Breaking News:

Jendela

Webinar dan Budaya Santri

DULU ada yang bilang, kalau orang Amerika bisa sampai ke bulan dengan pesawat luar angkasa, orang Indonesia cukup dengan menumpuk makalah seminar

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - DULU ada yang bilang, kalau orang Amerika bisa sampai ke bulan dengan pesawat luar angkasa, orang Indonesia cukup dengan menumpuk makalah seminar. Maksudnya, kita ini pandai omong doang. Tak ada tindakan. Sebagai ‘tukang seminar’, saya turut tersinggung dengan sentilan ini. Soalnya, bagi saya menjadi pembicara publik yang baik bukanlah perkara mudah. Ada proses panjang yang harus dilalui.

Pada 1980-an, saat masih di sekolah dasar, saya kadangkala menghadiri lailatul ijtima’ (secara harfiyah artinya malam berkumpul) yang diselenggarakan NU, yaitu malam pengajian di ruang terbuka. Selain pembacaan ayat suci Alqur’an, acara intinya adalah ceramah agama, yang kala itu seringkali mengkritik keras pemerintah. Biasanya, kritik bersemangat sang penceramah itu disambut tepuk tangan hadirin.

Selain lailatul ijtima’, di kampungku juga rutin dilaksanakan pengajian di Majelis Taklim Nurul Ibadah, tepat di seberang rumahku. Biasanya pengajian dilaksanakan sore atau pagi menjelang siang. Kalau di pengajian ini, jarang sekali ada kritik yang berbau politik. Isinya lebih banyak soal cara beribadah, etika beragama dan spiritualitas. Pengajian biasanya lebih intensif dilaksanakan selama bulan suci Ramadan.

Ketika belajar di pesantren, salah satu kegiatan rutin yang wajib kami ikuti adalah latihan pidato atau muhâdharah. Latihan ini tampaknya menyiapkan kami untuk menjadi pembicara publik seperti pidato di lailatul ijima’ atau ceramah di majelis taklim di atas. Saya menyukai kegiatan ini. Selain belajar dari para senior, saya suka mendengarkan kaset penceramah kondang seperti Sukron Makmun dan Zainuddin MZ.

Ketika saya kuliah di IAIN, barulah saya mengenal seminar. Saat Penataran P4, yaitu sejenis indoktrinasi politik ala Orde Baru, kami diminta membuat makalah untuk didiskusikan. Kemudian saat perkuliahan, sebagian dosen juga menggunakan metode seminar. Di luar kelas, saya juga mengikuti aneka seminar, terutama yang gratis (dapat ilmu, sertifikat hingga makan). Lama-lama, saya juga jadi panitia seminar.

Setelah sering menjadi peserta, lalu menjadi panitia, akhirnya saya menjadi pembicara. Saya diminta bicara sebagai aktivis organisasi. Kebetulan saya Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Ketua Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tentu saja acara yang saya isi sangat kecil lingkupnya. Sebenarnya, kami lebih sering diskusi informal di kelompok studi bernama ‘al-Hikmah’.
Ketika saya mengikuti Program Pembibitan Dosen di Jakarta, saya baru mengenal seminar internasional yang menggunakan bahasa Inggris. Saya sungguh bahagia kala itu bisa bertemu langsung dengan tokoh-tokoh luar negeri seperti Mohammad Arkoun, Hassan Hanafi, Bassam Tibi, Greg Barton dan lain-lain. Meskipun bahasa Inggris saya pas-pasan, saya bangga bisa menjadi peserta seminar internasional itu.

Ketika saya kuliah S-2 di McGill University, Kanada, banyak kelas yang saya ikuti juga berupa seminar. Pengalaman selama di Indonesia ternyata sangat berguna bagi saya, meskipun kali ini harus menulis makalah dan berbicara dalam bahasa Inggris. Pada saat itu pula saya pertama kali mengenal konferensi. Kala itu saya sempat mengikuti dua konferensi di Montreal, dan satu di Washington DC, Amerika Serikat.

Saya pulang ke Indonesia pada 2000, kemudian pada 2001 berangkat lagi ke Belanda melanjutkan S-3 di Utrecht University. Kegiatan saya di Belanda tidak jauh berbeda dengan yang di Kanada, yaitu seminar dan konferensi. Saya mengikuti konferensi di Perancis, Spanyol, Australia dan Singapura. Saya menikmati semua ini. Apalagi biaya perjalanan saya diganti oleh pemberi beasiswa atau oleh panitia konferensi.

Setelah doktor, selain mengajar, kegiatan saya juga sama: menjadi narasumber di berbagai seminar dan konferensi, di dalam dan luar negeri. Saya kadang juga diminta mengisi ceramah agama di langgar, masjid atau kantor. Sebagian kawan akademisi memang enggan mengisi ceramah karena dianggap tidak ilmiah. Bagi saya, ceramah di masyarakat itu justru bentuk pengabdian yang menyentuh akar rumput.
Orang mungkin bertanya, berapa honornya? Kalau di lembaga pemerintahan, ada standar honor yang baku. Namun pada umumnya, honor itu terserah yang mengundang. Kadang lumayan, kadang hanya cukup ongkos bensin. Tak jarang pula hanya ucapan terima kasih. Kalau panitianya mahasiswa, gratis itu sudah biasa. Tetapi kadangkala, lembaga pemerintah atau semi-pemerintah juga ‘tega’ gratisan.

Ketika pandemi Covid-19 melanda, acara ngumpul-ngumpul dilarang. Ceramah, seminar dan konferensi dengan sendirinya ditiadakan. Tetapi orang Indonesia memang suka ceramah dan diceramahi, seminar dan diseminari. Muncullah pengajian dan seminar daring yang disebut webinar. Saya pun akhirnya ikut mengisi berbagai pengajian dan webinar itu. Pesertanya bisa dari mana saja, lokal hingga internasional.

Tentu ada banyak keterbatasan. Peserta dan pembicara harus memiliki ponsel atau laptop serta jaringan internet dengan kuota yang cukup. Ini sebabnya, pengajian dan seminar daring sulit menyentuh warga miskin. Interaksi juga terbatas. Tepuk tangan spontan hampir tak ada, meskipun berbagi humor masih bisa. Honornya bagaimana? Sama saja. Ada yang lumayan, ada yang sedikit, dan ada juga yang gratisan.

Demikianlah pengalaman saya, yang bagi banyak santri-akademisi tidaklah unik. Saya pun bertanya-tanya, andai ceramah dan seminar itu tak berguna, akankah ada pengajian daring dan webinar di masa Covid-19 ini? (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved