui perjumpaannya dengan industri televisi swasta nasional.

Sosok Acil Ida adalah perempuan Banjar yang turut serta mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Sebagai orang Banjar tepi sungai, di subuh yang masih gelap dan dingin, dia mendayung sampan yang berisi aneka buah dan sayur untuk dijual di pasar terapung. Tentu banyak perempuan lain seperti Acil Ida. Hampir semua yang berjualan mendayung sampan di pasar terapung adalah perempuan.

Acil Ida adalah tipikal perempuan yang taat beragama. Seperti tampak dalam tayangan RCTI itu, Acil Ida memakai kerudung dan baju lengan panjang yang umum dipakai muslimah generasinya. Ketika Acil Ida mendapatkan uang lebih, ia memilih membeli sajadah dan sarung, yang kiranya digunakan untuk salat. Ketika pergi ke Jakarta, impiannya selain bertemu Rano Karno adalah salat di Masjid Istiqlal.

Bagaimanakah perempuan Banjar sekarang? Kini kerudung sudah banyak diganti jilbab. Namun citra ideal perempuan Banjar yang taat beragama sekaligus rajin bekerja tetap bertahan. Seperti kaum pria, kaum perempuan Banjar juga berdagang, bertani, berkebun dan bekerja kantoran. Karena itu, ajaran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tentang harta bersama suami-isteri sampai sekarang masih diikuti.

Selain itu, pasar terapung yang semula berfungsi sebagai tempat jual beli barang dan jasa, semakin hari semakin berubah menjadi tempat pariwisata belaka. Mungkin ini sebuah ironi. Berkat senyum dan jempol Acil Ida di RCTI, pasar terapung Banjarmasin makin dikenal orang. Makin banyak orang luar datang berkunjung untuk berwisata, melihat-lihat dan berfoto. Adapun berbelanja, sekadarnya saja.

Kisah Acil Ida juga menunjukkan kesenjangan ekonomi dan pergeseran media. Masih banyak perempuan Banjar yang bernasib seperti Acil Ida, namun ada pula yang lebih beruntung secara ekonomi. Pada 1990-an, industri televisi swasta tengah naik daun. Sekarang, televisi harus bersaing dengan Youtube dan media sosial lainnya. Mungkin, jika ada Acil Ida baru, dia akan lahir dari media sosial, bukan dari televisi.

Alhasil, sekelumit kisah hidup Acil Ida tampak menghadirkan kepada kita kesederhanaan, kerja keras dan kesalehan perempuan di tengah kesenjangan ekonomi dan kapitalisme media. (edisi cetak)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved